GalaPos ID, Yogyakarta.
Pengalaman magang selama empat bulan di Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI Yogyakarta menjadi kesempatan bagi Hatri Sahara, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Garut, untuk mengenal lebih dekat dunia jurnalistik televisi, khususnya dalam produksi berita berbahasa Jawa melalui program Yogyawarta.
"Di zaman berita serba cepat dan judul serba heboh, TVRI Yogyakarta masih merawat bahasa Jawa lewat Yogyawarta. Sebab, menjadi modern tidak harus kehilangan tradisi—dan berbicara halus bukan berarti kritik terhadap kenyataan harus ikut dihaluskan."
Baca juga:
- Viral! Operator SPBU Bali Protes ke Wayan Koster saat Diminta Buka 24 Jam
- Hilirisasi Pala Jadi Sorotan Mendes Yandri di TEI 2026
- Mendagri Dorong Diskominfo Lebih Profesional dan Responsif
Gala Poin:
1. TVRI Yogyakarta melestarikan bahasa Jawa melalui jurnalistik publik. Program Yogyawarta menggunakan bahasa daerah untuk menyampaikan informasi aktual, tidak terbatas pada kesenian dan tradisi.
2. Menjaga bahasa harus tetap mengutamakan keterpahaman dan akurasi. Pemilihan ragam Krama Inggil, penyesuaian istilah modern, dan penerjemahan naskah perlu menjaga makna serta substansi informasi.
3. Jurnalis dituntut adaptif dan profesional. Presenter dan tim redaksi harus siap menghadapi kendala teknis, perubahan naskah mendadak, serta keberagaman kemampuan bahasa narasumber.
Hatri menjalani magang di divisi berita TVRI Yogyakarta mulai 15 Juli hingga 15 November. Pengalaman tersebut memperkenalkannya pada tantangan penyajian berita yang tidak hanya menuntut ketepatan informasi, tetapi juga pemahaman terhadap penggunaan bahasa daerah dalam praktik jurnalistik.
Program Yogyawarta, yang tayang setiap hari pukul 14.00–14.30 WIB, menjadi salah satu contoh penerapan jurnalistik berbahasa Jawa di media penyiaran publik. Penyusunan berita dalam bahasa daerah membutuhkan ketelitian agar informasi tetap aktual, jelas, dan mudah dipahami, sekaligus memperhatikan tata krama berbahasa Jawa.
Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi, pengalaman di lingkungan redaksi televisi memberikan gambaran tentang pentingnya ketepatan bahasa dan penyampaian informasi kepada publik. Praktik jurnalistik juga memperlihatkan bahwa produksi berita berbahasa daerah bukan sekadar menerjemahkan berita, melainkan menyesuaikan pesan agar tetap sesuai dengan karakter bahasa dan budaya masyarakat.
Pengalaman magang Hatri di TVRI Yogyakarta sekaligus menyoroti keterkaitan antara pembelajaran Ilmu Komunikasi dan praktik jurnalistik di lapangan. Keberadaan program Yogyawarta memperlihatkan bahwa media penyiaran memiliki ruang untuk menyampaikan informasi publik sekaligus menjaga keberlangsungan bahasa daerah.
Baca juga:
BBM Langka di Bali, Yoyok Riyo Sudibyo Desak Pertamina Buka Data
Yogyawarta dan Tantangan Menjangkau Masyarakat yang Beragam
Yogyakarta dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa, dengan Keraton sebagai salah satu poros tradisinya. Dalam konteks tersebut, keberadaan Yogyawarta menunjukkan bagaimana bahasa daerah tetap dapat digunakan untuk menyampaikan berita sehari-hari, bukan hanya informasi mengenai upacara adat, kesenian tradisional, atau kehidupan pertanian.
Dalam wawancara di ruang redaksi pada 3 Oktober 2026, Hendry Saputra, Editor in Chief (EIC), penulis naskah, sekaligus presenter program Yogyawarta, menjelaskan alasan pentingnya penggunaan bahasa Jawa dalam siaran TVRI Yogyakarta.
"Pesan pentingnya adalah karena kita mengingat predikat TVRI Yogyakarta berada di Yogyakarta, dan Yogyakarta punya Keraton, di mana Keraton itu adalah pusatnya budaya Jawa. Maka dari itu sebagai TV publik, TVRI punya kewajiban untuk ikut nguri-uri budaya Jawa, salah satunya adalah bahasa," ujar Hendry Saputra, saat diwawancarai, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Meski demikian, pelestarian bahasa daerah di televisi tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan audiens yang terus berubah. Masyarakat Yogyakarta tidak hanya terdiri atas warga lokal, tetapi juga mahasiswa, pekerja, dan pendatang dari berbagai daerah di Indonesia. Keragaman ini menuntut redaksi untuk mempertimbangkan tingkat pemahaman pemirsa terhadap bahasa Jawa yang digunakan dalam siaran.
Hendry menjelaskan bahwa penyusunan berita perlu mempertimbangkan dua orientasi komunikasi massa, yakni memenuhi apa yang diinginkan publik (what the audience wants) sekaligus menyampaikan apa yang dibutuhkan publik (what the audience needs).
Karena itu, cakupan berita Yogyawarta tidak berhenti pada isu tradisional. Redaksi juga mengangkat persoalan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kelompok penyandang disabilitas, informasi kesehatan seperti penyebaran Influenza Tipe A, hingga perubahan nomenklatur transportasi publik, termasuk Kereta Api Bandara YIA.
Perluasan topik tersebut menunjukkan bahwa bahasa Jawa dapat digunakan untuk membahas persoalan kontemporer yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Bahasa daerah tidak harus ditempatkan hanya sebagai simbol tradisi, tetapi juga dapat menjadi sarana penyampaian informasi publik yang aktual.
Tantangan muncul ketika wartawan harus memperoleh pernyataan langsung dari narasumber di lapangan. Tidak semua pejabat maupun warga terbiasa berbicara bahasa Jawa di depan kamera. Sebagian narasumber, baik dari kalangan muda maupun senior, merasa ragu ketika diminta menyampaikan pernyataan dalam bahasa tersebut.
Hendry menjelaskan bahwa redaksi tetap mengutamakan keterpahaman pesan ketika menghadapi situasi semacam itu.
"Banyak narasumber yang ragu ketika diminta memberikan statement dalam bahasa Jawa. Saya kasih masukan, tidak apa-apa yang penting pesannya tersampaikan. Kalau tidak tahu bahasa Jawanya apa, bisa menggunakan bahasa Indonesia baku, tapi bukan bahasa Ngoko, karena Ngoko itu tergolong kasar untuk konteks berita," jelas Hendry.
Baca juga:
Waspada Tiroid, Penyakit yang Diam-Diam Merusak Metabolisme Tubuh
Sikap tersebut memperlihatkan adanya upaya menyeimbangkan pelestarian bahasa dengan kebutuhan jurnalistik. Namun, bagi media publik, tantangannya tidak berhenti pada penggunaan bahasa yang dianggap santun. Informasi juga harus disampaikan secara akurat, inklusif, dan dapat dipahami oleh kelompok masyarakat dengan latar belakang bahasa yang berbeda.
Unggah-Ungguh Bahasa Jawa di Meja Redaksi
Salah satu aspek yang membedakan produksi berita Yogyawarta dari siaran berita berbahasa Indonesia ialah penerapan unggah-ungguh, yakni tata krama dalam penggunaan bahasa Jawa. Dalam penyusunan naskah, redaksi menggunakan ragam bahasa Jawa Krama Inggil atau ragam tutur halus sebagai standar penyiaran. Sebaliknya, ragam Ngoko tidak digunakan oleh penyiar dalam penyampaian berita di studio.
Penerapan tingkatan bahasa tersebut menunjukkan bahwa kerja jurnalistik di media berbahasa daerah tidak hanya menuntut ketepatan fakta, tetapi juga kepekaan terhadap konteks sosial dan budaya. Pemilihan kata perlu mempertimbangkan siapa yang berbicara, kepada siapa informasi disampaikan, serta situasi komunikasi yang melingkupinya.
Proses tersebut dapat dilihat melalui perbandingan naskah berita mengenai tradisi adat Becekan Dandan Kali di Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman.
Pada program Jogja Hari Ini (JHI), berita disusun dalam bahasa Indonesia sebagai berikut.
Baca juga:
KKN UIN SATU Jemput Bola, 9 Warga Difabel Nglutung Dipetakan
Naskah Indonesia (JHI):
DITENGAH PUNCAK MUSIM KEMARAU WARGA KALURAHAN KEPUHARJO/ KAPANEWON CANGKRINGAN/ KABUPATEN SLEMAN MENGGELAR TRADISI ADAT BECEKAN DANDAN KALI/// UPACARA YANG BERPUSAT DI DAM SUNGAI GENDOL INI DIISI DENGAN DOA BERSAMA AGAR SEGERA TURUN HUJAN DAN AIR KEMBALI MENGALIR LANCAR///
Ketika diolah untuk program Yogyawarta (YWT), naskah tersebut disusun kembali menggunakan bahasa Jawa.
Naskah Bahasa Jawa (Yogyawarta):
WARGA INGKANG DUMUNUNG WONTEN ING KALURAHAN KEPUHARJO/ KAPANEWON CANGKRINGAN SLEMAN NGGELAR TRADISI ADAT BECEKAN DANDAN KALI/// UPACARA INGKANG DIPUN ADANI WONTEN ING DAM LEPEN GENDOL MENIKA WARGA SAMI NDEDONGA DUMATENG GUSTI NYUWIN DUPADOS ENGGAL KAPARINGAN JAWAH//
Perbandingan kedua naskah tersebut memperlihatkan bahwa alih bahasa membutuhkan pemilihan padanan kata dan penyesuaian struktur kalimat. Kata “sungai”, misalnya, dialihkan menjadi “lepen”, sedangkan frasa “turun hujan” disesuaikan menjadi “kaparingan jawah”. Naskah bahasa Jawa itu juga memuat frasa “dumateng Gusti” dalam konteks doa bersama.
Baca juga:
Inovasi Selai Nanas, Strategi Mahasiswa KKN-T Unhas Dorong Ekonomi Lokal
Contoh tersebut menunjukkan bahwa alih bahasa dalam produksi berita bukan sekadar mengganti kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Redaksi juga perlu memperhatikan kelaziman ungkapan, konteks budaya, dan kejelasan informasi bagi pemirsa.
Meski demikian, ketepatan bahasa tetap perlu berjalan beriringan dengan ketepatan fakta. Setiap penyesuaian naskah harus mempertahankan substansi berita agar nilai budaya yang hendak disampaikan tidak mengubah makna peristiwa atau pernyataan narasumber.
Penerapan tingkatan bahasa juga memiliki konteks tersendiri ketika siaran menampilkan pernyataan langsung dari Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dalam materi pengamatan magang ini, Sultan disebut menggunakan bahasa Ngoko ketika bertutur kepada masyarakatnya. Sementara itu, penyiar atau wartawan tetap menggunakan ragam bahasa yang santun ketika mengajukan pertanyaan.
Di sisi lain, perkembangan ilmu pengetahuan, politik, dan teknologi menghadirkan tantangan baru dalam pemilihan istilah. Redaksi perlu memastikan bahwa penggunaan bahasa Jawa tidak membuat informasi modern terasa asing atau sulit dipahami.
Baca juga:
Mahasiswa KKN STIA LAN Makassar Bantu Legalitas UMKM Nanas di Desa Mattirowalie
Hendry menegaskan bahwa kejelasan pesan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan istilah yang digunakan.
"Kembali lagi ke prinsip komunikasi, yaitu menyampaikan pesan dari komunikator ke komunikannya. Jadi, kalau kita mencari bahasa yang terlalu tinggi, takutnya tidak dimengerti. Untuk istilah modern seperti gadget, kita gunakan gawai atau sekalian handphone. Istilah politik sengaja tidak diterjemahkan karena berasal dari bahasa asing dan sudah umum. Redaksi tidak memaksakan semua kata diubah ke bahasa Jawa, yang utama adalah informasinya gampang dimengerti," jelas Hendry.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pelestarian bahasa daerah tidak harus dilakukan dengan menerjemahkan setiap istilah secara kaku. Dalam jurnalistik, bahasa merupakan sarana penyampaian informasi. Karena itu, pilihan kata perlu mempertimbangkan ketepatan makna sekaligus kemampuan audiens untuk memahami pesan.
Siaran Langsung Menguji Profesionalisme Presenter
Di balik tayangan berita yang diterima pemirsa, produksi Yogyawarta juga menuntut kesiapan teknis dan kemampuan komunikasi presenter. Penyampaian berita dalam bahasa Jawa membutuhkan artikulasi yang jelas, penguasaan intonasi, serta kemampuan menjaga keseimbangan antara kesantunan tutur dan ketegasan penyampaian informasi.
Baca juga:
Eksperimen Sederhana, Strategi Mahasiswa KKN Unhas Ajarkan Fisika di Sidrap
Presenter harus membawakan berita dengan intonasi yang relatif tenang dan halus, tetapi tetap lugas serta berbobot. Penguasaan bahasa saja tidak cukup. Presenter juga perlu memahami konteks berita agar dapat menyampaikan informasi secara tepat ketika menghadapi perubahan situasi di studio.
Persiapan siaran turut mencakup penampilan visual. Presenter perempuan, misalnya, memerlukan waktu tambahan untuk penataan rias, sanggul, dan busana adat tradisional. Di samping itu, seluruh presenter harus mempelajari konteks berita sebelum siaran berlangsung.
Tuntutan profesionalisme semakin terasa ketika siaran langsung menghadapi kendala teknis atau perubahan naskah secara mendadak. Dalam wawancara tersebut, Hendry menceritakan pengalamannya menghadapi situasi ketika perangkat prompter tidak berfungsi.
"Momen paling berkesan itu ketika prompter mati dan saya harus menyampaikan berita dengan tetap tenang. Selain itu, pernah ada kasus berita mendadak dari atasan yang naskahnya masih berbahasa Indonesia. Karena berita itu sangat penting dan harus segera disampaikan, saya menerima naskah dalam bahasa Indonesia dan membacakannya secara live translation langsung ke bahasa Jawa," ungkap Hendry.
Pengalaman tersebut menggambarkan bahwa pekerjaan presenter berita tidak sebatas membaca naskah di depan kamera. Presenter juga dituntut menjaga ketenangan, memahami substansi informasi, dan beradaptasi ketika terjadi gangguan teknis atau perubahan materi secara mendadak.
Baca juga:
KKN Unhas Perkuat Pendidikan Dasar Lewat Lomba Bahasa Inggris
Namun, kemampuan menerjemahkan secara langsung tetap perlu disertai ketelitian. Dalam situasi siaran yang mendesak, kecepatan tidak boleh mengorbankan akurasi, terutama ketika berita menyangkut kepentingan publik.
Pelajaran Magang: Kedekatan Budaya Harus Berjalan Bersama Akurasi
Pengalaman magang di divisi berita TVRI Yogyakarta memberikan gambaran nyata mengenai konsep kedekatan (proximity) dalam ilmu komunikasi. Kedekatan antara media dan audiens tidak hanya ditentukan oleh jarak geografis suatu peristiwa, tetapi juga dapat dibangun melalui bahasa, identitas, serta konteks budaya yang dekat dengan kehidupan pemirsa.
Melalui Yogyawarta, bahasa Jawa digunakan untuk menyampaikan berbagai isu publik, mulai dari kegiatan masyarakat hingga informasi kesehatan dan transportasi. Hal ini memperlihatkan bahwa bahasa daerah tetap dapat menjadi medium jurnalistik yang relevan di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi informasi.
Bagi mahasiswa jurnalistik, pengalaman tersebut juga menunjukkan bahwa kerja redaksi membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menulis dan berbicara. Ketepatan informasi, pemilihan bahasa, etika komunikasi, pemahaman audiens, dan kesiapan menghadapi situasi tak terduga merupakan bagian yang saling berkaitan dalam praktik jurnalistik.
Baca juga:
Mahasiswa KKN-T Unhas Sulap Abu Sekam Padi Jadi Batu Ringan di Amparita
Sebagai lembaga penyiaran publik, TVRI Yogyakarta menghadapi tanggung jawab untuk menyampaikan informasi yang bermanfaat sekaligus memberi ruang bagi bahasa dan kebudayaan lokal. Namun, upaya pelestarian tersebut akan semakin bermakna apabila disertai keterbukaan terhadap keberagaman audiens dan konsistensi dalam menjaga akurasi berita.
Pada akhirnya, merawat tradisi melalui media bukan berarti membatasi bahasa daerah pada masa lalu. Bahasa Jawa justru dapat terus hidup ketika digunakan untuk menjelaskan persoalan hari ini, menjangkau masyarakat yang beragam, dan membantu publik memahami informasi yang memengaruhi kehidupan mereka.
Pengalaman magang ini menjadi pelajaran bagi Hatri Sahara bahwa jurnalistik dan pelestarian budaya tidak harus berjalan di jalur yang berbeda. Keduanya dapat saling menguatkan selama kepentingan publik, kejelasan pesan, dan ketepatan informasi tetap menjadi pijakan utama.
![]() |
| "Mengolah Berita, Merawat Tradisi: Cara TVRI Yogyakarta Menjaga Bahasa Jawa di Tengah Modernisasi" |
Penulis: Hatri Sahara | Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Garut
Baca juga:
Publikasi Artikel KKN Mahasiswa Indonesia
Di zaman berita serba cepat dan judul serba heboh, TVRI Yogyakarta masih merawat bahasa Jawa lewat Yogyawarta. Sebab, menjadi modern tidak harus kehilangan tradisi—dan berbicara halus bukan berarti kritik terhadap kenyataan harus ikut dihaluskan.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #TVRIYogyakarta #Yogyawarta #JurnalistikBudaya #BahasaJawa #FeatureJurnalistik
.jpg)

.jpg)