GalaPos ID, Jakarta.
Gangguan tiroid menjadi ancaman kesehatan yang sering luput dari perhatian publik. Meski berperan penting mengendalikan metabolisme tubuh, penyakit pada kelenjar kecil berbentuk kupu-kupu di leher ini kerap tidak terdeteksi hingga menimbulkan komplikasi serius.
"Publik rajin memeriksa notifikasi media sosial setiap menit, tetapi lupa memeriksa kelenjar yang bekerja 24 jam mengatur metabolisme tubuh."
Baca juga:
- Social Media Manager Bukan Tukang Main Instagram, Ini Tugas Berat di Balik Layar
- Dari SMP hingga Umum, 1.214 Peserta Ikuti Olimpiade Bahasa Indonesia 2026
- Dialog dengan Mahasiswa, Gibran Akui Masih Banyak PR dalam Program Pemerintah
Gala Poin:
1. Enam dari sepuluh penderita gangguan tiroid tidak mengetahui kondisinya.
2. Wanita memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit tiroid sepanjang hidup.
3. Gejala sering dianggap keluhan biasa sehingga diagnosis terlambat.
Data American Thyroid Association menunjukkan sekitar 20 juta warga Amerika hidup dengan gangguan tiroid. Yang mengkhawatirkan, sekitar 60 persen penderita tidak mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit tersebut.
Menurut American Thyroid Association, perempuan menjadi kelompok yang paling rentan mengalami gangguan tiroid. Organisasi tersebut mencatat sekitar satu dari delapan wanita akan mengalami gangguan tiroid sepanjang hidupnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa penyakit tiroid masih menjadi persoalan kesehatan yang kurang mendapat perhatian dibanding penyakit kronis lain, padahal dampaknya dapat memengaruhi hampir seluruh sistem tubuh.
Kelenjar tiroid terletak di bawah jakun dan menghasilkan hormon thyroxine (T4) serta triiodothyronine (T3). Kedua hormon tersebut mengatur penggunaan energi, produksi protein, fungsi jantung, sistem saraf, hingga kesehatan reproduksi.
Baca juga:
Panel Surya Masuk Pesantren dan Sekolah, Generasi Hemat Energi Dimulai
Sebaliknya, hipertiroid menyebabkan produksi hormon berlebihan yang membuat metabolisme bekerja terlalu cepat. Gejala yang muncul antara lain jantung berdebar, penurunan berat badan drastis, sulit tidur, tremor, diare, dan gangguan mata.
Literatur medis menyebut hipotiroid yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi miksedema, kondisi berat yang berisiko menyebabkan gagal jantung, kejang, bahkan koma.
Ironisnya, banyak gejala tersebut sering dianggap sebagai akibat kelelahan kerja, stres, pola makan buruk, atau faktor usia.
Akibatnya, penderita baru mencari pertolongan ketika komplikasi mulai muncul.
![]() |
| Gangguan tiroid sering tidak terdeteksi karena gejalanya menyerupai kelelahan, stres, atau perubahan gaya hidup sehari-hari. Foto: ilustrasi |
Dari perspektif kesehatan publik, persoalan terbesar bukan hanya penyakitnya, melainkan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pemeriksaan dini. Padahal, pemeriksaan laboratorium sederhana seperti TSH, Free T4, dan Free T3 mampu membantu mendeteksi gangguan tiroid sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Ketika masyarakat lebih sering mengabaikan gejala yang tampak sepele, penyakit tiroid terus bergerak diam-diam. Dan seperti banyak penyakit lainnya, yang paling mahal bukan biaya pemeriksaannya, melainkan harga yang harus dibayar ketika diagnosis datang terlambat.
Baca juga:
Divisi Media Coordinator GalaPos ID
"Kalau berat badan naik, sering disalahkan nasi. Kalau jantung berdebar, sering disalahkan kopi. Tiroid? Biasanya baru diingat setelah penyakitnya telanjur parah."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #WaspadaTiroid #KesehatanPublik #SilentDisease #DeteksiDini #EdukasiKesehatan
.jpg)
.jpg)