GalaPos ID, Tulungagung.
Sembilan warga difabel di Desa Nglutung, Kecamatan Sendang, Tulungagung, menjadi sasaran pemetaan kebutuhan melalui aksi “Sambang Inklusi” yang dilakukan mahasiswa KKN UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung pada pertengahan Agustus 2026.
"Plang kegiatan bisa berdiri bertahun-tahun, tetapi kebutuhan warga tidak selesai hanya dengan seremoni. Di Nglutung, mahasiswa memilih turun ke rumah-rumah. Sekarang, bola ada di tangan pemerintah desa."
Baca juga:
- Gempa NTT: Polri Siapkan Rp12,68 Miliar dan 284,54 Ton Logistik
- Mahasiswa KKN UMM 2026 Rubah Kulit Jeruk Jadi Produk Ekonomi
- Karhutla Lampung 100,7 Hektare, Prabowo Kerahkan Tim Alfa TNI
Gala Poin:
1. KKN UIN SATU memetakan sembilan warga difabel di Desa Nglutung melalui aksi “Sambang Inklusi” dengan metode door-to-door.
2. Kebutuhan yang dipetakan mencakup aksesibilitas, layanan kesehatan, dan dokumen kependudukan, sehingga persoalan yang ditemukan berkaitan langsung dengan pemenuhan hak dasar warga.
3. Tantangan utama ada pada tindak lanjut data: hasil pemetaan diharapkan tidak berhenti sebagai dokumentasi KKN, tetapi menjadi dasar kebijakan dan program desa yang inklusif.
Program yang digagas Divisi Gender, Anak, dan Disabilitas (GAD) tersebut dilakukan dengan metode door-to-door. Mahasiswa mendatangi langsung rumah warga bersama kepala dusun untuk menggali kondisi dan kebutuhan mereka, mulai dari aksesibilitas, layanan kesehatan, hingga kelengkapan dokumen kependudukan.
Langkah tersebut penting karena persoalan inklusi tidak selalu terlihat dari data administratif atau program bantuan yang bersifat umum. Dengan mendatangi warga secara langsung, kebutuhan kelompok difabel di wilayah lereng pegunungan dapat dipetakan berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Aksi ini juga tidak berhenti pada penyerahan bantuan atau kegiatan seremonial. Data yang dihimpun mahasiswa diarahkan menjadi bahan advokasi agar pemerintah desa dan pemangku kepentingan dapat menyusun program pemberdayaan serta perlindungan sosial yang lebih tepat sasaran.
"Pengabdian harus melampaui sekadar plang jalan. Kami hadir langsung mendengar cerita, memetakan kebutuhan dasar, serta memastikan warga difabel mendapatkan hak yang setara," tegas Koordinator Divisi GAD KKN UIN SATU Tulungagung Desa Nglutung, Ahmad Nur Fadil, saat mengonfirmasi hasil pemetaan tersebut, Senin, 24 Agustus 2026.
Baca juga:
Di sinilah relevansi aksi “Sambang Inklusi” terlihat. Persoalan disabilitas bukan semata persoalan bantuan sosial, tetapi juga menyangkut akses terhadap layanan dasar dan pemenuhan hak sebagai warga negara.
Pemerintah Desa Nglutung mengapresiasi pendekatan jemput bola tersebut. Data yang dihimpun diharapkan dapat membantu pemerintah desa menyusun kebijakan dan program sosial yang lebih sesuai dengan kebutuhan warga.
Namun, keberhasilan pemetaan pada akhirnya tidak cukup diukur dari berapa banyak warga yang berhasil didatangi atau data yang berhasil dicatat. Ukuran yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah data tersebut terkumpul.
Mahasiswa KKN berharap hasil pemetaan dapat diteruskan menjadi dasar advokasi dan kebijakan yang berkelanjutan. Tantangannya, data lapangan harus benar-benar diterjemahkan menjadi tindakan pemerintah desa, bukan sekadar menjadi dokumentasi penutup kegiatan KKN.
"Data menjadi kunci keberlanjutan. Kami berharap catatan riset aksi yang baru kami rampungkan ini memantik pemerintah desa dan pemangku kepentingan untuk menghadirkan fasilitas publik serta program perlindungan sosial yang ramah disabilitas," tambah Ahmad Nur Fadil.
Aksi mahasiswa di Desa Nglutung menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat dapat mengambil peran lebih jauh ketika dilakukan dengan pendekatan berbasis data dan mendengarkan langsung kelompok yang menjadi sasaran.
Baca juga:
- 65 Relawan Menuju Flores, Ada 18 Tenaga Kesehatan di Tim Kemanusiaan
- PLN Salurkan 100 Paket Sembako ke Pengungsi Ngada dan Nagekeo
Bagi warga difabel, inklusi bukan slogan. Ia seharusnya hadir dalam bentuk akses layanan kesehatan, administrasi kependudukan, fasilitas publik, perlindungan sosial, dan kesempatan yang setara.
Karena itu, pekerjaan berikutnya justru berada di tangan pemerintah desa dan pemangku kepentingan: memastikan sembilan nama dan kebutuhan yang telah dipetakan tidak kembali tenggelam setelah mahasiswa meninggalkan Nglutung.
Baca juga:
- Gempa Flores: Paul Nuwa Veto Buka Layanan Kesehatan Gratis di Nagekeo
- Sungai Dalu-Dalu Dikeruk, Polisi Amankan Excavator dan Dump Truck
Mahasiswa KKN sudah mengetuk pintu rumah warga difabel di Nglutung. Tantangan berikutnya lebih berat: mengetuk pintu birokrasi agar data tersebut tidak ikut “pulang” bersama mahasiswa.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #KKN UINSATU #SambangInklusi #Disabilitas #InklusiSosial #Tulungagung #DesaNglutung #PengabdianMasyarakat #HakDifabel

