GalaPos ID - Iklan Banner

FJTT ke-30 Masuk KEN 2026, Jaranan Trenggalek Diuji

GalaPos ID, Trenggalek.
Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) memasuki tiga dekade perjalanan dengan tantangan yang lebih besar: mampukah pertunjukan jaranan tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi benar-benar menjadi penggerak pariwisata dan ekonomi masyarakat?

Novita Hardini: Jaranan Bukan Sekadar Pertunjukan
FJTT ke-30 masuk KEN 2026. Jaranan Trenggalek kini naik panggung nasional, tetapi pertanyaannya sederhana: jangan sampai yang naik kelas hanya festivalnya, sementara warung, UMKM, seniman, dan ekonomi warga masih jadi penonton. Foto: istimewa

 

"Tiga puluh tahun FJTT bukan waktu yang sebentar. Namun, kalau setelah penonton pulang warung tetap sepi dan seniman tetap berjuang sendiri, lalu apa sebenarnya yang dirayakan?"

Baca juga:

Gala Poin:
1. FJTT ke-30 masuk KEN 2026 dan membuka peluang jaranan Trenggalek dikenal di tingkat nasional hingga internasional.
2. Keberhasilan festival tidak cukup diukur dari jumlah penonton, tetapi juga dari manfaat bagi UMKM, seniman, pariwisata, transportasi, kuliner, dan ekonomi lokal.
3. Turonggo Yakso dan jaranan harus dikembangkan tanpa kehilangan akar tradisi, dengan regenerasi generasi muda sebagai bagian penting keberlanjutan budaya.


Pertanyaan itu menjadi relevan setelah FJTT ke-30 masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Momentum tersebut membuka peluang bagi jaranan Trenggalek untuk menembus panggung nasional hingga internasional. Namun, bagi Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Novita Hardini, popularitas semestinya bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Dampak nyata bagi masyarakat harus menjadi ukuran berikutnya: wisatawan datang, UMKM memperoleh manfaat, seniman mendapatkan ruang, dan ekonomi lokal bergerak.

“Jaranan bukan sekadar pertunjukan. Di setiap geraknya ada cerita, di setiap iramanya ada perjalanan, dan di setiap pertunjukannya ada semangat masyarakat menjaga warisan dari generasi ke generasi,” ujar Novita dalam keterangan resminya, Minggu, 20 September 2026.


Tiga Dekade Jaranan dan Tantangan Setelah Masuk KEN
FJTT telah berlangsung selama 30 tahun. Bagi Novita, usia panjang tersebut bukan sekadar catatan waktu, melainkan perjalanan membangun ekosistem kesenian di Trenggalek.

Beragam gaya jaranan, menurut dia, tidak seharusnya dipertentangkan. Festival justru dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai ekspresi seni, regenerasi pelaku budaya, sekaligus memperluas perjumpaan antarkelompok kesenian.

Momentum KEN 2026 kemudian menjadi pintu untuk membawa jaranan Trenggalek keluar dari ruang lokal.

Baca juga:


Namun, masuknya sebuah festival ke agenda nasional juga membawa konsekuensi. Ketika sebuah budaya semakin dikenal, pertanyaan berikutnya bukan lagi sekadar seberapa ramai panggungnya, melainkan siapa yang memperoleh manfaat dari keramaian tersebut.

“Masuk KEN bukan sekadar label. Ini kesempatan membuat jaranan Trenggalek dikenal lebih luas. Tetapi setelah dikenal, harus ada dampaknya: wisatawan datang, UMKM bergerak, seniman mendapat ruang, dan ekonomi lokal tumbuh,” tegasnya.


Jangan Sampai Penonton Ramai, Ekonomi Lokal Sepi
Di sinilah ukuran keberhasilan FJTT menjadi lebih konkret. Novita menilai kekuatan festival terletak pada kemampuannya menjadikan budaya sebagai alasan orang datang ke Trenggalek. Karena itu, jaranan tidak semestinya berdiri sendiri sebagai pertunjukan.

Festival perlu terhubung dengan destinasi wisata, kuliner, kriya, UMKM, akomodasi, transportasi, hingga industri kreatif.

Dengan pola tersebut, pengunjung yang datang untuk menyaksikan jaranan diharapkan tidak hanya menghabiskan waktu di sekitar panggung. Ada rantai ekonomi yang lebih panjang: warung mendapatkan pembeli, produk UMKM terjual, penginapan terisi, transportasi bergerak, dan pelaku seni memperoleh peluang ekonomi.

“Event budaya yang baik bukan hanya membuat penonton pulang membawa pengalaman. Event yang baik juga membuat masyarakat lokal pulang membawa manfaat ekonomi,” kata Novita.

Baca juga:


Pernyataan tersebut sekaligus menempatkan FJTT pada persoalan yang lebih luas. Festival budaya bukan hanya soal kemeriahan pembukaan, jumlah penonton, atau seberapa sering sebuah pertunjukan tampil di panggung. Ada kepentingan masyarakat lokal yang perlu dihitung dari setiap kegiatan budaya yang membawa nama daerah.


Turonggo Yakso dan Identitas Trenggalek
Di tengah upaya memperluas jangkauan FJTT, identitas lokal tetap menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan. Novita menilai jaranan, khususnya Turonggo Yakso, perlu dikembangkan sebagai identitas khas Trenggalek tanpa kehilangan akar tradisinya.

Hal itu menjadi penting ketika budaya lokal dibawa ke panggung yang lebih luas. Ekspansi promosi tidak berarti tradisi harus kehilangan karakter. Sebaliknya, semakin luas jangkauan sebuah kesenian, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga akar budaya yang menjadi pembeda.

“Kita ingin jaranan menjadi kebanggaan bersama. Rawat budayanya, dukung senimannya, dan beri ruang seluas-luasnya bagi generasi muda untuk meneruskannya,” ujarnya.

Novita juga mendorong pemerintah daerah, komunitas seni, pelaku UMKM, sektor pariwisata, dan pemerintah pusat memanfaatkan momentum KEN untuk memperluas promosi jaranan ke tingkat nasional dan internasional.

Baca juga:


FJTT 2026, Ujian dari Panggung Budaya ke Ekonomi Rakyat
FJTT ke-30 resmi dibuka pada 20 September 2026 dan berlangsung hingga 26 September di Alun-Alun Trenggalek. Festival ini menjadi bagian dari KEN 2026 dan mempertemukan kelompok jaranan dari berbagai daerah.

Agenda tersebut juga memadukan pertunjukan dengan bazar UMKM, kuliner tradisional, pameran budaya, serta kegiatan ekonomi kreatif.

Format itu membuka ruang agar manfaat festival tidak berhenti di panggung. Tetapi, pada akhirnya, keberhasilan tetap akan terlihat dari sejauh mana aktivitas tersebut menghasilkan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Bagi Novita, tiga dekade FJTT bukan garis akhir. Justru, usia 30 tahun menjadi momentum untuk memulai perjalanan baru.

“‘Mari kita jadikan jaranan sebagai kebanggaan bersama. Rawat budayanya, dukung senimannya, dan beri ruang kepada generasi muda. Mari kita dorong Trenggalek untuk siap menjadi rumah jaranan dunia,’” pungkasnya.

 

 

Baca juga:


Jaranan sudah masuk panggung nasional. Tinggal dibuktikan: apakah uang wisatawan juga ikut masuk ke kantong warga Trenggalek, atau berhenti di panggung dan spanduk acara?

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #FJTT2026 #JarananTrenggalek #TuronggoYakso #KEN2026 #EkonomiKreatif #PariwisataTrenggalek

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال