GalaPos ID, Jakarta.
Ketahanan pangan Indonesia tidak cukup dibangun dengan mengejar produksi panen. Ketika pupuk masih menghadapi persoalan ketergantungan bahan baku impor, ketahanan pangan juga berhadapan dengan risiko dari luar negeri.
Kemandirian pupuk dan pemanfaatan bahan baku lokal pun kembali didorong sebagai salah satu strategi menghadapi gejolak ekonomi dan krisis global.
"Kalau krisis global bisa mengguncang harga dan pasokan bahan baku pupuk, sudah waktunya pertanian Indonesia punya cadangan strategi sendiri. Sebab perut rakyat tidak bisa diberi makan dengan slogan swasembada."
Baca juga:
- Jangan Salah! Ini Beda SINTA, DOAJ, Scopus, dan Elsevier
- Kerja Sama UAI dan SDIT Bait Adzkia Masih Penjajakan, Ini Fokusnya
- Dari Lem PVC ke Bursa, Jejak Multi Makmur Lemindo dan Dugaan Manipulasi IPO
Gala Poin:
1. Kemandirian pupuk: Ketergantungan terhadap bahan baku impor dinilai menjadi salah satu kerentanan yang perlu diantisipasi dalam menghadapi krisis global.
2. Bahan baku lokal dan “Go Organik”: Pemanfaatan sumber daya lokal dan pupuk organik ditawarkan sebagai salah satu pendekatan untuk memperkuat kemandirian pertanian.
3. Swasembada harus menyentuh petani: Lahan produktif, pupuk, teknologi, kapasitas petani, generasi muda, dan ekosistem ekonomi pertanian perlu berjalan bersama.
Gagasan itu mengemuka dalam diskusi media bertajuk “Menjaga Ketahanan dan Swasembada Pangan di Tengah Krisis Global” yang digelar Dewan Pimpinan Pusat Serikat Pers Republik Indonesia (DPP SPRI) di Rarampa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu, 20 September 2026.
Diskusi tersebut menghadirkan Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian RI periode 2022–2024, Jan Samuel Maringka, serta praktisi sekaligus pionir pertanian nasional asal Sulawesi Selatan, Andi Undru Mario.
Persoalan yang dibahas tidak berhenti pada berapa banyak pangan yang dapat diproduksi. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa mandiri sistem pertanian Indonesia ketika salah satu input pentingnya masih menghadapi ketergantungan terhadap bahan baku dari luar negeri?
Dalam diskusi tersebut, ketahanan pangan dipandang sebagai tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi pemerintah, petani, pelaku usaha pertanian, dan media.
Ketersediaan lahan produktif, sarana produksi, teknologi, dan pupuk menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas pertanian. Jan Samuel Maringka menekankan pentingnya mempertahankan lahan sawah produktif agar tetap menopang produksi pangan nasional.
Baca juga:
Namun, persoalan lahan bukan satu-satunya tantangan.
Ketersediaan pupuk menjadi perhatian lain, terutama karena sebagian bahan bakunya masih bergantung pada impor. Ketergantungan tersebut menjadi semakin relevan ketika kondisi ekonomi global berubah dan rantai pasok menghadapi tekanan.
Dalam situasi seperti itu, pemanfaatan bahan baku lokal dan pengembangan pupuk organik dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat kemandirian sektor pertanian.
Pendiri Super Tani Indonesia, Andi Undru Mario, mengatakan ketersediaan pupuk berbahan baku lokal dapat membantu petani menghadapi perubahan harga dan pasokan bahan baku impor.
Menurut Andi, pupuk organik berbahan lokal memiliki keunggulan karena tidak bergantung pada bahan baku impor.
Pandangan tersebut menempatkan pupuk bukan sekadar persoalan sarana produksi, melainkan bagian dari ketahanan sistem pangan dari hulu hingga hilir.
"Jika kita ingin mewujudkan swasembada pangan yang tangguh di tengah krisis global, pemerintah harus mampu memastikan ketersediaan Pupuk untuk mendukung para Petani” ujar Andi Undru, dalam keterangan yang diterima, Senin, 21 September 2026.
“Go Organik” dan Tantangan Membuktikan Kemandirian
Andi menawarkan pendekatan “Go Organik” sebagai salah satu solusi untuk memperkuat sektor pertanian.
Penggunaan pupuk organik yang berkualitas dan ramah lingkungan dinilai dapat membantu memperbaiki kualitas tanah, menekan biaya produksi, serta mendukung peningkatan hasil panen.
Namun, gagasan tersebut pada akhirnya membutuhkan pembuktian di lapangan. Ketersediaan bahan baku lokal, kualitas pupuk, konsistensi pasokan, biaya produksi, produktivitas, hingga kemampuan petani mengadopsinya menjadi faktor yang menentukan apakah konsep kemandirian pupuk benar-benar dapat berjalan secara berkelanjutan.
Pemanfaatan bahan baku lokal juga disebut dapat memperkuat ekosistem pertanian dari hulu hingga hilir. Petani tidak hanya memperoleh sarana produksi, tetapi juga berpeluang mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis pertanian di daerah.
"Dengan kemandirian pupuk dan mengoptimalkan penggunakan pupuk organik, Indonesia tidak hanya mampu meningkatkan produksi pangan domestik secara masif, tetapi juga menekan ketergantungan impor," tambah Andi Undru, menanggapi pertanyaan moderator yang juga Presenter senior TVRI, Dhoni Kusmanhadji dalam diskusi tersebut.
Baca juga:
Teknologi dan Petani Milenial Tak Bisa Diabaikan
Kemandirian pupuk juga tidak berdiri sendiri. Pengembangan teknologi pertanian menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan produktivitas, efisiensi biaya, dan daya saing petani.
Di titik ini, petani milenial memiliki ruang untuk mengambil peran lebih besar. Pendekatan kewirausahaan dan teknologi dapat digunakan untuk mengembangkan usaha pertanian, menciptakan lapangan kerja, sekaligus membangun rantai ekonomi baru di sektor pangan.
Artinya, pembicaraan tentang swasembada pangan tidak cukup berhenti pada produksi komoditas. Sistem pertanian juga harus mampu menciptakan ekosistem yang membuat petani tetap memiliki daya tahan ekonomi.
Andi juga mengapresiasi diskusi yang diinisiasi DPP SPRI. Ia menilai media memiliki peran dalam menyebarkan informasi dan edukasi mengenai perkembangan teknologi pertanian kepada masyarakat.
"Kami berharap rekan-rekan media terus menyuarakan suara petani dari pelosok daerah. Sinergi informasi yang akurat dari media massa menjadi instrumen penting agar program swasembada pangan berkelanjutan dapat terealisasi" tutupnya.
Pesan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa isu pangan bukan semata persoalan kebijakan di tingkat pusat. Dampaknya dirasakan langsung oleh petani dan masyarakat sebagai konsumen.
Karena itu, keberhasilan swasembada pangan semestinya tidak hanya diukur dari target produksi. Ketersediaan lahan produktif, akses terhadap pupuk, biaya produksi, teknologi, kapasitas petani, serta keberlanjutan pasokan juga perlu menjadi bagian dari ukuran keberhasilan.
Pada akhirnya, kemandirian pangan akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia mengurangi titik-titik kerentanan dalam sistem pertaniannya.
Bahan baku lokal dapat menjadi salah satu jalan. Pupuk organik dapat menjadi salah satu pendekatan. Teknologi dan keterlibatan generasi muda dapat menjadi pengungkit.
Tetapi pertanyaan publik tetap sederhana: apakah seluruh gagasan tersebut mampu diterjemahkan menjadi pupuk yang tersedia, terjangkau, berkualitas, dan benar-benar bisa digunakan petani ketika dibutuhkan?
Di situlah wacana swasembada pangan diuji—bukan hanya di ruang diskusi, tetapi di lahan pertanian dan kehidupan petani.
Baca juga:
- LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai Diresmikan Prabowo, Tarif Rp5.000
- Artotel Dukung Empat Aset Olahraga Jawa Barat Jadi Sport Tourism dan Wellness
Indonesia ingin swasembada pangan, tetapi urusan pupuk masih berhadapan dengan bahan baku impor. Jangan-jangan yang paling cepat panen justru wacana, sementara petani masih menunggu pupuk datang.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #KetahananPangan #SwasembadaPangan #PupukOrganik #PertanianIndonesia #BahanBakuLokal
.jpg)
.jpg)
