GalaPos ID, Jakarta.
Perguruan tinggi akan didorong lebih dekat dengan persoalan nyata di desa. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) tengah menyiapkan kolaborasi yang mempertemukan kompetensi kampus dengan potensi serta kebutuhan masing-masing desa.
"Desa tidak kekurangan potensi, kampus tidak kekurangan orang pintar. Tantangannya tinggal satu: bagaimana membuat keduanya tidak hanya saling kenal, tetapi benar-benar bekerja."
Baca juga:
- LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai Diresmikan Prabowo, Tarif Rp5.000
- Artotel Dukung Empat Aset Olahraga Jawa Barat Jadi Sport Tourism dan Wellness
- Menkeu Berganti, Harta Suahasil Rp138 Miliar Jadi Perhatian
Gala Poin:
1. Kemdiktisaintek dan Kemendes PDT mengeksplorasi skema matching kampus dan desa berdasarkan kebutuhan serta potensi lokal.
2. Perguruan tinggi akan dilibatkan secara tematik, termasuk pertanian, peternakan, perikanan, ekonomi kreatif, dan budaya.
3. Kerja sama masih akan ditindaklanjuti untuk merumuskan bentuk kolaborasi konkret yang mendukung pembangunan desa dan implementasi Tridarma Perguruan Tinggi.
Gagasan tersebut dibahas dalam pertemuan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto dengan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto di Kantor Kemdiktisaintek, Jakarta.
Salah satu skema yang tengah dieksplorasi adalah matching antara kampus dan desa. Artinya, fakultas atau program studi akan disesuaikan dengan karakteristik, persoalan, serta potensi unggulan yang dimiliki suatu desa.
“Kita lakukan matching antara kampus dan desa, fakultas mana yang relevan untuk membantu desa. Ini kita sesuaikan dengan kebutuhan masing-masing desa,” kata Brian Yuliarto dikutip Rabu, 16 September 2026.
Pendekatan tersebut menempatkan perguruan tinggi bukan sekadar sebagai sumber pengetahuan, tetapi sebagai mitra yang diharapkan mampu memberikan pendampingan sesuai kebutuhan di lapangan.
Baca juga:
Brian mengatakan, keterlibatan perguruan tinggi nantinya disusun secara tematik. Bidangnya mencakup pertanian, peternakan, perikanan, ekonomi kreatif, hingga pengembangan budaya.
Dengan pola tersebut, dosen dan mahasiswa dapat berkontribusi melalui penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat berdasarkan kompetensi keilmuan yang dimiliki. Desa sekaligus berpotensi menjadi ruang penerapan pengetahuan kampus untuk menjawab persoalan yang bersifat konkret.
Di sisi lain, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menilai sinergi kedua kementerian dapat memperkuat berbagai program pembangunan desa yang telah berjalan.
Yandri mencontohkan konsep desa tematik sebagai salah satu ruang kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi.
“Program desa tematik yang sudah berjalan sangat bermanfaat. Seperti desa ekspor, pendapatan masyarakat meningkat pesat,” ujar Yandri.
Namun, rencana kolaborasi tersebut masih membutuhkan tindak lanjut dalam bentuk kerja sama yang lebih konkret. Kedua kementerian sepakat melanjutkan pembahasan untuk menyusun mekanisme kolaborasi yang dapat memperluas peran perguruan tinggi dalam pembangunan desa.
![]() |
| Selama ini kampus punya teori, desa punya persoalan. Kini keduanya hendak dipertemukan. Semoga bukan sekadar pertemuan formal yang berakhir dengan foto bersama. Foto: ilustrasi KKN |
Dalam kerangka Tridarma Perguruan Tinggi, desa diharapkan dapat menjadi laboratorium pembelajaran sekaligus mitra inovasi. Konsep itu membuka ruang bagi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat agar tidak berhenti sebagai kegiatan akademik, tetapi diarahkan pada kebutuhan riil masyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan gagasan ini akan bergantung pada seberapa konkret pola matching tersebut diterapkan: apakah kompetensi kampus benar-benar bertemu dengan kebutuhan desa, dan apakah hasil pendampingannya dapat dirasakan masyarakat.
Untuk itu, tindak lanjut berupa bentuk kolaborasi yang jelas menjadi bagian penting dari rencana kerja sama Kemdiktisaintek dan Kemendes PDT. Tujuannya adalah mendorong pembangunan daerah yang lebih berkelanjutan dengan bertumpu pada potensi lokal.
Baca juga:
- Purbaya Pergi, Suahasil Datang: Apa yang Berubah di Kemenkeu?
- Kasus Ekstasi di Batu Bara: 5 Pil MDMA, 4 Ponsel, dan Uang Rp250 Ribu
Kampus dan desa akhirnya mau “jodoh-jodohan”. Bukan soal cinta, tetapi soal mencocokkan fakultas dengan kebutuhan desa agar ilmu tidak hanya sibuk di ruang kelas.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Kemdiktisaintek #KemendesPDT #PembangunanDesa #PerguruanTinggi #DesaTematik #PotensiLokal

