GalaPos ID - Iklan Banner

Tekan Penggunaan Diesel, Elektrifikasi Tambang Mulai Digarap di Berau

GalaPos ID, Berau.
Transformasi energi di sektor pertambangan Kalimantan Timur mulai bergerak melalui rencana pembangunan pembangkit energi berkapasitas 80 megawatt (MW), sistem penyimpanan energi berbasis baterai sebesar 160 megawatt hour (MWh), serta ekspansi lebih dari 1.000 unit kendaraan listrik untuk mendukung operasional pertambangan.
Green Mining di Kaltim: PLTS Apung, Baterai Raksasa, dan 1.000 Kendaraan Listrik
Tambang di Kalimantan Timur mulai bersolek dengan label green mining. Pembangkit energi 80 MW, baterai 160 MWh, dan lebih dari 1.000 kendaraan listrik disiapkan. Lubang bekas tambang pun berpotensi menjadi ladang energi surya. Namun, jangan sampai tambangnya masih meninggalkan jejak kerusakan, sementara citra hijaunya hanya tumbuh subur di atas kertas. Sebab, ramah lingkungan bukan soal seberapa hijau janji perusahaan, melainkan seberapa nyata dampaknya bagi bumi dan masyarakat. Foto: ist

 
 
"Lubang bekas tambang kini berpeluang disulap menjadi pembangkit listrik tenaga surya. Energi hijau mulai masuk ke dunia pertambangan. Namun, jangan sampai listriknya sudah hijau, sementara persoalan lingkungan masih gelap dan belum terselesaikan."

Baca juga:
Gala Poin:
1. Transformasi energi pertambangan: SUN menyiapkan pembangkit energi 80 MW, BESS 160 MWh, dan ekspansi lebih dari 1.000 kendaraan listrik di sektor pertambangan Kalimantan Timur.
2. Pemanfaatan lubang bekas tambang: PLTS apung direncanakan menjadi bagian dari integrasi energi terbarukan untuk mendukung kebutuhan operasional pertambangan.
3. Tantangan pembuktian green mining: Skema EaaS menawarkan elektrifikasi tanpa investasi awal dari pelanggan, tetapi realisasi pengurangan emisi dan dampak lingkungan tetap harus transparan serta terukur.
 
Program elektrifikasi yang dikembangkan SUN tersebut diklaim menjadi langkah menuju konsep green mining atau pertambangan ramah lingkungan. Namun, keberhasilan transformasi ini tidak cukup diukur dari besarnya kapasitas pembangkit dan jumlah kendaraan listrik. Efektivitas energi, pengurangan emisi, serta dampak lingkungannya tetap menjadi aspek penting yang perlu dibuktikan melalui implementasi di lapangan.

Director of Mobility SUN, Karina Darmawan, mengungkapkan bahwa elektrifikasi di sektor pertambangan kini bukan lagi sekadar isu keberlanjutan lingkungan, melainkan langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi operasional.

“Dengan teknologi yang semakin berkembang, perusahaan tambang kini memiliki lebih banyak pilihan untuk mengelola kebutuhan energinya secara lebih efisien dan andal," kata Karina dalam keterangan resminya.


Lubang Bekas Tambang Disiapkan Menjadi Pembangkit Energi Surya
Salah satu inovasi yang masuk dalam konsep green mining tersebut adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) apung di lubang bekas galian tambang yang telah tergenang air.

Energi listrik yang dihasilkan direncanakan disalurkan ke sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau Battery Energy Storage System (BESS). Teknologi ini berfungsi menjaga stabilitas pasokan listrik agar dapat menyesuaikan kebutuhan operasional pertambangan sehari-hari.
 


Pemanfaatan lubang bekas tambang sebagai lokasi PLTS apung menjadi pendekatan integrasi energi yang menarik. Lahan pascatambang yang sebelumnya tidak lagi digunakan untuk kegiatan penggalian berpotensi memperoleh fungsi baru sebagai bagian dari infrastruktur energi.

Meski demikian, aspek keselamatan, kualitas air, tata kelola lingkungan, dan keberlanjutan pemanfaatan lubang bekas tambang tetap perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya.
 
 
Lebih dari 1.000 Kendaraan Listrik untuk Operasional Tambang
Transformasi energi tersebut tidak hanya menyasar pembangkit listrik, tetapi juga sektor transportasi dan logistik pertambangan.

SUN menyiapkan ekspansi lebih dari 1.000 unit kendaraan listrik yang mencakup kendaraan operasional ringan hingga kendaraan logistik pertambangan.

Untuk mendukung operasional armada tersebut, ekosistem elektrifikasi juga dilengkapi infrastruktur pengisian daya, fasilitas bengkel, layanan pemeliharaan, serta sistem pemantauan kendaraan.

Karina menyebut keseluruhan ekosistem itu dirancang untuk menjaga kesiapan armada, meningkatkan efektivitas, dan memastikan keberlangsungan operasional pertambangan.

Artinya, elektrifikasi tidak hanya berkaitan dengan penggantian kendaraan berbahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik. Kesiapan infrastruktur, perawatan, ketersediaan energi, hingga sistem pengawasan armada menjadi bagian yang menentukan keberhasilan implementasi.


Skema Electrification as a Service, Perusahaan Tambang Tak Perlu Modal Awal?
Untuk memperluas adopsi teknologi elektrifikasi, SUN menerapkan model bisnis Electrification as a Service (EaaS).

Melalui skema ini, perusahaan pertambangan dapat menggunakan teknologi elektrifikasi tanpa harus mengeluarkan belanja modal awal untuk membangun infrastruktur. Perencanaan, penyediaan teknologi, hingga pemeliharaan operasional dikelola langsung oleh penyedia layanan.
 


Model tersebut menawarkan alternatif bagi perusahaan tambang yang ingin beralih ke teknologi rendah emisi tanpa harus menanggung seluruh investasi infrastruktur sejak awal.

"Kami ingin mempermudah pelanggan mengadopsi elektrifikasi sekaligus memberikan kepastian dukungan operasional," jelas Karina. “Implementasi ini menjadi langkah awal SUN untuk membawa solusi elektrifikasi terintegrasi ke skala yang lebih besar dan membuka jalan bagi transformasi industri pertambangan di Indonesia,” tutupnya.

 
Ambisi Tambang Hijau Harus Dibuktikan, Bukan Sekadar Diklaim
Rencana pengembangan energi terbarukan dan kendaraan listrik di sektor pertambangan Kalimantan Timur membuka peluang bagi perubahan pola konsumsi energi industri ekstraktif.

Namun, label green mining tidak semestinya berhenti sebagai strategi komunikasi perusahaan. Publik berhak mengetahui berapa besar pengurangan emisi yang benar-benar dihasilkan, bagaimana sumber energi pendukungnya, serta sejauh mana dampak lingkungan dari aktivitas pertambangan dapat ditekan.

Transparansi mengenai realisasi investasi, kapasitas energi yang benar-benar beroperasi, jumlah kendaraan yang telah digunakan, dan evaluasi dampak lingkungan menjadi indikator penting untuk mengukur keberhasilan program tersebut.

Sebab, pertambangan yang lebih ramah lingkungan bukan hanya tentang mengganti bahan bakar fosil dengan listrik, melainkan juga memastikan bahwa seluruh proses industri memberikan dampak yang lebih baik bagi lingkungan dan masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan transformasi energi pertambangan tidak ditentukan oleh megawatt yang diumumkan atau ribuan kendaraan yang direncanakan, tetapi oleh perubahan nyata yang dapat diukur dan dipertanggungjawabkan kepada publik.
 
 
 
Baca juga:
Tapak Suci Disorot Pemerintah, Ini Pesan Penting Listyo Sigit

Tambang yang selama ini identik dengan pengerukan bumi kini ingin tampil lebih hijau. PLTS 80 MW dan 1.000 kendaraan listrik disiapkan. Pertanyaannya, apakah lingkungan benar-benar ikut menikmati perubahan, atau hanya citra perusahaan yang semakin ramah lingkungan?
 
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #GreenMining #EnergiTerbarukan #KendaraanListrik #PertambanganBerkelanjutan #KalimantanTimur
Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال