GalaPos ID, Trenggalek.
Persoalan sampah rumah tangga tidak cukup diselesaikan dengan membuangnya ke tempat penampungan. Kesadaran memilah sampah sejak dari rumah menjadi langkah penting untuk mengurangi beban lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat.
Atas dasar itu, anggota DPR RI Komisi VII, Novita Hardini, menggagas program Green Community Championship (GCC) untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.
"Sampah bisa menjadi sumber pendapatan, tetapi juga bisa menjadi masalah yang diwariskan kepada anak cucu. Novita Hardini menggagas Green Community Championship untuk mendorong warga Trenggalek mulai memilah sampah. Namun, jangan sampai gerakan hijau hanya berhenti pada spanduk, seremoni, dan foto kegiatan, sementara sampah tetap menumpuk tanpa pengelolaan yang jelas."
Baca juga:
- Sampah Dapur MBG Bisa Jadi Pupuk, 36 KWT Trenggalek Terima Mesin Pencacah
- Sendratari Sangga Pura di TMII, Kendal Angkat Legenda Sendang Tulang Bawang
- Tapak Suci Disorot Pemerintah, Ini Pesan Penting Listyo Sigit
Gala Poin:
1. Novita Hardini menggagas Green Community Championship untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Trenggalek dalam memilah dan mengelola sampah rumah tangga.
2. Sampah organik dan anorganik yang dipilah berpotensi diolah menjadi kompos, bahan daur ulang, dan produk bernilai ekonomi.
3. GCC membutuhkan fasilitas, pendampingan, indikator keberhasilan, dan keterlibatan pemerintah desa agar tidak berhenti sebagai sosialisasi atau kompetisi.
Gagasan tersebut diperkenalkan melalui kegiatan penguatan pengurus Tim Penggerak PKK Kabupaten Trenggalek, mulai tingkat kabupaten, kecamatan hingga desa, di Lumber Camp, Desa Dompyong, Kecamatan Bendungan, Rabu, 29 Oktober 2026. Kegiatan tersebut juga melibatkan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), termasuk camat dan kepala desa.
Melalui GCC, Novita yang juga menjabat sebagai Ketua TP PKK ingin menjadikan gerakan pengelolaan sampah sebagai kebiasaan masyarakat, bukan sekadar kegiatan seremonial. Perempuan dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong perubahan perilaku pengelolaan sampah, terutama melalui kebiasaan di lingkungan keluarga.
Sampah rumah tangga perlu dipilah sebelum dibuang. Selama ini, kebiasaan mencampurkan berbagai jenis sampah dalam satu tempat masih menjadi persoalan dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Padahal, sampah dapat dipilah berdasarkan karakteristik dan potensi pemanfaatannya.
Secara sederhana, masyarakat dapat memisahkan sampah basah dan sampah kering, kemudian mengelompokkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dengan sampah residu yang sulit dimanfaatkan kembali.
Baca juga:
Bukan Sekadar Main Gim! Novita Hardini Bidik Potensi Ekonomi Digital Anak Muda
Pemilahan sejak dari sumber akan mempermudah proses pengumpulan, pengolahan, dan pengangkutan. Sebaliknya, sampah yang tercampur akan menyulitkan petugas dalam melakukan pemilahan di tempat penampungan sementara maupun tempat pemrosesan akhir.
Persoalan tersebut semakin penting diperhatikan karena sejumlah jenis sampah membutuhkan waktu lama untuk terurai. Jika volume sampah terus meningkat tanpa diimbangi pengurangan dan pengolahan, kapasitas tempat pemrosesan akhir berpotensi semakin terbebani.
Karena itu, perubahan kebiasaan masyarakat menjadi salah satu kunci dalam mengurangi persoalan sampah. Pengelolaan tidak seharusnya hanya dibebankan kepada petugas kebersihan, tetapi perlu dimulai dari setiap rumah tangga.
GCC diarahkan menjangkau masyarakat hingga tingkat keluarga. Novita Hardini mengatakan, penguatan pengurus TP PKK dari tingkat kabupaten hingga desa menjadi bagian dari upaya memperluas gerakan pengelolaan sampah. Pelibatan unsur pemerintah kecamatan dan desa diharapkan memperkuat pelaksanaan program hingga ke masyarakat.
Dalam kegiatan Lumber Camp tersebut, ia menjelaskan tujuan penyelenggaraan GCC sebagai gerakan yang berorientasi pada perubahan perilaku masyarakat.
"hari ini kami melakukan penguatan seluruh Tim Penggerak PKK. Baik kabupaten, kecamatan hingga desa, juga dengan seluruh komponen kecamatan (Forkopimcam) seperti Pak Camat dan Pak Kades mengikuti pembinaan Green Community Championship (GCC)," kata Novita, dalam keterangan yang diterima, Minggu, 1 November 2026.
Ia menegaskan, GCC tidak dimaksudkan hanya sebagai kegiatan yang menghasilkan kemeriahan sesaat. Program tersebut diharapkan mampu membangun kesadaran masyarakat hingga tingkat rumah tangga mengenai pentingnya pemilahan sampah.
"Green Community Championship ini kami adakan bukan hanya untuk sebagai euforia semata, tapi tujuan kami menyasar ke akar rumput. Agar setiap rumah tangga itu punya kesadaran bahwa kebersihan dan pemilahan sampah ini sama dengan menyelamatkan anak cucu kita di masa depan," terangnya.
Sampah berpotensi menjadi sumber pendapatan masyarakat. Selain mendorong kebersihan lingkungan, GCC juga diarahkan untuk membuka peluang ekonomi melalui pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai guna.
Sampah yang telah dipilah berpotensi dikelola menjadi bahan daur ulang, kompos, maupun produk bernilai ekonomi lainnya. Dengan pengelolaan yang tepat, masyarakat tidak hanya mengurangi timbulan sampah, tetapi juga berpeluang memperoleh sumber pendapatan tambahan.
Baca juga:
Program Biomassa BUM Desa Diluncurkan, Mendes Yandri: Jangan Sekadar Seremonial!
Novita mengaitkan gerakan tersebut dengan upaya mendukung visi dan misi Bupati Trenggalek menuju Net Zero Carbon serta menjaga kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang.
Satu sisi sambil mendukung visi misi bapak bupati untuk Net Zero Carbon, satu sisi untuk mendukung dan menyelamatkan masyarakat itu sendiri. Dan tentunya harapan saya, sampah-sampah yang telah dipilah ini bisa menjadi sumber-sumber pendapatan baru bagi masyarakat. "Di situasi seperti ini kita harus kreatif bagaimana pentingnya ketahanan pangan dimulai dari anak-anak sedini mungkin," tandasnya.
Tantangan GCC: jangan berhenti pada sosialisasi dan kompetisi. Gagasan Green Community Championship membawa isu pengelolaan sampah ke tingkat keluarga dan komunitas. Namun, keberhasilan gerakan tersebut tidak cukup diukur dari jumlah peserta pembinaan atau banyaknya wilayah yang mengikuti kompetisi.
Hal yang lebih penting adalah memastikan tersedianya sistem pengelolaan sampah yang berjalan secara berkelanjutan. Masyarakat membutuhkan fasilitas pemilahan, tempat pengumpulan, akses pengangkutan, bank sampah, serta jalur pemanfaatan sampah organik dan anorganik.
Selain itu, perlu ada indikator keberhasilan yang terukur, seperti penurunan volume sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir, peningkatan jumlah rumah tangga yang memilah sampah, serta nilai ekonomi hasil pengolahan.
Baca juga:
Novita Hardini Bidik 157 Desa Kreatif, Bagaimana Nasib UMKM Trenggalek?
Tanpa dukungan fasilitas, pendampingan, dan kepastian pengelolaan hasil pemilahan, gerakan memilah sampah berisiko berhenti sebagai imbauan.
GCC karena itu perlu diuji melalui perubahan nyata di masyarakat. Sebab, lingkungan yang bersih tidak lahir hanya dari slogan, perlombaan, atau seremoni, tetapi dari kebiasaan yang dijalankan secara konsisten dan sistem pengelolaan yang benar-benar bekerja.
Baca juga:
Paus Biru 20,5 Meter Terdampar di Riung, Diselamatkan Setelah 12 Jam
Kampanye memilah sampah sering terdengar sederhana: pisahkan sampah organik dan anorganik, lalu olah sesuai jenisnya. Namun, kenyataannya, tempat sampah masih kerap menjadi ruang reuni semua jenis limbah. Melalui Green Community Championship, Novita Hardini ingin mengubah kebiasaan tersebut mulai dari rumah tangga. Pertanyaannya, apakah warga siap berubah atau hanya semangat ketika ada perlombaan?
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #NovitaHardini #GreenCommunityChampionship #GCC #Trenggalek #PilahSampah #PengelolaanSampah #EkonomiSirkular #NetZeroCarbon #PKK
.jpg)
.jpg)