GalaPos ID, Jakarta.
Kabupaten Kendal membawa legenda lokal ke panggung nasional melalui pertunjukan sendratari Sangga Pura dalam Pentas Duta Seni Kabupaten Kendal 2026 di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (1/11/2026). Mengangkat kisah Kiai Tulang Bawang dan Nyai Tulang Bawang, pertunjukan ini tidak sekadar memperkenalkan seni tradisional, tetapi juga menghidupkan kembali cerita tentang perjuangan memperoleh air, kepedulian sosial, dan keberlangsungan kehidupan masyarakat.
"Kisah Kiai dan Nyai Tulang Bawang mengajarkan pentingnya menyediakan air bagi kehidupan masyarakat. Pesannya sederhana, tetapi relevansinya masih besar: jangan sampai kita lebih sibuk merayakan legenda sumber air daripada memastikan sumber kehidupan benar-benar dijaga."
Baca juga:Gala Poin:
- Tapak Suci Disorot Pemerintah, Ini Pesan Penting Listyo Sigit
- Bukan Sekadar Main Gim! Novita Hardini Bidik Potensi Ekonomi Digital Muda
- Program Biomassa BUM Desa Diluncurkan, Mendes: Jangan Sekadar Seremonial!
1. Sendratari Sangga Pura di TMII mengangkat legenda Kiai Tulang Bawang dan Nyai Tulang Bawang yang berkaitan dengan asal-usul Sendang Tulang Bawang.
2. Kisah tersebut mengandung nilai perjuangan memperoleh air, kepedulian sosial, pengabdian, serta kebersamaan dalam membangun kehidupan masyarakat.
3. Pementasan menjadi sarana promosi pariwisata dan potensi Kendal, tetapi keberlanjutan budaya membutuhkan dokumentasi, ruang apresiasi, serta keterlibatan generasi muda.
Legenda yang menjadi dasar cerita tersebut berkaitan dengan asal-usul Sendang Tulang Bawang di Desa Darupono, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal. Melalui perpaduan gerak tari dan alur dramatik, Sangga Pura menghadirkan pesan bahwa sumber kehidupan bukan hanya persoalan alam, melainkan juga menyangkut kepedulian, pengabdian, dan kebersamaan.
Kisah perjuangan mendapatkan air menjadi inti pertunjukan. Cerita Sangga Pura bermula pada penghujung masa Kerajaan Majapahit. Kiai Tulang Bawang bersama istrinya, Nyai Tulang Bawang, melakukan pengembaraan bersama sejumlah prajurit hingga tiba di sebuah kawasan tandus yang dilanda kekeringan.
Menyaksikan masyarakat kesulitan mendapatkan air, keduanya berinisiatif membendung aliran sungai dan membuat saluran irigasi. Upaya tersebut memungkinkan warga mengairi lahan pertanian sekaligus memenuhi kebutuhan pangan. Perubahan mulai terlihat ketika ketersediaan air menopang kehidupan masyarakat. Kawasan yang sebelumnya tandus perlahan berkembang. Aktivitas pertanian tumbuh dan semakin banyak penduduk datang untuk menetap.
Sebagai ungkapan rasa syukur, Kiai dan Nyai Tulang Bawang kemudian mengajak masyarakat menggelar syukuran bersama. Namun, setelah kegiatan tersebut berakhir, keduanya tidak lagi ditemukan.
Warga hanya mendapati tongkat milik Kiai Tulang Bawang di sekitar sumber air yang melimpah. Peristiwa itulah yang kemudian diwariskan sebagai legenda yang berkaitan dengan keberadaan Sendang Tulang Bawang.
Nama Sangga Pura dimaknai sebagai penopang kehidupan. Makna tersebut menjadi benang merah pertunjukan, sekaligus mengingatkan bahwa air, kepedulian sosial, dan kebersamaan merupakan unsur penting dalam membangun kehidupan masyarakat.
Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari mengatakan, pementasan sendratari tersebut menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan kekayaan seni dan tradisi daerah kepada masyarakat yang lebih luas. Dia berharap kegiatan itu dapat menarik perhatian wisatawan, pemerhati kesenian, hingga berbagai kalangan untuk mengenal Kabupaten Kendal lebih dekat.
Menurutnya, potensi Kendal tidak hanya terletak pada sektor kebudayaan dan pariwisata. Daerah tersebut juga memiliki peluang investasi yang terus berkembang, bahkan capaian investasinya saat ini disebut menjadi yang tertinggi di Jawa Tengah.
Pernyataan mengenai capaian investasi tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya memperkenalkan potensi ekonomi Kendal kepada publik. Namun, angka, periode, dan indikator pembandingnya tidak disampaikan dalam keterangan yang tersedia.
Karena itu, masyarakat Kendal, termasuk yang berada di luar daerah, diharapkan turut mengambil bagian dalam pembangunan melalui gagasan dan kolaborasi.
“Kami mengajak untuk terus bersinergi dan berkolaborasi. Pemikiran maupun ide-ide kreatif tentunya sangat berharga bagi kami untuk bersama-sama memajukan Kabupaten Kendal demi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Anjungan Jawa Tengah didorong menjadi ruang pelestarian budaya. Sementara itu, Kepala Subbidang Anjungan TMII, Niken Rahardina, menyampaikan bahwa Anjungan Jawa Tengah diharapkan menjadi ruang interaksi antara seni tradisional dan masyarakat. Menurutnya, pertunjukan seni dapat memperkuat apresiasi publik terhadap kebudayaan daerah sekaligus menjaga agar tradisi tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Kami berharap Anjungan Jawa Tengah dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan mengapresiasi kekayaan seni budaya daerah. Melalui kegiatan seperti ini, tradisi yang kita miliki bisa terus diperkenalkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Niken.
Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah, lanjutnya, berkomitmen menjadikan Anjungan Jawa Tengah sebagai ruang representasi, aktualisasi, sekaligus promosi kebudayaan daerah. Niken juga menyampaikan permohonan maaf apabila fasilitas sarana dan prasarana yang disediakan masih memiliki kekurangan.
Pelestarian budaya membutuhkan lebih dari sekadar pertunjukan. Pementasan Sangga Pura memperlihatkan bagaimana legenda lokal dapat menjadi medium untuk memperkenalkan identitas daerah kepada masyarakat yang lebih luas. Akan tetapi, keberlanjutan pelestarian budaya tidak cukup hanya mengandalkan pertunjukan dalam agenda seremonial.
Dokumentasi cerita, keterlibatan generasi muda, pengenalan sejarah lokal, hingga keberlanjutan ruang apresiasi menjadi bagian penting agar warisan budaya tidak berhenti sebagai tontonan sesaat. Legenda Sendang Tulang Bawang yang diangkat melalui Sangga Pura juga menyimpan pesan yang relevan dengan kehidupan sekarang: pentingnya menjaga sumber daya air dan membangun kepedulian terhadap kebutuhan bersama.
Pada akhirnya, keberhasilan promosi budaya tidak hanya diukur dari seberapa meriah sebuah pertunjukan atau seberapa luas panggung yang digunakan. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana masyarakat mengenal, memahami, dan ikut menjaga warisan budaya tersebut agar tetap hidup lintas generasi.
Penulis: Visi
Baca juga:
Sumpah Pemuda di Labuan Bajo: Profesionalisme Jadi Wujud Nasionalisme
Budaya lokal bisa tampil megah di panggung nasional. Namun, pertanyaannya: setelah tepuk tangan penonton mereda dan lampu panggung dipadamkan, siapa yang benar-benar menjaga warisan leluhur agar tidak sekadar menjadi tontonan tahunan?
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Kendal #SanggaPura #BudayaJawaTengah #TMII #PariwisataKendal #SendratariSanggaPura #SendangTulangBawang #PesonaBudayaKendal #WisataBudayaIndonesia

