GalaPos ID, Jakarta.
Banjir lumpur dan tanah longsor mendadak menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China, menyapu desa-desa di sepanjang jalur sungai Bhote Koshi dan Trishuli. Bencana yang datang tanpa hujan deras di lokasi itu menewaskan sedikitnya 165 orang dan membuat lebih dari 1.300 orang belum ditemukan.
"Alarm gempa berbunyi, gempa tidak ditemukan. Yang datang justru lumpur, batu, air, dan puing yang menyapu desa. Himalaya seperti sedang mengingatkan: alam tidak selalu mengirim peringatan dalam format yang kita pahami."
Baca juga:
- Kasus APAR Muratara, Vonis Supriyono Naik di Tingkat Banding
- KKN-T Unhas Edukasi Remaja Putri di Jeneponto, Cegah Stunting dari Hulu
- KKN UIN SATU Jemput Bola, 9 Warga Difabel Nglutung Dipetakan
Gala Poin:
1. Getaran M4,4 bukan gempa. Instrumen seismik merekam getaran kuat, tetapi pemeriksaan ilmiah memastikan tidak terjadi gempa bumi.
2. Runtuhnya gletser memicu aliran material dahsyat. Air, lumpur, batu, dan puing bergerak menyusuri lembah hingga menyapu permukiman dan jalur wisata.
3. Korban dan kerusakan terus bertambah. Sedikitnya 165 orang tewas, lebih dari 1.300 hilang, sementara jalan, jembatan, truk, dan proyek pembangkit listrik tenaga air ikut hancur.
Yang membuat peristiwa ini semakin membingungkan, alat pemantau gempa sempat merekam getaran yang setara dengan magnitudo 4,4. Namun, setelah diperiksa, para ilmuwan memastikan getaran tersebut bukan disebabkan gempa bumi.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di Pegunungan Himalaya?
Menurut Survei Geologi AS, bencana dipicu oleh runtuhnya gletser yang menghasilkan aliran material dalam jumlah besar. Lumpur, air, batu, dan puing kemudian bergerak dengan kekuatan dahsyat ke kawasan yang dihuni dan dilalui masyarakat serta wisatawan.
Gemuruh air dan lumpur menghantam desa serta kota di sepanjang dua sungai. Polisi Nepal menyebut telah menemukan 162 jenazah.
Sebanyak 823 orang lainnya, termasuk 579 warga Nepal dan turis asing, masih belum diketahui keberadaannya di Nepal, menurut badan penanggulangan bencana negara tersebut, dilansir kantor berita AFP, Kamis, 27 Agustus 2026.
Di sisi perbatasan China, media pemerintah melaporkan "bencana tanah longsor" di Pelabuhan Gyirong, Tibet. Tiga orang dilaporkan tewas, sementara 558 orang, termasuk 260 warga asing, masih hilang.
Baca juga:
Perusahaan pendakian Himalayan Glacier mengatakan kepada AFP bahwa 47 orang dari sebuah kelompok, termasuk dua anak, hilang di Nepal.
"Tim kami sedang memeriksa rumah sakit tempat para korban datang," kata direktur perusahaan tersebut, Sanket Pandey.
Dahsyatnya aliran material itu digambarkan seperti tsunami yang bukan datang dari laut, melainkan dari lereng pegunungan.
"seperti tsunami daratan, yang bergerak hampir 170 kilometer menyusuri lembah Bhote Koshi ke Nepal Tengah," kata sejarawan lingkungan Ruth Gamble dari Universitas La Trobe di Australia.
"Ini adalah rute populer bagi wisatawan internasional yang bepergian dari Kathmandu ke Lhasa," tambahnya.
Catatan getaran magnitudo 4,4 sempat memberikan kesan awal bahwa gempa mungkin menjadi pemicu bencana. Namun, pemeriksaan ilmiah menunjukkan tidak ada gempa bumi pada hari kejadian.
Artinya, getaran yang terekam justru menjadi petunjuk penting tentang betapa ekstremnya pergerakan material dari pegunungan. Runtuhnya massa gletser dan pergerakan material dalam skala besar dapat menghasilkan getaran yang terbaca oleh instrumen seismik.
Di sinilah publik perlu berhati-hati terhadap kesimpulan cepat: angka magnitudo pada alat pendeteksi belum otomatis berarti gempa bumi terjadi.
Presiden China Xi Jinping mengatakan bahwa "tugas yang paling mendesak adalah melakukan segala upaya untuk mencari dan menyelamatkan orang-orang yang hilang".
Pemerintah Tibet mengerahkan hampir 800 pekerja darurat dan 150 kendaraan, termasuk anjing pelacak dan perahu cepat, untuk mendukung operasi penyelamatan, lapor kantor berita pemerintah China, Xinhua.
Baca juga:
Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) juga mengirimkan pasokan darurat berupa selimut, kotak P3K, tandu, dan kantong jenazah.
Dukungan internasional turut berdatangan.
Amerika Serikat dan Kanada, Rabu (26/8), menyatakan siap memberikan bantuan darurat kepada Nepal. Puluhan warga Amerika Utara juga dilaporkan belum ditemukan.
“Departemen Luar Negeri siap mendukung Pemerintah Nepal dengan bantuan kemanusiaan yang diperlukan,” tulis Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio melalui platform media sosial X.
Rubio menyatakan solidaritas kepada rakyat Nepal dan mengatakan Washington “bersatu dalam doa” setelah bencana tersebut.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney menggambarkan bencana itu sebagai sesuatu yang “sangat menghancurkan”.
“Warga Kanada memikirkan semua orang yang saat ini berada dalam kesulitan, mereka yang kehilangan orang tercinta, dan semua orang yang masih menunggu kepastian,” tulis Carney di X. Ia menambahkan bahwa pemerintahnya siap memberikan dukungan.
![]() |
| Korban dan kerusakan terus bertambah. Sedikitnya 165 orang tewas, lebih dari 1.300 hilang, sementara jalan, jembatan, truk, dan proyek pembangkit listrik tenaga air ikut hancur. Foto: tangkapan layar |
Menurut otoritas Nepal, sedikitnya 47 warga Amerika Serikat termasuk di antara orang-orang yang masih hilang, sementara 24 warga Kanada lainnya juga belum diketahui keberadaannya. Washington dan Ottawa belum memastikan angka itu secara independen.
Angka korban dalam laporan awal memang menunjukkan perbedaan. Sebagian data menyebut sedikitnya 160 korban meninggal dan lebih dari 680 orang hilang, sementara pembaruan lainnya menyebut sedikitnya 165 orang tewas dan lebih dari 1.300 orang masih hilang jika angka dari kedua sisi perbatasan diperhitungkan.
Perbedaan angka ini penting dicatat karena operasi pencarian masih berlangsung dan data korban dapat berubah.
Dampak bencana tidak berhenti pada korban jiwa. Menurut perkiraan pemerintah Nepal, banjir menghancurkan 13 proyek pembangkit listrik tenaga air dan sekitar 40 kilometer jalan. Sekitar 200 truk dan 19 jembatan juga tersapu arus air serta lumpur.
Baca juga:
Bencana ini memperlihatkan satu persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar pertanyaan apakah getaran M4,4 itu gempa atau bukan.
Pegunungan Himalaya merupakan kawasan dengan medan ekstrem, gletser, sungai berarus deras, jalur wisata internasional, dan permukiman yang berada di lembah. Ketika massa es, air, batu, dan sedimen bergerak secara tiba-tiba, kehancuran dapat berlangsung dalam hitungan menit.
Karena itu, sistem peringatan dini tidak cukup hanya mengandalkan pemantauan gempa. Pemantauan gletser, danau glasial, curah hujan, perubahan medan, serta pergerakan material juga menjadi bagian penting dari mitigasi bencana.
Dan bagi masyarakat yang tinggal maupun bepergian di kawasan pegunungan, pelajarannya sederhana: gunung yang terlihat tenang belum tentu sedang aman.
Baca juga:
- PLN Salurkan 100 Paket Sembako ke Pengungsi Ngada dan Nagekeo
- Gempa Flores: Paul Nuwa Veto Buka Layanan Kesehatan Gratis di Nagekeo
Gunung tidak perlu meletus untuk membuat manusia kelabakan. Di Himalaya, gletser runtuh, lumpur berubah menjadi “tsunami daratan”, sementara alat pendeteksi gempa ikut berteriak meski gempa ternyata tidak ada.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #BencanaHimalaya #Nepal #Tibet #GletserRuntuh #BanjirLumpur #MitigasiBencana
.jpg)
.jpg)
.jpg)