GalaPos ID - Iklan Banner

65 Relawan Menuju Flores, Ada 18 Tenaga Kesehatan di Tim Kemanusiaan

GalaPos ID, NTT.
Sebanyak 65 relawan Pemuda Katolik Komda Nusa Tenggara Timur (NTT) berangkat dari Kupang menuju Flores, Sabtu, 22 Agustus 2026, untuk membantu masyarakat terdampak gempa. Menggunakan KM Ilelabalekan, rombongan menempuh perjalanan sekitar 19 jam menuju Ende.
Dari Ende, relawan akan bergerak ke sejumlah wilayah terdampak, termasuk Nagekeo, Ngada, hingga Ruteng, berdasarkan hasil koordinasi serta kebutuhan di lapangan.

65 Relawan Pemuda Katolik Berangkat ke Flores, Bawa 18 Tenaga Kesehatan
65 relawan Pemuda Katolik Komda NTT berangkat ke Flores membawa misi kemanusiaan. Sebanyak 18 tenaga kesehatan ikut dikerahkan untuk membantu pelayanan kesehatan, dapur umum, distribusi bantuan, dan pemulihan masyarakat terdampak gempa. Foto: Erasmus NN

"Di tengah gempa, yang dibutuhkan bukan sekadar foto penyerahan bantuan. 65 relawan Pemuda Katolik bergerak ke Flores membawa tenaga, bukan hanya barang—karena penderitaan warga tidak selesai dengan seremoni dan spanduk."

Baca juga:

Gala Poin:
1. 65 relawan berangkat dari Kupang ke Flores untuk membantu masyarakat terdampak gempa di sejumlah wilayah.
2. 18 tenaga kesehatan dikerahkan untuk memperkuat pelayanan kesehatan dan kebutuhan kemanusiaan di lapangan.
3. Kolaborasi lintas organisasi menjadi kunci, dengan dukungan posko, pemerintah, keuskupan, dan sejumlah organisasi profesi kesehatan.


Di tengah situasi darurat, keberangkatan ini tidak sekadar membawa bantuan logistik. Sebanyak 18 tenaga kesehatan yang terdiri atas perawat, bidan, dan tenaga farmasi turut bergabung untuk memperkuat pelayanan di wilayah terdampak.

Para relawan akan membantu pelayanan kesehatan, dapur umum, distribusi bantuan, pemulihan fasilitas umum, serta pendampingan masyarakat.

Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah NTT, Yuvensius Tukung, mengatakan keberangkatan tersebut merupakan bentuk solidaritas dan kepedulian kepada masyarakat Flores yang tengah menghadapi dampak bencana.

“Kami datang bukan hanya membawa bantuan, tetapi membawakan hati untuk hadir dan ikut merasakan apa yang sedang dialami oleh segenap masyarakat. Tentunya kami ikut terpanggil untuk memberikan diri dan terlibat langsung dalam penanganan masyarakat di sana," kata Yuvensius, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Baca juga:

Keberangkatan 65 relawan tersebut menjadi langkah lanjutan setelah Pemuda Katolik lebih dahulu membentuk sejumlah posko kemanusiaan di wilayah terdampak.
 
"Yang mana di awal, Pemuda Katolik telah membentuk Posko di Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai dan Manggarai Barat," lanjutnya.

Posko tersebut berfungsi sebagai pusat koordinasi agar kader Pemuda Katolik dapat terlibat langsung dalam penanganan masyarakat terdampak. Koordinasi dilakukan lintas pihak, termasuk dengan pemerintah dan keuskupan.

Yuvensius menilai penanganan bencana tidak dapat dibebankan kepada satu pihak. Kebutuhan di lapangan, menurut dia, bukan hanya berupa barang bantuan, tetapi juga tenaga yang mampu memastikan bantuan tersebut sampai kepada masyarakat.

Selanjutnya, mantan Ketua Komisi I DPRD Kota Kupang periode 2019–2024 ini menegaskan bahwa bantuan untuk masyarakat terdampak tidak cukup hanya berupa logistik, tetapi juga membutuhkan kehadiran dan tenaga.

“Logistik tentu banyak mengalir, tetapi harus ada orang yang membantu mendistribusikannya, termasuk ikut memasak di posko. Kita juga perlu memahami bahwa para tenaga kesehatan di sana ikut terdampak dan berada dalam kondisi yang tidak mudah. Karena itu, tidak tepat jika mereka dibiarkan bekerja sendiri tanpa tambahan tenaga dari luar,” tegasnya.

Ia berharap semakin banyak pihak yang ikut berkolaborasi dalam membantu masyarakat terdampak.

Saat ini, Media Centre Pemuda Katolik KOMDA NTT telah aktif. Sambil menjalankan kloter pertama, tim juga terus mempersiapkan kloter berikutnya.

“Kami mengajak semua pihak untuk bergandengan tangan dan bersama-sama membantu mereka yang membutuhkan,” tutupnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa respons kemanusiaan diarahkan bukan hanya pada pengumpulan bantuan, tetapi juga penguatan kapasitas tenaga di lokasi bencana.

65 Relawan Menuju Flores, Ada 18 Tenaga Kesehatan di Tim Kemanusiaan
65 relawan berangkat dari Kupang ke Flores untuk membantu masyarakat terdampak gempa di sejumlah wilayah. 18 tenaga kesehatan dikerahkan untuk memperkuat pelayanan kesehatan dan kebutuhan kemanusiaan di lapangan. Foto: Erasmus NN

18 Tenaga Kesehatan Ikut Dikerahkan
Aksi kemanusiaan ini merupakan hasil kolaborasi Pemuda Katolik dengan Rumah Sakit Khusus Daerah Jiwa Naimata Kupang, Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI) Provinsi NTT, serta Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI).

Kolaborasi tersebut melibatkan tenaga kesehatan untuk memperkuat pelayanan relawan di Flores.

Kami sangat berterima kasih kepada RSJ Naimata Kupang, kepada IPKJI dan PAFI. Ini merupakan kolaborasi luar biasa dan kami telah berkomitmen untuk terus mengembangkan kerja sama kolaborasi ini dalam mempercepat penanganan para korban gempa Flores.

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Daerah Jiwa Naimata, Novy Enggelin Elim, menyampaikan terima kasih kepada Pemuda Katolik Komisariat Daerah NTT yang telah mengajak pihaknya berkolaborasi.

“Kami melihat ini adalah hal yang mulia dan kami sambut dengan baik. Bagi kita, saling berkoordinasi dan saling berkolaborasi seperti akan mempercepat proses penanganan masyarakat terdampak," kata Novy Enggelin.

Baca juga:

Respons kemanusiaan menuju Flores juga mendapat dukungan Pengurus Pusat Pemuda Katolik.

Komandan Nasional Paskokat (Pasukan Komando Pemuda Katolik), Yustinus Wuarmanuk, dan Ketua Bidang Sosial dan Tanggap Bencana Pemuda Katolik, Aris Retnanto, turut membersamai tim dalam koordinasi respons kemanusiaan.

Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Stefanus Gusma, menegaskan bahwa solidaritas harus diwujudkan melalui tindakan nyata.

“Ketika saudara-saudara kita di Flores membutuhkan pertolongan, kita harus hadir dan bergerak bersama. Pemuda Katolik hadir untuk membersamai, melayani, dan membantu proses pemulihan masyarakat,” katanya.

Setibanya di lokasi, tim akan melakukan pemetaan kebutuhan dan berkoordinasi dengan berbagai pihak sebelum menjalankan pelayanan.

Langkah tersebut menjadi penting agar bantuan tidak berhenti pada seremoni keberangkatan, tetapi benar-benar menyesuaikan kebutuhan masyarakat terdampak di lapangan.

Pemuda Katolik menyatakan komitmennya untuk terus hadir dan membersamai masyarakat terdampak bencana dengan semangat Pro Ecclesia et Patria.


Penulis: Erasmus NN

 

 

Baca juga:


Saat bantuan tidak cukup hanya ditumpuk di gudang, 65 relawan Pemuda Katolik memilih naik kapal menuju Flores. Sebab, di tengah bencana, kardus bantuan tidak bisa memasak, mengobati, atau mengangkat puing sendirian.

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #GempaFlores #RelawanKemanusiaan #PemudaKatolik #NTT #AksiKemanusiaan

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال