GalaPos ID, Jeneponto.
Pencegahan stunting tidak semestinya baru dimulai ketika kehamilan terjadi. Masa remaja putri justru menjadi salah satu fase penting untuk membangun kesiapan kesehatan calon ibu.
Perspektif inilah yang diangkat mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Stunting Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 116 melalui program edukasi kesehatan di SMK Negeri 6 Jeneponto, Desa Datara, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).
"Pusing, lemas, dan mengantuk sering dianggap remaja sebagai efek tugas sekolah. Padahal, tubuh kadang sedang mengirim pesan yang lebih serius daripada notifikasi tugas di grup kelas."
Baca juga:
- KKN UIN SATU Jemput Bola, 9 Warga Difabel Nglutung Dipetakan
- Gempa NTT: Polri Siapkan Rp12,68 Miliar dan 284,54 Ton Logistik
- Mahasiswa KKN UMM 2026 Rubah Kulit Jeruk Jadi Produk Ekonomi
Gala Poin:
1. KKN-T Stunting Unhas Gelombang 116 menggelar edukasi “REMAJA BESTIE” di SMKN 6 Jeneponto untuk meningkatkan pemahaman remaja putri tentang anemia dan pencegahan stunting.
2. Materi mencakup gizi, konsumsi TTD, vitamin C, dan pola hidup bersih, disertai diskusi mengenai gejala kesehatan yang kerap dialami remaja.
3. Edukasi diarahkan menjadi gerakan berkelanjutan, dengan mendorong siswi menjadi lebih mandiri dalam menjaga kesehatan sekaligus edukator sebaya di lingkungan mereka.
Program kerja individu tersebut mengusung tema “REMAJA BESTIE” (Remaja Bebas Stunting dan Anemia Sejak Dini). Kegiatan diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswi mengenai anemia, gizi, konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), serta pola hidup bersih dan sehat.
Mahasiswa tidak hanya memberikan materi secara satu arah. Edukasi dikemas secara interaktif melalui diskusi mengenai keluhan kesehatan yang kerap dialami remaja putri, termasuk pusing dan mudah mengantuk yang dapat berkaitan dengan kondisi anemia.
"Pencegahan stunting harus dimulai dari masa remaja karena mereka adalah calon ibu yang menentukan kualitas generasi mendatang," ujar Syarifah Audya Aidid selaku pelaksana program kerja.
Kegiatan diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan penyampaian materi mengenai anemia dan stunting. Para siswi diperkenalkan pada pentingnya asupan makanan kaya zat besi serta konsumsi buah-buahan yang mengandung vitamin C untuk membantu pengoptimalan nutrisi.
Mahasiswa juga memberikan edukasi mengenai konsumsi TTD. Dalam materi kegiatan disebutkan aturan konsumsi satu tablet seminggu sekali dan setiap hari saat menstruasi.
Baca juga:
Dosen Pendamping Kegiatan (DPK), Hasan Basri, mengapresiasi intervensi gizi berbasis sekolah tersebut. Menurutnya, upaya pencegahan stunting perlu dilakukan jauh sebelum seorang perempuan memasuki masa kehamilan.
"Pencegahan stunting tidak bisa dilakukan saat ibu sudah hamil saja, melainkan harus dimulai sejak masa remaja. Investasi kesehatan pada remaja putri adalah investasi untuk Generasi Emas, sebab mempersiapkan calon ibu yang sehat sejak dini merupakan strategi kunci melahirkan anak-anak yang bebas dari stunting," ungkap Hasan Basri.
Syarifah Audya Aidid menjelaskan bahwa program tersebut dilatarbelakangi perhatian terhadap persoalan anemia pada remaja putri di Indonesia.
"Kondisi anemia dengan gejala 5L (Lesu, Letih, Lemah, Lelah, Lalai) dapat menurunkan daya tahan tubuh dan konsentrasi belajar. Jika dibiarkan, dampaknya melintasi tiga generasi, mulai dari risiko menjadi calon ibu dengan gangguan kesehatan hingga memicu stunting pada anak kelak. Melalui program REMAJA BESTIE, kami berharap para siswi dapat menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta rutin mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD)," jelas Syarifah Audya Aidid.
Dari Siswi Menjadi Edukator Sebaya
Program ini menyasar siswi SMKN 6 Jeneponto dengan melibatkan guru pendamping serta mahasiswa KKN-T Unhas Posko Desa Datara.
Target akhirnya bukan sekadar membuat peserta mengetahui apa itu anemia dan stunting, tetapi mendorong remaja putri memiliki pengetahuan dan kemandirian untuk menerapkan perilaku hidup sehat sekaligus menjadi edukator sebaya di lingkungan masing-masing.
Baca juga:
Pendekatan tersebut membuat sekolah menjadi ruang strategis untuk intervensi kesehatan. Pengetahuan yang diperoleh seorang siswi berpotensi menyebar melalui lingkungan pertemanan dan keluarga.
Program ini juga dikaitkan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya penanganan malnutrisi melalui SDG 2, kesehatan melalui SDG 3, pendidikan melalui SDG 4, serta pemberdayaan perempuan melalui SDG 5.
Pada akhirnya, pencegahan stunting dari hulu membutuhkan lebih dari sekadar slogan. Ia membutuhkan pengetahuan, akses terhadap layanan kesehatan, kebiasaan hidup sehat, serta konsistensi intervensi sejak remaja.
Di SMKN 6 Jeneponto, mahasiswa KKN-T Unhas mencoba memulai langkah tersebut dari ruang kelas. Tantangan berikutnya adalah memastikan edukasi tidak berhenti ketika kegiatan KKN berakhir, melainkan berubah menjadi kebiasaan yang terus dijalankan para remaja putri.
Baca juga:
- PLN Salurkan 100 Paket Sembako ke Pengungsi Ngada dan Nagekeo
- Gempa Flores: Paul Nuwa Veto Buka Layanan Kesehatan Gratis di Nagekeo
Kalau pencegahan stunting baru ramai ketika bayi sudah lahir, mungkin kita memang terlalu sibuk mengobati akibat sampai lupa memeriksa akar masalahnya.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #KKNUnhas #KKNStunting #RemajaPutri #AnemiaRemaja #CegahStunting #Jeneponto #EdukasiKesehatan #PemberdayaanRemaja
.jpg)
.jpg)