GalaPos ID - Iklan Banner

KKN-T Unhas Edukasi Remaja Putri di Jeneponto, Cegah Stunting dari Hulu

GalaPos ID, Jeneponto.
Pencegahan stunting tidak semestinya baru dimulai ketika kehamilan terjadi. Masa remaja putri justru menjadi salah satu fase penting untuk membangun kesiapan kesehatan calon ibu.
Perspektif inilah yang diangkat mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Stunting Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 116 melalui program edukasi kesehatan di SMK Negeri 6 Jeneponto, Desa Datara, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Siswi SMKN 6 Jeneponto Diedukasi Soal Anemia dan Pencegahan Stunting
Stunting memang baru terlihat pada anak, tetapi akarnya bisa tumbuh jauh sebelum kehamilan. Lewat program REMAJA BESTIE, mahasiswa KKN-T Unhas mengajak siswi SMKN 6 Jeneponto mengenali anemia, memperhatikan gizi, dan tidak menganggap pusing serta mudah mengantuk sebagai sekadar “kurang tidur”. Foto: istimewa

"Pusing, lemas, dan mengantuk sering dianggap remaja sebagai efek tugas sekolah. Padahal, tubuh kadang sedang mengirim pesan yang lebih serius daripada notifikasi tugas di grup kelas."

Baca juga:

Gala Poin:
1. KKN-T Stunting Unhas Gelombang 116 menggelar edukasi “REMAJA BESTIE” di SMKN 6 Jeneponto untuk meningkatkan pemahaman remaja putri tentang anemia dan pencegahan stunting.
2. Materi mencakup gizi, konsumsi TTD, vitamin C, dan pola hidup bersih, disertai diskusi mengenai gejala kesehatan yang kerap dialami remaja.
3. Edukasi diarahkan menjadi gerakan berkelanjutan, dengan mendorong siswi menjadi lebih mandiri dalam menjaga kesehatan sekaligus edukator sebaya di lingkungan mereka.


Program kerja individu tersebut mengusung tema “REMAJA BESTIE” (Remaja Bebas Stunting dan Anemia Sejak Dini). Kegiatan diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswi mengenai anemia, gizi, konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), serta pola hidup bersih dan sehat.

Mahasiswa tidak hanya memberikan materi secara satu arah. Edukasi dikemas secara interaktif melalui diskusi mengenai keluhan kesehatan yang kerap dialami remaja putri, termasuk pusing dan mudah mengantuk yang dapat berkaitan dengan kondisi anemia.

"Pencegahan stunting harus dimulai dari masa remaja karena mereka adalah calon ibu yang menentukan kualitas generasi mendatang," ujar Syarifah Audya Aidid selaku pelaksana program kerja.

Kegiatan diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan penyampaian materi mengenai anemia dan stunting. Para siswi diperkenalkan pada pentingnya asupan makanan kaya zat besi serta konsumsi buah-buahan yang mengandung vitamin C untuk membantu pengoptimalan nutrisi.

Mahasiswa juga memberikan edukasi mengenai konsumsi TTD. Dalam materi kegiatan disebutkan aturan konsumsi satu tablet seminggu sekali dan setiap hari saat menstruasi.

Baca juga:

Selain persoalan gizi, pola hidup bersih di lingkungan sekolah turut menjadi bagian edukasi. Pendekatan tersebut diarahkan agar pencegahan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam kebiasaan sehari-hari.
 
Pada sesi interaktif, para siswi diajak mendiskusikan keluhan kesehatan yang mereka alami. Cara ini menjadi penting karena gejala yang dianggap sebagai keluhan biasa, seperti mudah lelah atau mengantuk, dapat menjadi sinyal yang perlu diperhatikan.

Dosen Pendamping Kegiatan (DPK), Hasan Basri, mengapresiasi intervensi gizi berbasis sekolah tersebut. Menurutnya, upaya pencegahan stunting perlu dilakukan jauh sebelum seorang perempuan memasuki masa kehamilan.

"Pencegahan stunting tidak bisa dilakukan saat ibu sudah hamil saja, melainkan harus dimulai sejak masa remaja. Investasi kesehatan pada remaja putri adalah investasi untuk Generasi Emas, sebab mempersiapkan calon ibu yang sehat sejak dini merupakan strategi kunci melahirkan anak-anak yang bebas dari stunting," ungkap Hasan Basri.

Pusing dan Mudah Mengantuk? KKN-T Unhas Edukasi Bahaya Anemia
KKN-T Stunting Unhas Gelombang 116 menggelar edukasi “REMAJA BESTIE” di SMKN 6 Jeneponto untuk meningkatkan pemahaman remaja putri tentang anemia dan pencegahan stunting. Materi mencakup gizi, konsumsi TTD, vitamin C, dan pola hidup bersih, disertai diskusi mengenai gejala kesehatan yang kerap dialami remaja. Foto: istimewa

Syarifah Audya Aidid menjelaskan bahwa program tersebut dilatarbelakangi perhatian terhadap persoalan anemia pada remaja putri di Indonesia.

"Kondisi anemia dengan gejala 5L (Lesu, Letih, Lemah, Lelah, Lalai) dapat menurunkan daya tahan tubuh dan konsentrasi belajar. Jika dibiarkan, dampaknya melintasi tiga generasi, mulai dari risiko menjadi calon ibu dengan gangguan kesehatan hingga memicu stunting pada anak kelak. Melalui program REMAJA BESTIE, kami berharap para siswi dapat menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta rutin mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD)," jelas Syarifah Audya Aidid.


Dari Siswi Menjadi Edukator Sebaya
Program ini menyasar siswi SMKN 6 Jeneponto dengan melibatkan guru pendamping serta mahasiswa KKN-T Unhas Posko Desa Datara.

Target akhirnya bukan sekadar membuat peserta mengetahui apa itu anemia dan stunting, tetapi mendorong remaja putri memiliki pengetahuan dan kemandirian untuk menerapkan perilaku hidup sehat sekaligus menjadi edukator sebaya di lingkungan masing-masing.

Baca juga:

Pendekatan tersebut membuat sekolah menjadi ruang strategis untuk intervensi kesehatan. Pengetahuan yang diperoleh seorang siswi berpotensi menyebar melalui lingkungan pertemanan dan keluarga.

Program ini juga dikaitkan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya penanganan malnutrisi melalui SDG 2, kesehatan melalui SDG 3, pendidikan melalui SDG 4, serta pemberdayaan perempuan melalui SDG 5.

Pada akhirnya, pencegahan stunting dari hulu membutuhkan lebih dari sekadar slogan. Ia membutuhkan pengetahuan, akses terhadap layanan kesehatan, kebiasaan hidup sehat, serta konsistensi intervensi sejak remaja.

Di SMKN 6 Jeneponto, mahasiswa KKN-T Unhas mencoba memulai langkah tersebut dari ruang kelas. Tantangan berikutnya adalah memastikan edukasi tidak berhenti ketika kegiatan KKN berakhir, melainkan berubah menjadi kebiasaan yang terus dijalankan para remaja putri.

 

 

Baca juga:


Kalau pencegahan stunting baru ramai ketika bayi sudah lahir, mungkin kita memang terlalu sibuk mengobati akibat sampai lupa memeriksa akar masalahnya.

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #KKNUnhas #KKNStunting #RemajaPutri #AnemiaRemaja #CegahStunting #Jeneponto #EdukasiKesehatan #PemberdayaanRemaja

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال