GalaPos ID, Jakarta.
Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi prioritas terus digenjot. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan 52 armada udara dalam kondisi siaga, termasuk untuk patroli dan operasi water bombing, sementara pemadaman darat dilakukan sejak api terdeteksi hingga tahap pendinginan untuk mencegah kebakaran kembali muncul.
"Tiga koma enam juta liter air sudah disebarkan dari udara. Sebagian pesawat patroli, puluhan lainnya melakukan water bombing. Pertanyaannya sederhana: apakah jutaan liter air itu cukup untuk membuat karhutla benar-benar kapok?"
Baca juga:
- Hujan Turun, Titik Panas Karhutla Sumatra Malah Naik 139
- Karhutla Mengganas: Kalteng Membara, Kaltim? Ini Data Terbarunya
- Polda Banten Selidiki Dugaan Ledakan Bom Ikan di Panimbang
Gala Poin:
1. 52 armada udara disiagakan: 14 armada untuk patroli dan 38 armada untuk water bombing di enam provinsi prioritas.
2. 3,6 juta liter air telah disebarkan: volume water bombing turun dibandingkan hari sebelumnya karena kendala jarak pandang dan beberapa armada menjalani maintenance.
3. OMC berlangsung di tiga provinsi: Riau, Kalimantan Barat, dan Lampung, dengan hasil berupa pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah.
Enam provinsi yang menjadi prioritas tersebut meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menjelaskan, operasi penanganan dilakukan secara optimal melalui darat dengan mengedepankan deteksi dini.
Ketika api masih kecil, pemadaman segera dilakukan. Jika api membesar, personel dikerahkan untuk menangani kebakaran. Bahkan setelah api dinyatakan padam, petugas tetap melakukan pendinginan melalui pembasahan atau mopping up.
Langkah tersebut dilakukan di setiap lokasi yang berada di enam provinsi prioritas.
“Kami tetap menyampaikan bahwa armada saat ini dalam kondisi siaga atau standby. Di lapangan terdapat 52 armada udara,” kata Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers secara daring, Jumat, 28 Agustus 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 14 armada digunakan untuk patroli guna melihat kondisi lapangan, termasuk mendeteksi titik panas dan titik api. Armada juga digunakan untuk mendukung operasi modifikasi cuaca.
Baca juga:
Besarnya pengerahan armada udara berbanding dengan volume air yang telah disebarkan untuk penanganan karhutla.
“Data kami hari ini menunjukkan jumlah air yang disebarkan melalui udara atau dengan water bombing sebesar 3.600.000 liter, atau 3,6 juta liter air, yang disebarkan di seluruh provinsi prioritas,” terangnya.
Namun, volume tersebut turun dibandingkan hari sebelumnya. BNPB menyebut kondisi jarak pandang menjadi salah satu kendala karena dapat mengganggu keselamatan dan pelaksanaan operasi water bombing. Selain itu, sejumlah armada juga sedang menjalani maintenance.
Artinya, operasi udara tidak hanya bergantung pada ketersediaan pesawat dan air. Kondisi atmosfer, jarak pandang, serta kesiapan armada turut menentukan seberapa maksimal pemadaman dari udara dapat dilakukan.
| Foto: Helikopter water bombing melakukan operasi pemadaman karhutla di Kubu Raya, Selasa, 25 Agustus 2026/BNPB |
OMC Berjalan di Riau, Kalbar, dan Lampung
Selain pemadaman darat dan water bombing, BNPB saat ini menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC) di tiga provinsi, yakni Riau, Kalimantan Barat, dan Lampung.
“Untuk Lampung, operasi modifikasi cuaca dilakukan sesuai dengan arahan Bapak Presiden. Hal ini karena di sekitar Taman Nasional Way Kambas terjadi kebakaran. Operasi tersebut sudah dilaksanakan dan api sudah padam,” lanjut Berton.
Meski api di sekitar Taman Nasional Way Kambas telah padam, personel tetap disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan kebakaran lanjutan.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemadaman tidak berhenti ketika api terlihat sudah tidak menyala. Risiko munculnya kembali titik api tetap menjadi perhatian sehingga personel masih ditempatkan dalam kondisi siaga.
Baca juga:
OMC Riau Hasilkan Pertumbuhan Awan Hujan
Di Riau, OMC pada 27 Agustus memperlihatkan hasil positif. Pertumbuhan awan hujan terjadi di sekitar Pekanbaru pada pukul 20.30 WIB.
Operasi serupa juga dilakukan di Kalimantan Barat selama 4 jam 40 menit dengan menyemai 2.000 kilogram garam. Hasilnya, pertumbuhan awan hujan terpantau di sekitar Bengkayang dan Sambas, Kalimantan Barat.
Sementara di Lampung, OMC dilakukan selama 1 jam 11 menit dengan menyebarkan 800 kilogram garam. Pertumbuhan awan hujan terjadi di bagian barat Provinsi Lampung dan Bengkulu, serta beberapa titik di sepanjang jalur OMC tersebut.
Di tengah pengerahan personel dan armada tersebut, tantangan utama tetap sama: memastikan api benar-benar padam dan tidak kembali muncul. Sebab, dalam penanganan karhutla, memadamkan api hanyalah satu tahap. Deteksi dini, pemadaman cepat, pendinginan, patroli, dan kesiapsiagaan menjadi rangkaian yang harus berjalan terus-menerus.
Dengan 52 armada udara dalam kondisi siaga, 38 di antaranya untuk water bombing, serta jutaan liter air yang telah disebarkan, publik kini tinggal menunggu satu ukuran paling penting: seberapa jauh pengerahan sumber daya tersebut mampu menekan karhutla dan mencegah api kembali membesar.
Baca juga:
- KKN UIN SATU Jemput Bola, 9 Warga Difabel Nglutung Dipetakan
- Gempa NTT: Polri Siapkan Rp12,68 Miliar dan 284,54 Ton Logistik
Sebanyak 52 armada udara disiagakan dan 3,6 juta liter air sudah dijatuhkan. Namun, setelah api padam pun petugas masih harus membasahi lahan. Karhutla rupanya punya kebiasaan buruk: terlihat padam, tetapi belum tentu benar-benar selesai.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Karhutla #BNPB #WaterBombing #OperasiModifikasiCuaca #BencanaIndonesia
.jpg)