GalaPos ID, Jakarta.
Hujan yang turun setelah operasi modifikasi cuaca (OMC) belum sepenuhnya membuat ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mereda. Di Sumatera, titik panas justru kembali meningkat, menjadi alarm bahwa hujan belum otomatis berarti persoalan karhutla selesai.
"Beberapa hari hujan, tetapi titik panas kembali naik. Di Sumatera terdapat 207 titik panas dan 12 titik api, sementara indikasi lahan terbakar menembus 16.465 hektare. Alam mungkin sedang basah, tetapi karhutla tampaknya belum kapok."
Baca juga:
- Karhutla Mengganas: Kalteng Membara, Kaltim? Ini Data Terbarunya
- Polda Banten Selidiki Dugaan Ledakan Bom Ikan di Panimbang
- Miris! Tersinggung Dinasehati, Pria di Bangka Selatan Diduga Aniaya Ibu Kandung
Gala Poin:
1. Titik panas Sumatera meningkat: naik 139 menjadi 207 titik, dengan 12 titik api dan indikasi lahan terbakar lebih dari 16.465 hektare.
2. Jambi ikut mengalami kenaikan: terdapat 56 titik panas dan 6 titik api, dengan indikasi lahan terbakar lebih dari 954 hektare.
3. Sebaran asap perlu diwaspadai: BNPB menyampaikan peta prediksi BMKG menunjukkan polutan asap sangat pekat di sejumlah wilayah Kalimantan dan terbawa angin ke arah utara.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan perkembangan karhutla di Sumatera. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, setelah beberapa hari terjadi hujan akibat intervensi melalui operasi modifikasi cuaca (OMC), terdapat peningkatan titik api dan titik panas.
“Titik panas meningkat sebesar 139 titik sehingga hari ini terdapat 207 titik panas, sedangkan titik api sebanyak 12 titik,” kata Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers secara daring, Jumat, 28 Agustus 2026.
Indikasi lahan terbakar di wilayah tersebut mencapai lebih dari 16.465 hektare, dengan jarak pandang 5 kilometer.
Data itu menjadi catatan penting bagi publik. Sebab, keberhasilan menghadirkan hujan melalui OMC belum serta-merta dapat dibaca sebagai berakhirnya ancaman karhutla. Ketika titik panas kembali meningkat, pengawasan dan penanganan di lapangan tetap menjadi pekerjaan yang tidak bisa ditunda.
Jambi Ikut Mengalami Kenaikan
Kondisi serupa terlihat di Jambi. Titik panas ditemukan meningkat sebesar 14 titik menjadi 56 titik, sedangkan titik api sebanyak 6 titik.
“Luas lahan yang terbakar diindikasikan lebih dari 954 hektare, dengan jarak pandang 5 kilometer,” terangnya,
Baca juga:
Publik Bisa Memantau Data Karhutla
BNPB juga mengarahkan masyarakat yang ingin memperoleh informasi lebih lanjut untuk mengakses sipongi.gakum.kehutanan.go.id. Situs tersebut memberikan informasi yang lebih luas dan detail terkait situasi terkini.
Selain itu, masyarakat maupun awak media dapat memantau indeks standar pencemaran udara melalui ispu.kemenlh.go.id.
Peta tersebut menunjukkan indeks standar pencemaran udara dari Kementerian Lingkungan Hidup dengan kategori merah, hijau, dan kuning. Informasi itu dapat digunakan untuk melihat lebih jauh kondisi kualitas udara sekaligus lokasi dan kriterianya.
Informasi mengenai sebaran polutan juga menjadi bagian penting dalam membaca ancaman karhutla. BNPB menyampaikan peta prediksi sebaran polutan dari BMKG.
Pada peta tersebut, titik atau daerah yang paling hitam menunjukkan lokasi dengan polutan asap sangat pekat. Kondisi itu terdapat di Kalimantan bagian tengah dan Kalimantan bagian barat, khususnya di bagian timur maupun bagian utara Kalimantan Barat. Arah angin membawa polutan tersebut ke arah utara.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak selalu berhenti di lokasi kebakaran. Asap dan polutan dapat terbawa angin menuju wilayah lain, sehingga pemantauan kualitas udara dan prediksi sebaran polutan menjadi informasi yang penting bagi masyarakat. BNPB menegaskan penanganan karhutla dilakukan melalui operasi darat maupun operasi udara.
“Ini tetap kami sampaikan secara singkat saja karena operasi karhutla dilakukan melalui operasi darat maupun operasi udara.”
Pada akhirnya, hujan memang dapat menjadi kabar baik. Namun, ketika titik panas kembali meningkat setelah beberapa hari hujan, publik punya alasan untuk tetap waspada.
Baca juga:
KKN-T Unhas Edukasi Remaja Putri di Jeneponto, Cegah Stunting dari Hulu
Karhutla bukan hanya perkara kapan hujan turun, tetapi juga seberapa efektif api dicegah, dipadamkan, dan diawasi agar tidak kembali menyebar.
Sebab, bagi masyarakat yang berada di sekitar wilayah terdampak, yang dibutuhkan bukan sekadar angka titik panas yang terus diperbarui, melainkan kepastian bahwa udara yang mereka hirup tetap aman dan aktivitas sehari-hari tidak kembali terganggu oleh asap.
Baca juga:
KKN UIN SATU Jemput Bola, 9 Warga Difabel Nglutung Dipetakan
Hujan sudah dipanggil lewat operasi modifikasi cuaca, tetapi karhutla rupanya belum mendapat memo. Titik panas di Sumatera malah naik 139 titik menjadi 207. Publik pun patut bertanya: kalau hujan saja belum cukup, lalu apa yang benar-benar membuat api berhenti?
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Karhutla #BNPB #Sumatera #Jambi #KebakaranHutan
.jpg)
.jpg)