GalaPos ID, Malang.
Di tengah derasnya arus digital, polarisasi sosial, dan krisis integritas yang terus menjadi sorotan, membangun Indonesia tidak cukup hanya dengan proyek infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi.
Tantangan terbesar justru terletak pada pembangunan manusia. Pertanyaan yang mengemuka pun sederhana: mampukah nilai-nilai yang disuarakan dalam forum keagamaan benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari dan memberi dampak bagi masyarakat?
"Seminar tentang karakter selalu penuh. Tantangan sebenarnya dimulai ketika peserta pulang dan berhadapan dengan godaan kekuasaan, uang, serta ego."
Baca juga:
- Nelayan Sulit Melaut, Harga Ikan di Belitung Timur Bikin Kantong Warga Tertekan
- Kelangkaan MinyaKita Picu Warga Jember Beli Minyak Curah dan Premium
- Tiga Buruh Terjebak Air Pasang di Tebing Uluwatu, Tim SAR Evakuasi Selamat
Gala Poin:
1. KTN ke-63 YPPII menegaskan pentingnya membangun generasi yang kuat secara spiritual, berkarakter, dan peduli terhadap masa depan Indonesia.
2. Ketua Umum YPPII menekankan bahwa iman harus diwujudkan melalui kasih, kejujuran, pelayanan, serta penghormatan terhadap keberagaman tanpa membedakan suku, agama, maupun golongan.
3. Forum ini mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau infrastruktur, tetapi juga dari kualitas karakter, integritas, dan tanggung jawab sosial masyarakat.
Refleksi itu menjadi benang merah Kebaktian Tahunan Nasional (KTN) ke-63 Yayasan Pelayanan Pekabaran Injil Indonesia (YPPII) yang digelar di Kota Batu, Jawa Timur, Rabu, 1 Juli 2026. Ribuan peserta dari berbagai daerah mengikuti rangkaian ibadah dan seminar kebangsaan yang mengangkat tema pembentukan karakter generasi masa depan.
Mengusung tema "God's Arrow Generation" yang terinspirasi dari Mazmur 127:1-5, forum tersebut mengajak peserta memahami bahwa generasi muda dipersiapkan bukan hanya memiliki keteguhan iman, tetapi juga diarahkan untuk memberi manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Ketua Umum YPPII, Pdt. Roland M. Oktavianus, menegaskan bahwa kehidupan beriman harus diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk menjaga persatuan dan menghormati keberagaman.
"Mencintai Indonesia diwujudkan dengan menghadirkan nilai-nilai kristiani dalam kehidupan sehari-hari, seperti kasih, kejujuran serta semangat melayani tanpa membedakan suku, agama, maupun golongan. Melalui semangat itulah, gereja diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya teguh dalam iman, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap masa depan bangsa," jelas Pdt. Roland M. Oktavianus.
Baca juga:
10 Orang Terjaring OTT KPK di Riau, Dugaan Korupsi Jabatan Disorot
Selain kebaktian, KTN ke-63 juga menghadirkan Seminar Wawasan Kebangsaan bertema "Membangun Generasi Sehat untuk Masa Depan Bangsa." Seminar tersebut menghadirkan sejumlah pejabat negara, di antaranya Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim Hashim S. Djojohadikusumo, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin P. Octavianus, serta Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam Fary D. Francis.
Kehadiran para pejabat negara menunjukkan adanya ruang kolaborasi antara pemerintah, tokoh agama, akademisi, dan masyarakat dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Forum ini menekankan bahwa generasi sehat tidak hanya diukur dari kondisi fisik, tetapi juga kesehatan mental, moral, spiritual, serta integritas.
Namun, tantangan sesungguhnya tidak berhenti pada penyelenggaraan seminar atau forum nasional. Nilai-nilai tentang kejujuran, toleransi, gotong royong, dan kepedulian sosial yang disampaikan dalam ruang ibadah akan diuji ketika berhadapan dengan realitas sehari-hari, mulai dari praktik korupsi, intoleransi, penyalahgunaan kekuasaan, hingga lunturnya etika di ruang publik.
Di titik inilah pesan KTN ke-63 menemukan relevansinya. Pembangunan bangsa bukan hanya soal mencetak manusia yang cerdas, tetapi juga manusia yang berkarakter. Sebab, kemajuan sebuah negara pada akhirnya lebih ditentukan oleh kualitas manusianya daripada megahnya pembangunan fisik.
Baca juga:
Dugaan Contract Splitting Proyek Rp17 M, Tiga ASN Belitung Timur Dijerat Korupsi
KTN ke-63 YPPII menjadi pengingat bahwa membangun Indonesia dimulai dari membangun manusianya. Dan membangun manusia tidak cukup melalui pengetahuan semata, melainkan juga melalui pembentukan iman, karakter, integritas, serta kepedulian terhadap sesama.
Bagi publik, ukuran keberhasilan forum seperti ini bukan hanya banyaknya peserta atau tokoh yang hadir, melainkan sejauh mana nilai-nilai yang disampaikan benar-benar hidup di tengah masyarakat.
Baca juga:
Sindikat Judi Online 1XBET Terbongkar, Empat Tersangka Ditangkap
Bangsa ini tidak kekurangan seminar kebangsaan. Yang masih langka adalah ketika nilai yang dibahas di panggung benar-benar dipraktikkan di ruang publik.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #YPPII #KebaktianTahunanNasional #GenerasiBerkarakter #WawasanKebangsaan #IndonesiaBerintegritas
.jpg)
.jpg)