GalaPos ID, Jember.
Kelangkaan minyak goreng bersubsidi MinyaKita di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mulai membebani masyarakat.
Selama sekitar dua pekan terakhir, produk yang menjadi andalan warga berpenghasilan rendah itu sulit ditemukan, memaksa konsumen beralih ke minyak goreng curah atau minyak kemasan premium dengan harga yang lebih tinggi.
![]() |
| MinyaKita memang langka, tetapi yang selalu melimpah adalah alasan. Sementara itu, masyarakat kembali diminta beradaptasi dengan harga yang terus menguras isi dompet. |
"MinyaKita memang langka, tetapi yang selalu melimpah adalah alasan. Sementara itu, masyarakat kembali diminta beradaptasi dengan harga yang terus menguras isi dompet."
Baca juga:
- Kejurnas Atletik 2026, Ribuan Atlet Berlari Mengejar Prestasi
- Viral! Kampung Pesisir di Pamekasan Disulap Jadi Kampung Piala Dunia
- Honda Klaim Vario Evo 160 Lebih Bertenaga, Ini Data Performa Lengkapnya
Gala Poin:
1. MinyaKita langka di sejumlah pasar tradisional Jember selama sekitar dua pekan terakhir akibat minimnya pasokan.
2. Masyarakat beralih ke minyak curah seharga Rp21.000 per kilogram atau minyak kemasan premium yang mencapai Rp42.000–Rp44.000 per dua liter.
3. Pedagang meminta pemerintah segera memulihkan distribusi MinyaKita agar masyarakat kembali memperoleh minyak goreng bersubsidi dengan harga terjangkau.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kelancaran distribusi minyak goreng bersubsidi. Di tengah kebutuhan pokok yang terus meningkat, masyarakat justru dihadapkan pada pilihan membeli minyak curah yang ikut naik harga atau minyak kemasan premium yang jauh lebih mahal.
Di sejumlah toko di Pasar Tanjung Jember, pedagang kini hanya menyediakan berbagai merek minyak goreng kemasan premium. Harga produk tersebut berkisar antara Rp42.000 hingga Rp44.000 untuk kemasan dua liter.
Sementara itu, minyak goreng curah menjadi alternatif utama bagi masyarakat. Meski lebih terjangkau dibandingkan minyak premium, harganya kini mencapai Rp21.000 per kilogram. Padahal sebelumnya masyarakat masih dapat membeli MinyaKita dengan harga sekitar Rp16.000 hingga Rp17.000 per liter.
Baca juga:
Warga Batu Bara Tuntut Perbaikan Drainase, Pos Kehutanan Digugat Protes Banjir
Kelangkaan MinyaKita membuat pola belanja masyarakat berubah. Produk bersubsidi yang semestinya menjadi penyangga kebutuhan rumah tangga justru sulit diperoleh, sementara alternatif yang tersedia menuntut pengeluaran lebih besar.
Sembari menunggu pasokan MinyaKita kembali normal, masyarakat memilih minyak goreng curah sebagai pilihan yang dianggap paling ekonomis. Namun, selisih harga dengan minyak premium tetap menjadi beban tambahan bagi rumah tangga yang harus menyesuaikan pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari.
Para pedagang berharap pemerintah segera memastikan distribusi MinyaKita kembali lancar sehingga masyarakat dapat memperoleh minyak goreng bersubsidi dengan harga sesuai ketentuan dan daya beli warga tidak semakin tergerus.
Baca juga:
APPBI Dorong Industri Batik Lewat Puspa Nuswantara 2026 di JICC Jakarta
Saat minyak goreng subsidi menghilang dari pasaran, pilihan warga tinggal dua: beli yang lebih mahal atau mengurangi kebutuhan dapur. Lagi-lagi, rakyat yang menyesuaikan keadaan.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #MinyaKita #Jember #MinyakGoreng #EkonomiRakyat #PasarTradisional
.jpg)
.jpg)