GalaPos ID, Jakarta
Air bersih, MCK, tempat ibadah, jalan, hingga jembatan masih menjadi bagian dari kebutuhan dasar yang disebut Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto perlu segera dipenuhi di desa-desa Indonesia.
"Kalau desa wisata sudah siap dijual ke dunia, jangan sampai toilet dan air bersihnya masih menunggu sponsor. Mendes Yandri kini mengajak perusahaan memperluas desa binaan."
Baca juga:
- Polda Banten Ringkus Dua Terduga Penusukan Calon Penumpang Bus
- Karhutla 2026: Enam Provinsi Masih Dilanda Kebakaran Lahan Gambut
- 34 JPU Disiapkan Sidang Perdana Febrie Adriansyah, Jaksa Eks-KPK Masuk Tim
Gala Poin:
1. Kebutuhan dasar desa masih menjadi perhatian: air bersih, MCK, tempat ibadah, jalan, dan jembatan menjadi fokus yang disoroti Mendes Yandri.
2. Perusahaan didorong memperluas program desa binaan: CSR diarahkan bukan hanya pada kegiatan ekonomi, tetapi juga pemenuhan kebutuhan dasar dan peningkatan kualitas hidup.
3. Keberhasilan harus diuji di lapangan: kolaborasi tidak cukup diukur dari jumlah perusahaan atau kegiatan, melainkan dari manfaat yang benar-benar diterima dan berkelanjutan bagi masyarakat desa.
Di tengah agenda pembangunan desa yang kerap dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi dan pengembangan potensi lokal, persoalan kebutuhan paling mendasar justru kembali menjadi sorotan. Yandri mengajak perusahaan peserta CSR dan PDB Awards 2026 memperluas kolaborasi melalui program desa binaan.
Ajakan itu disampaikan Yandri dalam Pertemuan/Silaturahmi dan Diskusi tentang Pembangunan Desa Bersama Perusahaan Peserta CSR dan PDB Awards 2026 di Amanaia Satrio, Jakarta, Rabu (7/10/2026).
"Seberapa pun sumbangsihnya tentu kami harapkan dan akan kami maksimalkan. Kita keroyokan agar desa-desa di Indonesia tidak ada lagi yang tidak punya sumber air minum, tidak ada lagi yang tidak punya MCK, semua punya tempat ibadah yang layak, tidak ada lagi jalan atau jembatan yang tidak layak," tutur Mendes Yandri, dalam keterangan yang diterima Rabu, 7 Oktober 2026.
Pernyataan tersebut menempatkan pemenuhan kebutuhan dasar sebagai salah satu pekerjaan penting pembangunan desa. Sebab, sebelum berbicara tentang desa wisata, produk unggulan, atau pasar internasional, persoalan air minum, sanitasi, akses jalan, dan jembatan masih menjadi kebutuhan yang harus dipastikan tersedia.
Yandri berharap perusahaan peserta CSR dan PDB Awards dapat memberikan dukungan melalui kolaborasi yang solid untuk memastikan kemajuan dan kemandirian desa sehingga tidak ada lagi desa tertinggal dan sangat tertinggal.
Namun, tantangannya bukan sekadar seberapa banyak perusahaan yang bersedia terlibat. Pertanyaan yang lebih penting bagi publik adalah seberapa nyata program tersebut menyentuh kebutuhan masyarakat, berapa banyak desa yang mendapatkan manfaat, serta bagaimana keberlanj pertumbuhan ekonomi. Kualitas hidup masyarakat, terpenuhinya kebutuhan dasar, dan kemampuan masyarakat menciptakan penghidupan berkelanjutan juga menjadi ukuranutan program setelah bantuan atau kegiatan CSR selesai.
Dalam konsep pembangunan yang disampaikan Yandri, keberhasilan pembangunan desa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi. Kualitas hidup masyarakat, terpenuhinya kebutuhan dasar, dan kemampuan masyarakat menciptakan penghidupan berkelanjutan juga menjadi ukuran yang ditekankan.
Ia menegaskan bahwa kontribusi berbagai pihak dapat menambah pemanfaatan potensi desa, baik melalui unit usaha seperti desa wisata maupun produk barang yang dapat didistribusikan hingga tingkat internasional.
Pada saat yang sama, fokus kolaborasi juga diarahkan pada kebutuhan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, seperti penyediaan air bersih, MCK, dan jembatan desa.
"Intinya kami mengajak Bapak Ibu terlibat untuk ini. Sekecil apa pun bantuan pasti sangat bermakna untuk masyarakat desa. Ini bagian dari cara kita memandang Indonesia sebagai satu kesatuan," tegasnya.
Baca juga:
Punya Visa hingga 2027, WNA China Tetap Ditolak Masuk Indonesia
Air bersih menjadi salah satu persoalan yang mendapat perhatian dalam agenda tersebut. Kebutuhan itu bersifat mendasar, tetapi dalam pernyataan pemerintah masih disebut terdapat masyarakat desa yang belum memperoleh akses sebagaimana diharapkan.
Kar keberhasilan program menjadi penting. Bantuan yang terlihat dalam seremoni tentu mudah diberitakan, tetapi manfaat yangena itu, pelibatan perusahaan diarahkan untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan dasar di desa.
Di titik ini, ukuran keberhasilan program menjadi penting. Bantuan yang terlihat dalam seremoni tentu mudah diberitakan, tetapi manfaat yang bertahan dan benar-benar digunakan masyarakat jauh lebih penting untuk dinilai.
Kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan juga pada akhirnya perlu dilihat bukan hanya dari jumlah perusahaan yang terlibat, tetapi dari dampaknya di lapangan: apakah air memperluas desa binaan dinilai oleh perusahaan yang hadir sebagai langkah untuk memperbesar kontribusi sekal benar-benar mengalir, MCK benar-benar digunakan, jembatan benar-benar berfungsi, dan masyarakat memperoleh manfaat secara berkelanjutan.
Dari CSR ke Kemandirian Desa
Perusahaan yang hadir dalam forum tersebut disebut telah menjadi mitra Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) dalam memajukan desa di berbagai provinsi sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.
Ajakan memperluas desa binaan dinilai oleh perusahaan yang hadir sebagai langkah untuk memperbesar kontribusi sekaligus memperluas manfaat bagi masyarakat. Dengan demikian, kontribusi tidak berhenti pada wilayah tertentu.
Sejumlah perusahaan yang hadir antara lain Kaltim Nitrate Indonesia, PT PLN Nusantara Power Cirata, PT Pertamina Gas Negara, PT Sumber Daya Arindo, PT Multi Harapan Utama, PT PLN Jawa Timur, PLN Unit Pemeliharaan, dan Pertamina Hulu Energi.
Baca juga:
Kapolri Suyudi Mutasi 88 Perwira, 19 Kapolda Bergeser
Magi publik, gagasan gotong royong tersebut menyisakan pekerjaan rumah yang tidak kalah penting: memastikan kolaborasi tidak hanya menghasilkanereka disebut sepakat terlibat langsung dalam memajukan desa melalui konsep gotong royong.
Bagi publik, gagasan gotong royong tersebut menyisakan pekerjaan rumah yang tidak kalah penting: memastikan kolaborasi tidak hanya menghasilkan daftar perusahaan dan program, tetapi juga menghasilkan perubahan yang bisa dirasakan masyarakat desa.
Sebab, ukuran paling sederhana pembangunan desa bukanlah seberapa ramai forum kolaborasi digelar. Ukurannya justru jauh lebih dekat dengan kehidupan warga: apakah mereka kini mendapatkan air bersih, sanitasi yang layak, akses jalan dan jembatan yang aman, serta kesempatan membangun kehidupan yang lebih mandiri.
Baca juga:
Revolver dan 10 Munisi Diamankan TNI dari Patroli di Aifat Selatan
Indonesia ingin desa naik kelas, tetapi air bersih, MCK, jalan, dan jembatan masih harus dicari lewat gotong royong. Pertanyaannya sederhana: kapan kebutuhan dasar tak lagi menjadi proyek yang harus “dikeroyok”?
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #MendesPDT #PembangunanDesa #CSR #DesaIndonesia #AirBersih
.jpg)
.jpg)