GalaPos ID, Jakarta.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menunjukkan wajah yang sulit ditaklukkan. Di enam provinsi yang memiliki kawasan lahan gambut, sekitar 186 hektare masih dalam proses pemadaman, sementara kabut asap pekat mulai mengganggu aktivitas penerbangan dan warga dilaporkan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyebut kondisi karhutla di enam provinsi tersebut masih tergolong berat.
"186 hektare lahan gambut masih terbakar, penerbangan ikut terganggu, warga mulai sakit. Kalau asap sudah menjadi “tamu tahunan”, pertanyaannya bukan lagi kapan datang, tetapi kapan benar-benar pergi."Baca juga:
- 34 JPU Disiapkan Sidang Perdana Febrie Adriansyah, Jaksa Eks-KPK Masuk Tim
- 88 Perwira Dimutasi Kapolri Suyudi, Ini Daftarnya
- Punya Visa hingga 2027, WNA China Tetap Ditolak Masuk Indonesia
Gala Poin:
1. Karhutla masih berat di enam provinsi lahan gambut, dengan sekitar 186 hektare lahan masih dalam proses pemadaman.
2. Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan kondisi paling parah, sementara kabut asap dilaporkan telah mengganggu aktivitas penerbangan.
3. Dampak kesehatan mulai meningkat, ditandai bertambahnya warga yang sakit akibat paparan asap sehingga BNPB bersama Kementerian Kesehatan memperkuat pelayanan dan distribusi masker.
Penanganan kini berfokus pada Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.
"Kondisi Karhutla sampai hari ini memang masih berat di enam provinsi lahan gambut. Tadi kami laporkan ke Bapak Menko, yang sedang dipadamkan hari ini ada 186 hektare," kata Suharyanto di Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2026.
Angka 186 hektare itu bukan satu-satunya luasan lahan yang terbakar. BNPB juga mencatat 13 kejadian kebakaran di luar enam provinsi prioritas dengan luas mencapai lebih dari 400 hektare. Perbedaannya, kebakaran di lahan mineral dinilai relatif lebih mudah ditangani dibandingkan kebakaran di lahan gambut.
Masalahnya, lahan gambut memiliki karakter yang membuat pekerjaan pemadaman tidak sesederhana memadamkan api yang terlihat di permukaan. Api dapat kembali muncul meski sebelumnya dianggap telah berhasil dikendalikan.
"Pemadaman di lahan gambut sangat sulit. Hari ini bisa dipadamkan semua, belum tentu besok sudah selesai karena bisa muncul titik kebakaran baru," ujarnya.
Ketika Api Mengganggu Aktivitas Publik
Dampak karhutla kini tidak berhenti pada kawasan yang terbakar. Kondisi paling parah terpantau di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan, dengan kabut asap pekat yang dilaporkan telah mengganggu aktivitas penerbangan.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan karhutla bukan semata perkara luas lahan yang terbakar. Ketika asap menyebar, dampaknya dapat merembet ke aktivitas masyarakat dan layanan publik.
Di Jambi, persoalan kembali muncul setelah kondisi sebelumnya sempat terkendali. Titik api baru dilaporkan muncul di kawasan Taman Nasional Bukit Sembilan dan sempat menghanguskan hingga 300 hektare lahan.
Penanganan kemudian berhasil menekan luasan api menjadi sekitar 140 hektare. Kawasan tersebut beruntung bukan merupakan lahan gambut sehingga relatif lebih mudah ditangani.
Namun, munculnya kembali titik api setelah kondisi sempat terkendali menjadi pengingat bahwa karhutla belum dapat dianggap selesai hanya karena api di satu lokasi berhasil ditekan.
Asap dan Risiko Kesehatan Warga
Di tengah upaya pemadaman, persoalan lain ikut mengemuka: kesehatan masyarakat. BNPB menyatakan terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan terkait dampak kabut asap. Distribusi perlengkapan seperti masker juga telah dilakukan secara masif di wilayah terdampak.
BNPB mengakui adanya peningkatan jumlah warga yang jatuh sakit akibat paparan asap. Pelayanan kesehatan pun terus dimaksimalkan sesuai arahan Menteri Koordinator. Di titik ini, keberhasilan penanganan karhutla tidak semestinya hanya diukur dari seberapa banyak hektare api berhasil dipadamkan.
Bagi masyarakat, pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah seberapa cepat udara kembali aman, aktivitas publik kembali normal, dan warga tidak terus menjadi pihak yang menanggung dampaknya.
Karhutla yang hari ini terlihat padam pun belum tentu benar-benar berakhir. Setidaknya, peringatan BNPB tentang kemungkinan munculnya titik kebakaran baru di lahan gambut menunjukkan bahwa pekerjaan belum selesai ketika api di permukaan menghilang..
Baca juga:
Nyeri Dada Setelah Minum Soda: Penyebab, Risiko, dan Dampaknya bagi Kesehatan
Api dipadamkan, asap belum tentu hilang. Karhutla di Indonesia kembali mengingatkan: lahan gambut ternyata punya cara sendiri untuk menyimpan bara dan menguji kesabaran pemerintah.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Karhutla2026 #KabutAsap #BNPB #LahanGambut #KebakaranHutan #KalimantanTengah
Tags
Nasional

