GalaPos ID, NTT.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggalkan duka yang terus bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 68 orang meninggal dunia hingga Senin, 17 Agustus 2026, atau hari ketiga setelah gempa terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
"68 orang meninggal, ribuan rumah rusak, rumah sakit terdampak. Gempa memang berhenti mengguncang tanah, tetapi bagi korban, “guncangan” sebenarnya bisa berlangsung jauh lebih lama."
Baca juga:
- Hikayat dari Kecerdasan Buatan dan Ironi Kemerdekaan Kebudayaan Kita
- Upacara Perdana HUT ke-81 RI di Blok Ester, Nasionalisme Dimulai dari Warga
- 14 Calon Hakim Disetujui Komisi III, Rikwanto Tekankan Integritas
Gala Poin:
1. Korban meninggal akibat gempa M7,7 di NTT bertambah menjadi 68 orang, dengan korban terbanyak berada di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.
2. Operasi SAR dan layanan kesehatan darurat masih berlangsung, sementara kerusakan rumah serta fasilitas publik terus diverifikasi di tujuh kabupaten terdampak.
3. Aktivitas gempa belum sepenuhnya stabil, dengan 1.576 gempa susulan tercatat hingga 17 Agustus 2026 dan 54 di antaranya dirasakan warga.
Data tersebut disampaikan Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan.
"Data yang kami peroleh hingga saat ini sebanyak 68 jiwa yang meninggal," kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers, Senin, 17 Agustus 2026.
Korban meninggal tersebar di tujuh kabupaten. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak, yakni 26 jiwa, disusul Manggarai Timur 24 jiwa, Nagekeo delapan jiwa, Sikka empat jiwa, serta Ende, Manggarai Barat, dan Ngada masing-masing dua jiwa.
Angka tersebut masih menjadi perhatian karena proses pencarian dan penanganan dampak gempa belum sepenuhnya berakhir. Pada hari ketiga pascagempa, tim pencarian dan pertolongan (SAR) masih melakukan penyisiran di sejumlah lokasi terdampak.
Baca juga:
Situasi tersebut menunjukkan bahwa operasi tanggap darurat tidak berhenti setelah angka korban berhasil dihimpun. Medan terdampak, kondisi bangunan, akses menuju lokasi, serta potensi gempa susulan tetap menjadi tantangan bagi petugas di lapangan.
Rumah Sakit Rusak, Layanan Medis Darurat Diperkuat
Selain pencarian korban, kebutuhan mendesak lainnya adalah memastikan warga tetap memperoleh pelayanan kesehatan.
Sejumlah rumah sakit, puskesmas, dan fasilitas kesehatan lainnya mengalami kerusakan akibat guncangan. Kondisi itu membuat pelayanan medis darurat menjadi bagian penting dari penanganan pascagempa.
Pos komando akan mengoperasikan rumah sakit lapangan untuk melayani korban gempa sekaligus warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Dua rumah sakit lapangan telah dikirim menuju Kabupaten Manggarai dan Nagekeo.
Operasional fasilitas tersebut nantinya mendapat dukungan dari tim emergensi medis atau Emergency Medical Team (EMT) Kementerian Kesehatan.
Sebelumnya, pada Minggu (16/8), Kementerian Kesehatan melalui Pusat Krisis telah mengaktifkan Health Emergency Operation Center (HEOC) di tingkat pusat, provinsi, serta kabupaten/kota di wilayah terdampak bencana.
Untuk pelayanan darurat kesehatan, Kementerian Kesehatan juga memobilisasi dua tim manajemen krisis kesehatan yang masing-masing dikirim ke Kabupaten Sikka dan Ende.
Dua tim EMT turut diterjunkan. Satu tim mencakup wilayah Ende, Nagekeo, dan Manggarai Barat, sedangkan satu tim lainnya melayani Kabupaten Sikka.
Baca juga:
Bantuan kesehatan yang dikirim meliputi obat-obatan, bahan medis habis pakai, emergency kit, tenda pos kesehatan, konsentrator oksigen, serta berbagai perlengkapan penunjang penanganan darurat.
Pelayanan medis bagi warga terdampak juga mendapatkan dukungan personel TNI dan Polri.
Ribuan Rumah Rusak, Ngada Catat Kerusakan Terbanyak
Di tengah operasi penyelamatan dan pelayanan kesehatan, kerusakan bangunan menjadi persoalan lain yang harus segera ditangani.
BPBD di sejumlah wilayah terdampak masih melakukan pemutakhiran data kerusakan bangunan tempat tinggal.
Di Kabupaten Nagekeo, tercatat 116 rumah rusak berat, enam rumah rusak sedang, dan 42 rumah rusak ringan.
Kabupaten Ende mencatat 108 rumah rusak berat, 85 rumah rusak sedang, dan 268 rumah rusak ringan.
Di Kabupaten Manggarai, kerusakan meliputi 761 rumah rusak berat, 76 rumah rusak sedang, dan 147 rumah rusak ringan.
Kabupaten Manggarai Timur mencatat 23 rumah rusak berat, 15 rumah rusak sedang, dan 11 rumah rusak ringan.
![]() |
| Aktivitas gempa belum sepenuhnya stabil, dengan 1.576 gempa susulan tercatat hingga 17 Agustus 2026 dan 54 di antaranya dirasakan warga. Foto: Basarnas |
Sementara itu, Kabupaten Manggarai Barat mencatat 481 rumah rusak berat, 202 rumah rusak sedang, dan 231 rumah rusak ringan.
Kabupaten Ngada mencatat total 1.796 rumah terdampak. Namun, BPBD masih melakukan pendataan dan verifikasi untuk memastikan tingkat kerusakan bangunan tersebut.
Di Kabupaten Sikka, tercatat 145 rumah rusak berat, 16 rumah rusak sedang, dan 12 rumah rusak ringan.
Kerusakan tidak hanya terjadi pada rumah warga. Sejumlah fasilitas umum ikut terdampak, antara lain tempat ibadah, fasilitas kesehatan, sarana pendidikan, perkantoran, fasilitas umum lainnya, hingga akses jalan.
1.576 Gempa Susulan, BMKG Sebut Aktivitas Masih Fluktuatif
Ancaman belum sepenuhnya berakhir. Hingga Senin (17/8), Pos Pendamping Nasional mencatat 1.576 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2.
Dari jumlah tersebut, BMKG mencatat sebanyak 54 gempa susulan dirasakan warga.
Aktivitas kegempaan masih fluktuatif dan pola peluruhan belum terlihat jelas. Kondisi tersebut diperkirakan mulai stabil dalam waktu sekitar dua hingga tiga minggu ke depan.
Artinya, bagi masyarakat terdampak, masa darurat belum selesai hanya karena operasi pencarian korban mulai memasuki hari ketiga.
Baca juga:
Di satu sisi, tidak adanya laporan baru mengenai orang hilang menjadi perkembangan positif bagi operasi SAR. Namun, di sisi lain, 68 korban meninggal, ribuan rumah rusak, fasilitas kesehatan terdampak, serta ribuan gempa susulan menunjukkan besarnya pekerjaan yang masih harus dilakukan.
Setelah Evakuasi, Tantangan Berikutnya Menanti
Gempa NTT tidak hanya meninggalkan persoalan korban jiwa. Setelah proses pencarian dan penyelamatan selesai, pemerintah menghadapi pekerjaan yang tidak kalah berat: memastikan warga memperoleh tempat tinggal yang layak, layanan kesehatan tetap berjalan, akses transportasi pulih, serta fasilitas pendidikan dan pelayanan publik kembali berfungsi.
Data kerusakan yang masih diverifikasi juga menjadi penting karena angka tersebut akan menentukan skala kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Bagi warga terdampak, persoalannya sederhana tetapi mendasar: bagaimana kembali hidup normal ketika rumah rusak, fasilitas kesehatan terdampak, jalan terganggu, dan gempa susulan masih terjadi?
Karena itu, penanganan bencana tidak cukup diukur dari berapa banyak personel yang telah dikerahkan. Keberhasilan juga akan ditentukan oleh seberapa cepat warga mendapatkan perlindungan, pelayanan dasar, informasi yang akurat, dan kepastian pemulihan setelah masa tanggap darurat berakhir.
Baca juga:
- Dugaan Korupsi PT TPL: Rp2 Triliun dan Dua Tersangka Pajak
- 977 Gram Diduga Ketamin Disita Polres Batu Bara, MF Coba Kabur
Bumi sudah memberi peringatan 1.576 kali. Pertanyaannya, apakah sistem penanganan bencana kita cukup siap mendengarkan semuanya?
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #GempabumiNTT #GempaNTT #BencanaNTT #InfoBencana #MitigasiBencana
.jpg)
.jpg)
.jpg)