GalaPos ID - Iklan Banner

Hikayat dari Kecerdasan Buatan dan Ironi Kemerdekaan Kebudayaan Kita

Hikayat dari Kecerdasan Buatan dan Ironi Kemerdekaan Kebudayaan Kita
Rasyidin, Alumni Pascasarjana Doktoral ISI Surakarta, Dosen Prodi Seni Teater Institut Seni Budaya Indonesia Aceh

 


Setiap kali medio Agustus tiba dan bangsa ini memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia—termasuk di usianya yang kini menginjak 81 tahun pada 2026 pertanyaan mendasar senantiasa mengetuk kesadaran kita: sudah seberapa merdekakah kita dalam merawat identitas dan kebudayaan sendiri?

Kemerdekaan fisik dari penjajahan kolonial tentu telah lama diraih. Namun, dalam gelanggang literasi dan pelestarian nilai-nilai lokal, kita masih menyaksikan bentuk kerentanan baru. Perjalanan sejarah Aceh—yang terus dibayangi rentetan pergolakan dan konflik bersenjata dari era Belanda, Jepang, DI/TII, Peristiwa Cumbok, PKI, hingga era konflik RI-GAM—telah meninggalkan benturan sosial yang masif.

Dampak terjauh dari serangkaian peristiwa tersebut bukan sekadar kehancuran fisik, melainkan robohnya pranata kebudayaan. Diksi-diksi berkelas local genius yang tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakat Aceh lambat laun terbias dan tersembunyi. Usaha untuk mengidentifikasinya kembali secara faktual membutuhkan waktu yang sangat panjang.



Kerentanan Bahasa Ibu di Tanah Sendiri
Indikator penurunan ini terlihat nyata di sekeliling kita. Belum ada ruang eksistensi budaya Aceh yang otentik dan masif—baik dalam agenda strategis birokrasi, kegiatan independen, maupun integrasi kurikulum pendidikan. Lembaga internasional seperti UNESCO bahkan telah mencatat bahwa bahasa Aceh masuk dalam kategori bahasa daerah yang terancam punah.

Di sekolah-sekolah, kurikulum seni dan kebudayaan kerap ditempatkan di pinggiran, mengalah pada sains dan ilmu sosial non-seni. Implikasinya tragis: bahasa Aceh sebagai bahasa ibu kehilangan panggung untuk tumbuh subur.

Di luar daerah, suku bangsa lain kerap hanya mengenal bahasa Aceh dari peribahasa warung kopi "Buya krueng teudong-dong, buya tamong meuraseuki" atau sekadar kosakata serapan sederhana seperti peu (apa), bajee (baju), kayee (kayu), ie (air), u (kelapa), hingga ungkapan gurauan "Hana peng hana inong". Kebudayaan kita lebih sering diapresiasi sebatas luapan ritmik Tarian Ratoh Jaroe di panggung-panggung Jakarta. Bandingkan dengan bahasa Minang atau Jawa yang tetap familier dan mengakar kuat bagi penuturnya di berbagai belahan nusantara.

Hilangnya khazanah artefak dan literasi budaya ini mengikis semangat nostalgia, padahal nostalgia kebudayaan adalah 'kawah candradimuka' untuk membangun daya kritis dan pemaknaan sejarah. Di saat yang sama, panggung festival kebudayaan yang didanai hingga ratusan juta rupiah kini sering kali terjebak pada sekadar pertunjukan seremonial mendadak, menonjolkan figur-figur yang viral tanpa substansi, serta mengabaikan warisan leluhur.

 

AI dan Refleksi "Hikayat Baru"
Di tengah kebuntuan ruang birokrasi daerah, teknologi kecerdasan buatan (AI) justru hadir membuka panggung yang unik. Pengalaman saya saat berbagi ilmu bersama generasi literasi di Kota Sigli pada 12 Agustus 2026 membuka diskursus baru. Ketika meminta platform AI seperti ChatGPT atau Gemini untuk menyusun syair hikayat, teknologi tersebut mampu menyajikan tata kata, estetika semiotika, dan struktur hermeneutika yang begitu anggun dalam sebuah referensi sastra klasik yang makin langka kita temui dalam helatan resmi di dunia nyata.

Salah satu contoh hasil penelusuran struktur bahasa dan estetika hikayat yang disusun oleh sistem digital tersebut dapat kita cermati berikut ini:

HIKAYAT NGOEN SUBOH ALAM
(Karya Anonim / Hasil Penelusuran Ruang Digital)
Bismillah nyang phôn ulôn peudua
Rahmat ngon seulawat keu Nabi Chèh
Kisah meususun ureuëng peuda
Lageè keindahan alam nyang glèh
Gunoëng meubanja tinggi meutôi
Awan meukulét ba' ujoëng glèh
Angen meuheep seudap rasoï
Ie krueng nyang ilè jernèh leubèh
Kayèe geureuda rimbun di glèh
Meusu burông jipheë meusu-su
Cicèm meunari ateuëh ca'éh
Subô alam nyoe bit geutanyoë tuju
Laôt meulambông geulumbang raya
Meuca'e eungkôt lam ie nyang thô
Nyan bit neupeujeut lé Rabbana
Keu nè reuzeuki aneuk cucô
...


Fenomena ini adalah paradoks sekaligus harapan. Ketika ruang birokrasi lokal mengalami stagnansi visi kebudayaan, ruang digital menyediakan tempat perlindungan (sanctuary) bagi naskah dan estetika kuno. Generasi muda Aceh yang mendahagakan literasi kini berani melompati (skip) keterbatasan birokrasi daerah untuk mengakses pengetahuan, dana hibah internasional, maupun jejaring global demi menjaga warisan leluhurnya.

 

Makna 81 Tahun Indonesia Merdeka
Memperingati 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia bukan sekadar menaikkan bendera dan menggelar karnaval pakaian adat yang formalitas. Kemerdekaan sejati bagi Aceh—dan bagi segenap suku bangsa di Nusantara—adalah kemerdekaan kebudayaan: ketika bahasa ibu, karya sastra hikayat, dan kearifan lokal tidak hanya menjadi barang museum, tetapi hidup dan beradaptasi di tengah zaman.

Jika AI mampu merekam dan merangkai keindahan Hikayat Aceh dengan begitu presisi, maka sudah kewajiban kita—para pendidik, budayawan, dan generasi muda—untuk menghidupkannya kembali di dunia nyata. Jangan biarkan kebudayaan kita merdeka di ruang digital, namun terjajah dan sirna di tanah kelahirannya sendiri.

Profil Penulis
Dr. Rasyidin, S.Sn., M.Sn. (lahir di Banda Aceh, 26 Maret 1978) adalah akademisi, praktisi teater, sutradara teater tutur (PM Toh), juri FLS3N tingkat nasional, serta Wakil Ketua III Dewan Kesenian Aceh (DKA). Saat ini menjabat sebagai Dosen dan Kepala Laboratorium Studio Prodi Seni Teater ISBI Aceh. (Kontak: Plottheatre@gmail.com) Hp. 081321817179




Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال