GalaPos ID, Flores Timur.
Setelah tiga hari dilanda kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang memicu antrean panjang dan kepanikan warga, aktivitas pengisian BBM di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Flores Timur mulai kembali normal.
Namun hingga kini, penyebab pasti gangguan pasokan tersebut belum mendapat penjelasan resmi dari pemerintah.
"Antrean BBM memang sudah bubar. Sayangnya, antrean pertanyaan warga kepada pemerintah masih belum mendapat jawaban."
Baca juga:
- DPR Kritik Tata Kelola KEK Pariwisata, Minta Perlindungan Hak Masyarakat
- Tragedi Pesawat Perintis di Yahukimo, Pilot Tewas dan Akses Vital Warga Lumpuh
- KTN ke-63 YPPII Batu Soroti Karakter Bangsa di Tengah Tantangan Zaman
Gala Poin:
1. Kelangkaan BBM yang melanda Flores Timur selama tiga hari mulai mereda dan pelayanan di SPBU telah kembali normal.
2. Pemerintah daerah belum memberikan penjelasan resmi mengenai penyebab gangguan pasokan yang memicu antrean panjang dan kenaikan harga BBM eceran.
3. Pemilik SPBU menduga kepanikan masyarakat dipicu kekhawatiran terhadap penerapan aturan pembatasan pembelian BBM subsidi bagi kendaraan berpelat luar daerah dan yang pajaknya telah mati.
Berdasarkan pantauan di lapangan sejak Senin, 29 Juni 2026, hingga Rabu, 1 Juli 2026, kelangkaan BBM terjadi secara luas di wilayah daratan Larantuka dan berdampak hingga Pulau Adonara.
Selama periode tersebut, antrean kendaraan terlihat mengular sejak pagi hingga malam di tiga SPBU yang beroperasi di Larantuka. Kondisi itu juga diikuti kelangkaan BBM eceran di masyarakat. Kalaupun tersedia, harganya melonjak tajam hingga mencapai Rp25.000–Rp35.000 per botol air mineral, jauh di atas harga normal.
Situasi tersebut sempat menimbulkan kepanikan masyarakat yang khawatir pasokan BBM tidak segera pulih. Meski demikian, hingga berita ini disusun, pemerintah daerah belum memberikan penjelasan resmi mengenai penyebab terjadinya kelangkaan.
Kepala Bagian Sumber Daya Alam Kabupaten Flores Timur, Tarsius Kopong Pira, yang dihubungi melalui telepon seluler, belum memberikan tanggapan terkait kelangkaan BBM yang terjadi di Larantuka maupun Adonara.
Baca juga:
Lautan Eceng Gondok Kepung Waduk Saguling, Pasokan Listrik Jawa-Bali Terancam
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa lonjakan permintaan BBM diduga dipicu kepanikan masyarakat menyusul informasi mengenai penerapan Peraturan Gubernur Nusa Tenggara Timur terkait pembatasan pembelian BBM subsidi. Namun, dugaan tersebut masih memerlukan penjelasan resmi dari pemerintah dan pihak terkait.
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya komunikasi publik yang cepat dan transparan dalam pengelolaan distribusi energi. Tanpa penjelasan yang jelas, kelangkaan berpotensi memicu kepanikan, praktik penimbunan, hingga lonjakan harga di tingkat eceran yang pada akhirnya membebani masyarakat.
Baca juga:
Drama OTT Kuansing: Dari Penangkapan Massal hingga Penyerahan Diri Pejabat
Tiga hari warga berburu BBM, harga eceran melambung, tetapi penyebab kelangkaannya masih menjadi teka-teki. Yang cepat datang justru kepanikan, bukan penjelasan.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #BBM #FloresTimur #Larantuka #NTT #EnergiIndonesia

.jpg)