GalaPos ID, Bandung Barat.
Hamparan eceng gondok yang menguasai sekitar 120 hektare permukaan Waduk Saguling bukan lagi sekadar persoalan gulma air.
Kondisi ini telah mengganggu aktivitas masyarakat, mengancam pasokan listrik hingga 700 megawatt (MW) untuk jaringan Jawa-Bali, sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pengelolaan salah satu waduk strategis nasional tersebut.
"Kalau eceng gondok bisa rapat, mungkin pertumbuhannya lebih cepat daripada rapat penanganannya. Kini 120 hektare Waduk Saguling jadi bukti bahwa masalah yang dibiarkan bisa ikut mengancam listrik jutaan warga."
Baca juga:
- APPBI Dorong Industri Batik Lewat Puspa Nuswantara 2026 di JICC Jakarta
- Warga Batu Bara Tuntut Perbaikan Drainase, Pos Kehutanan Digugat Protes Banjir
- Kejurnas Atletik 2026, Ribuan Atlet Berlari Mengejar Prestasi
Gala Poin:
1. 120 hektare Waduk Saguling tertutup eceng gondok selama hampir tiga bulan, mengganggu ekosistem dan aktivitas masyarakat.
2. Hamparan gulma air berpotensi mengganggu operasional PLTA serta pasokan listrik sekitar 700 MW untuk jaringan Jawa-Bali.
3. Pemerintah mulai melakukan pembersihan, namun publik menunggu solusi permanen agar persoalan tidak terus berulang.
Berdasarkan pemetaan terbaru, dari total luas sekitar 5.000 hektare, sedikitnya 120 hektare Waduk Saguling kini tertutup eceng gondok yang tersebar di tujuh titik, termasuk kawasan Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Fenomena ini telah berlangsung hampir tiga bulan.
Bagi warga sekitar, dampaknya sudah dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Ledakan populasi nyamuk semakin mengganggu kesehatan lingkungan, sementara aktivitas budidaya ikan melalui Keramba Jaring Apung (KJA) ikut terdampak sehingga mengancam mata pencaharian masyarakat.
Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat bersama Indonesia Power, TNI, Polri, dan masyarakat mulai melakukan pembersihan secara bertahap. Selain dilakukan secara manual, proses pengangkatan eceng gondok juga menggunakan alat berat agar penanganan lebih cepat.
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail mengatakan, persoalan eceng gondok telah lama menjadi keluhan masyarakat. Selain menghambat aktivitas Keramba Jaring Apung (KJA), keberadaan gulma tersebut juga memicu meningkatnya populasi nyamuk serta menurunkan kualitas lingkungan perairan.
"Alhamdulillah, hari ini agenda kami melaksanakan pembersihan eceng gondok yang selama ini menjadi masalah dan sering dikeluhkan warga karena sudah sangat mengganggu," ucap Jeje, Senin, 29 Juni 2026.
Baca juga:
Menuju Olimpiade Dimulai dari Rawamangun, Siapkah Sistem Pembinaan Indonesia?
Pada tahap awal, dua alat berat dan empat perahu ponton diterjunkan untuk mempercepat proses pengangkatan eceng gondok dari badan waduk.
"Kalau dilakukan secara manual akan memakan waktu sangat lama. Nanti dibantu sekitar empat ponton," kata Jeje.
Jeje Ritchie Ismail menyebut, pembersihan tahap awal difokuskan di kawasan Jembatan Ciminyak, Desa Rancapanggung, yang menjadi salah satu lokasi dengan sebaran eceng gondok paling padat.
Dalam proses tersebut, petugas menerjunkan dua unit alat berat serta empat perahu ponton guna mempercepat pengangkatan eceng gondok dari perairan Waduk Saguling.
Sementara itu, Manager Administrasi Indonesia Power UBP Saguling, Huta Rianto, menjelaskan bahwa keberadaan eceng gondok tidak hanya berdampak terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, tetapi juga mengganggu operasional pembangkit listrik tenaga air di Waduk Saguling.
Menurutnya, hamparan eceng gondok yang menutupi sekitar 120 hektare area waduk tersebut berpotensi mengganggu pasokan listrik hingga sekitar 700 megawatt yang menjadi bagian dari suplai jaringan kelistrikan Jawa dan Bali.
Pemerintah menargetkan proses pembersihan eceng gondok di Waduk Saguling dapat diselesaikan hingga akhir tahun 2026.
Baca juga:
Loksado Bergema Lewat Festival Bambu Rafting 2026, Wisata Alam dan Budaya Bersatu
Namun demikian, besarnya luasan eceng gondok yang terus berkembang selama berbulan-bulan menunjukkan bahwa penanganan persoalan lingkungan di Waduk Saguling tidak cukup dilakukan melalui pembersihan semata.
Publik menunggu langkah nyata yang menyentuh akar persoalan agar kondisi serupa tidak terus berulang dan mengancam lingkungan, ekonomi masyarakat, maupun ketahanan energi nasional.
Baca juga:
Kemarau Datang, Petani Subang Berjuang Sendiri Hadapi Krisis Air Irigasi
Di Waduk Saguling, yang berkembang bukan hanya eceng gondok, tetapi juga daftar dampaknya: nyamuk bertambah, keramba terganggu, listrik terancam, sementara publik masih menunggu solusi yang benar-benar menyentuh akar masalah.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #WadukSaguling #EcengGondok #JawaBali #BandungBarat #Lingkungan
.jpg)
.jpg)