GalaPos ID, Tangerang.
Di tengah euforia perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin masif, pertanyaan terpenting bukan lagi seberapa canggih teknologinya, melainkan siapa yang paling diuntungkan.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, Dewan Guru Besar BINUS University meluncurkan gagasan AI for Life, sebuah pandangan yang menegaskan bahwa AI harus diarahkan untuk memperkuat kehidupan manusia, menjaga nilai kemanusiaan, meningkatkan produktivitas, serta mendukung pembangunan Indonesia.
![]() |
| Rayakan 45 Tahun, BINUS University bawa Indonesia ke panggung global pendidikan tinggi lewat QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 |
"AI memang makin pintar. Pertanyaannya, apakah kebijakan dan manusianya ikut semakin bijak, atau justru semakin bergantung pada mesin?"
Baca juga:
- Ribuan Kasus Curanmor Terungkap, Polda Metro Jaya Amankan 2.054 Tersangka
- Misteri Mimpi, Fenomena yang Terjadi Saat Manusia Terlelap
- Nelayan Sulit Melaut, Harga Ikan di Belitung Timur Bikin Kantong Warga Tertekan
Gala Poin:
1. Dewan Guru Besar BINUS meluncurkan gagasan AI for Life yang menempatkan AI sebagai teknologi yang harus berpihak pada manusia dan kepentingan publik.
2. Pembahasan AI dilakukan secara lintas disiplin, mencakup teknologi, bisnis, industri kreatif, hukum, geopolitik, hingga kebijakan nasional.
3. Tantangan Indonesia bukan sekadar mengadopsi AI, tetapi memastikan teknologi menghasilkan manfaat nyata melalui regulasi, etika, perlindungan data, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Gagasan itu disampaikan bertepatan dengan peringatan 45 tahun BINUS University, yang tidak hanya menjadi momentum perayaan institusi, tetapi juga refleksi mengenai tanggung jawab perguruan tinggi dalam menjawab berbagai tantangan bangsa melalui ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi.
Ketua Dewan Guru Besar BINUS University, Prof. Harjanto Prabowo, mengatakan perkembangan AI tidak boleh hanya dipandang sebagai perlombaan teknologi atau sekadar penggunaan aplikasi berbasis kecerdasan buatan.
"Di usia 45 tahun BINUS, kami bersyukur atas perjalanan yang telah dilalui dan menghargai seluruh kontribusi yang telah membentuk BINUS hingga hari ini. Namun, rasa syukur itu juga harus diwujudkan melalui komitmen untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi bagi Indonesia. Melalui gagasan AI for Life, Dewan Guru Besar BINUS ingin menegaskan bahwa teknologi, khususnya AI, harus diarahkan untuk memperkuat kehidupan manusia, bukan menggantikannya," terang Prof. Harjanto Prabowo, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Rabu, 1 Juli 2026.
Baca juga:
Lautan Eceng Gondok Kepung Waduk Saguling, Pasokan Listrik Jawa-Bali Terancam
Melalui pendekatan lintas disiplin, Dewan Guru Besar BINUS membagi pembahasan ke dalam tiga fokus utama.
Fokus pertama membahas teknologi, engineering, dan information technology yang menyoroti pentingnya mengubah AI dari sekadar alat menjadi sumber nilai ekonomi dan sosial. Menurut tim ini, tantangan Indonesia bukan hanya mengadopsi AI, melainkan mampu melakukan transformasi melalui peningkatan literasi digital, tata kelola data, etika, perlindungan privasi, dan kepemimpinan yang adaptif.
Fokus kedua mengangkat bisnis dan industri kreatif. Para Guru Besar menilai AI seharusnya menjadi mitra bagi kreativitas, bukan ancaman. AI dapat mempercepat proses inovasi dan membuka peluang ekonomi baru, namun kreativitas manusia tetap tidak tergantikan karena dibangun dari pengalaman hidup, budaya, empati, dan nilai-nilai sosial.
Sementara itu, fokus ketiga membahas geopolitik global, hukum, dan strategi kebijakan nasional. Di tengah persaingan global berbasis teknologi, Indonesia dinilai perlu memperkuat regulasi, keamanan siber, perlindungan data pribadi, hingga kebijakan nasional yang mampu menjaga kepentingan publik tanpa menghambat inovasi.
Melalui tiga perspektif tersebut, Dewan Guru Besar BINUS menegaskan bahwa AI bukan hanya persoalan kecanggihan teknologi, tetapi menyangkut arah pembangunan bangsa.
Baca juga:
Bahaya Menahan BAB: Dari Sembelit hingga Risiko Kanker
Tema tersebut juga diperkuat melalui orasi ilmiah bertajuk "Shaping the Next Intelligence Era: Artificial Intelligence, Leadership, and Collaboration." BINUS menilai kepemimpinan dan kolaborasi menjadi faktor utama agar AI tidak berkembang tanpa arah, melainkan mampu memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Prof. Harjanto kembali menegaskan bahwa setiap inovasi yang lahir dari perguruan tinggi harus kembali kepada kepentingan masyarakat.
"BINUS lahir dengan semangat Bina Nusantara. Karena itu, setiap pemikiran dan inovasi yang kami hadirkan harus kembali kepada kontribusi bagi bangsa. AI for Life adalah ajakan agar kita tidak hanya mengejar kemajuan teknologi, tetapi juga memastikan bahwa teknologi tersebut membawa manfaat nyata bagi manusia dan Indonesia," lanjut Prof. Harjanto.
Baca juga:
Drama OTT Kuansing: Dari Penangkapan Massal hingga Penyerahan Diri Pejabat
Di tengah derasnya narasi revolusi AI, tantangan terbesar sebenarnya bukan menciptakan teknologi yang semakin pintar, melainkan memastikan kecerdasan tersebut tetap berpihak pada manusia.
Sebab, publik tidak hanya membutuhkan inovasi, tetapi juga kepastian bahwa perkembangan teknologi berjalan seiring dengan perlindungan hak masyarakat, peningkatan kualitas pendidikan, serta terciptanya kesempatan ekonomi yang lebih adil bagi semua.
Baca juga:
Sindikat Judi Online 1XBET Terbongkar, Empat Tersangka Ditangkap
Semua berlomba mengembangkan AI. Tapi yang lebih mendesak adalah memastikan teknologi bekerja untuk manusia, bukan manusia yang sibuk mengejar algoritma.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #AIForLife #ArtificialIntelligence #BINUSUniversity #TeknologiUntukManusia #IndonesiaDigital
.jpg)
.jpg)