Bahaya Menahan BAB: Dari Sembelit hingga Risiko Kanker

GalaPos ID, Jakarta.
Menunda buang air besar (BAB) kerap dianggap sepele. Alasannya beragam: tidak ada toilet, sedang rapat penting, atau sekadar merasa belum waktunya.
Padahal, kebiasaan ini bisa memicu gangguan kesehatan serius, terutama jika terjadi berulang dan dalam jangka panjang.

Sering Tunda BAB? Waspadai 11 Risiko Kesehatan Ini
Menahan buang air besar terlalu sering tidaklah baik, karena menimbulkan beberapa efek buruk bagi kesehatan. Foto: ilustrasi

"Sering menahan buang air besar (BAB) karena rapat atau perjalanan? Kebiasaan ini bukan sekadar bikin tak nyaman. Dari sembelit hingga risiko kanker usus besar, berikut bahaya menahan BAB yang jarang disadari publik."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Menahan BAB terlalu sering dapat memicu sembelit, ambeien, dan fisura anal.
2. Konstipasi kronis meningkatkan risiko komplikasi serius seperti impaksi tinja, prolaps rektum, obstruksi usus, hingga kanker usus besar.
3. Menahan BAB hanya boleh dilakukan dalam kondisi darurat, bukan sebagai kebiasaan.


Secara medis, tubuh memiliki refleks alami untuk mengeluarkan tinja ketika rektum sudah penuh. Jika sinyal ini terus-menerus diabaikan, tinja akan semakin mengeras di usus besar dan memicu berbagai komplikasi.

Dampak paling umum dari kebiasaan menahan BAB adalah sembelit. Feses yang terlalu lama tertahan di usus besar akan kehilangan lebih banyak cairan, sehingga teksturnya mengeras dan sulit dikeluarkan. Akibatnya, seseorang harus mengejan lebih kuat saat BAB.

Kondisi ini dapat berkembang menjadi ambeien (wasir). Tekanan berlebih saat mengejan menyebabkan pembuluh darah di sekitar anus membengkak dan menimbulkan rasa nyeri, gatal, bahkan perdarahan.

Baca juga:
AMPRO Fight 2026 di TVRI Jadi Sinyal Kebangkitan Tinju Nasional

Jika kebiasaan ini berlangsung kronis, risiko yang muncul tidak lagi sekadar ketidaknyamanan.

1. Obstruksi Usus
Penumpukan feses keras dapat menyumbat saluran pencernaan. Kondisi ini disebut obstruksi usus, yang menghambat pergerakan makanan dan cairan. Dalam beberapa kasus, penyumbatan juga berkaitan dengan perlengketan usus, hernia, atau kanker usus besar.

2. Kanker Usus Besar
Kontak terlalu lama antara feses dan dinding usus besar diduga meningkatkan risiko perubahan sel abnormal. Sejumlah studi menunjukkan bahwa konstipasi kronis dapat menjadi salah satu faktor risiko kanker usus besar, meski faktor ini bukan satu-satunya penyebab.

3. Impaksi Tinja
Mengutip laporan medis dari Medical News Today, impaksi tinja terjadi ketika tinja keras tersangkut di usus besar atau rektum. Kondisi ini bisa menyebabkan nyeri hebat, perut kembung, bahkan kerusakan jaringan bila tidak segera ditangani.

Komplikasi Berat: Prolaps Rektum hingga Megarectum
Mengacu pada penjelasan WebMD, rektum adalah bagian akhir usus besar sebelum anus. Pada konstipasi kronis akibat menahan BAB, rektum dapat meregang dan menonjol keluar dari anus, kondisi yang dikenal sebagai prolaps rektum.

Jangan Sepelekan, Ini Dampak Medis Sering Menahan BAB
Masalah kesehatan yang satu ini mungkin sangat umum dialami oleh banyak orang yang disebabkan karena kurangnya konsumsi makanan berserat. Ternyata, bahaya menahan BAB juga bisa menyebabkan sembelit. Foto IG: jennierubyjane

 

Selain itu, terdapat kondisi megarectum, yaitu pembesaran rektum akibat konstipasi jangka panjang. Dalam kasus tertentu, pasien membutuhkan obat pencahar rutin, bahkan tindakan pembedahan.

Pada kelompok rentan seperti lansia, pasien dengan mobilitas terbatas, atau pengguna obat opioid dosis tinggi, komplikasi dapat meluas menjadi gangguan sirkulasi, masalah jantung, hingga risiko kematian jika tidak segera ditangani.

Fisura Anal dan Infeksi
Kebiasaan menahan BAB juga dapat memicu fisura anal—robekan kecil pada jaringan anus akibat feses keras. Luka ini berisiko terinfeksi bakteri dari tinja.

Penumpukan tinja dalam jangka panjang pun meningkatkan risiko peradangan usus akibat akumulasi racun dan pertumbuhan bakteri berlebih.

Dalam kondisi ekstrem, kebocoran tinja ke rongga perut dapat memicu infeksi berat yang mengancam jiwa.

Baca juga:
GM Le Eminence: Media Punya Peran Strategis Dongkrak Hospitality

Kapan Boleh Menahan BAB?
Dalam kondisi darurat—misalnya saat rapat penting atau tidak ada akses toilet—menahan BAB sesaat mungkin tidak terhindarkan. Beberapa cara yang bisa dilakukan sementara waktu antara lain:
- Mengencangkan otot bokong untuk membantu menahan refleks.
- Menghindari posisi jongkok.
- Tetap tenang dan tidak panik.

Namun, langkah ini hanya bersifat sementara dan tidak boleh menjadi kebiasaan.

Kepentingan Publik: Jangan Abaikan Sinyal Tubuh
Secara kesehatan masyarakat, kebiasaan menahan BAB yang berulang perlu menjadi perhatian. Pola makan rendah serat, kurang minum, serta gaya hidup sedentari memperburuk risiko konstipasi.

Baca juga:
TVRI Gandeng Kompas Gaungkan “Bola Gembira” Sambut Piala Dunia 2026 


Buang air besar secara teratur bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian penting dari mekanisme detoksifikasi alami tubuh. Mengabaikan sinyal tersebut berpotensi membuka pintu bagi gangguan pencernaan yang lebih serius.

Jika mengalami sembelit kronis, nyeri hebat, perdarahan, atau perut terasa penuh berkepanjangan, segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan.

Menahan BAB mungkin terasa sepele hari ini. Namun dalam jangka panjang, risikonya bisa jauh lebih mahal daripada sekadar mencari toilet terdekat.

Baca juga:
Desa Kampale Go Digital, Mahasiswa Unhas Bangun Sistem Informasi Desa 


Menahan BAB Saat Puasa Ramadan 2026: Bahaya bagi Kesehatan Pencernaan
Menahan buang air besar (BAB) saat berpuasa memang tidak membatalkan puasa, namun hal ini sangat tidak disarankan. Selain bisa menyebabkan sembelit dan wasir, menahan BAB juga dapat membuat perut merasa tidak nyaman. Meskipun buang air besar di siang hari tetap sah selama tidak ada pelanggaran tertentu saat cebok, segera ke toilet saat merasa ingin BAB adalah cara terbaik untuk menjaga kesehatan pencernaan.

Tips Mengatasi Sembelit Saat Puasa:
- Cukupi Cairan: Minum minimal 8 gelas air putih per hari dengan pola 2-4-2 (dua saat buka, empat malam, dua saat sahur).

- Tingkatkan Serat: Konsumsi sayur, buah, dan biji-bijian untuk melunakkan feses.

- Olahraga Ringan: Lakukan aktivitas fisik ringan 15-30 menit sebelum berbuka untuk melancarkan pencernaan.

- Hindari Makanan Tertentu: Kurangi makanan berlemak, gorengan, dan kafein yang bisa memperkeras tinja.

- Jadwal Rutin: Manfaatkan waktu malam atau setelah tarawih untuk BAB agar tidak merasa tidak nyaman saat siang.

Dengan mengikuti tips ini, Anda dapat mencegah sembelit dan menjaga kenyamanan selama berpuasa. Jangan biarkan menahan BAB mengganggu ibadah puasa Anda!

 



Baca juga:
Iftar Ramadan 2026, Hotel Bidakara Jakarta Bidik 8.000 Tamu

"Menahan BAB terlalu sering dapat memicu sembelit, ambeien, impaksi tinja, hingga prolaps rektum. Dalam kondisi berat, kebiasaan ini berisiko menyebabkan komplikasi serius. Simak penjelasan lengkap dampak medisnya dan kapan harus segera ke dokter."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #KesehatanPencernaan #Sembelit #EdukasiKesehatan

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال