GalaPos ID, Lampung.
Memilih varietas ayam yang tahan penyakit menjadi faktor krusial dalam menekan biaya produksi, khususnya pengeluaran obat-obatan dan risiko kematian ternak.
Di tengah tingginya ancaman wabah unggas, ketahanan genetik ayam kini menjadi salah satu penentu keberlanjutan usaha peternakan.
"Ketika biaya obat dan kematian ternak terus membengkak, varietas ayam tahan penyakit menjadi kunci bertahan peternak."
Baca juga:
- Ayam AK-79, Inovasi Anak Muda Lampung di Tengah Wabah Unggas
- Detik-Detik Istri Nyaris Tertimpa Longsor di Cirebon
- Sidang RUKN Ungkap Dampak PLTU terhadap Ekonomi dan Kesehatan Publik
Gala Poin:
1. Ayam tahan penyakit menekan biaya dan risiko kematian ternak.
2. Beragam varietas unggul tersedia sesuai kebutuhan peternak.
3. Inovasi lokal seperti AK-79 memperkaya solusi peternakan nasional.
Di Indonesia, sejumlah varietas ayam unggulan dikenal memiliki daya tahan tubuh tinggi. Salah satunya Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB), hasil pemuliaan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, yang dikenal adaptif terhadap penyakit dan memiliki produktivitas telur tinggi.
Selain itu, Ayam Kuntara atau Unggul Nusantara juga dikenal tangguh dengan produksi telur mencapai ratusan butir per tahun, serta efisiensi pemeliharaan yang lebih baik.
Untuk peternakan skala kecil hingga menengah, Ayam Elba menjadi alternatif karena ketahanan penyakit dan efisiensi pakan yang relatif tinggi.
Dalam sektor pedaging, varietas seperti KUB-2 Janaka, Sensi-1 Agrinak, dan ayam Joper banyak dipilih karena pertumbuhan cepat dan daya tahan terhadap iklim tropis.
Inovasi terbaru seperti ayam AK-79 yang dikembangkan Mahdika Murtopo menunjukkan bahwa pengembangan varietas unggul tidak hanya lahir dari lembaga penelitian besar, tetapi juga dari riset mandiri anak muda daerah.
Baca juga:
Gentengisasi Nasional dan Risiko Salah Desain Kebijakan
Ayam tersebut diberi nama AK-79 karena hasil persilangan ayam kampung lokal dengan indukan ayam dari Eropa dan Asia, yang dikenal memiliki ketahanan tinggi terhadap penyakit dan mampu beradaptasi dengan iklim Indonesia.
Inovasi ini dilakukan oleh Mahdika Murtopo (22), warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan. Mahdika bereksperimen menciptakan ayam kampung unggul yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga memiliki pertumbuhan lebih cepat dibanding ayam kampung pada umumnya.
Proses perkawinan silang dilakukan secara bertahap hingga akhirnya menghasilkan ayam AK-79 yang dinilai stabil dan layak dikembangkan.
“Awalnya saya ingin menciptakan ayam kampung yang kuat, tahan penyakit, dan cocok dengan kondisi iklim Indonesia. Dari situ saya mencoba menyilangkan ayam lokal dengan indukan dari Eropa dan Asia,” ujar Mahdika Murtopo, dikutip Selasa, 3 Februari 2026.
Mahdika menjelaskan, ayam AK-79 memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya lebih tahan terhadap serangan penyakit serta mudah beradaptasi dengan perubahan cuaca.
Namun, varietas unggul saja tidak cukup. Manajemen kandang, kualitas bibit, vaksinasi, serta penerapan probiotik tetap menjadi faktor penentu keberhasilan beternak ayam di tengah ancaman penyakit yang semakin kompleks.
Baca juga:
Kinerja Kopi Kenangan Moncer 2025, Sinyal Kuat IPO BEI
"Varietas ayam tahan penyakit semakin dibutuhkan peternak untuk menekan risiko wabah. Dari KUB hingga inovasi anak muda seperti AK-79, ketahanan genetik jadi penentu masa depan usaha unggas."
#Peternakan #Unggas #Inovasi #GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia
.jpg)
.jpg)