GalaPos ID, NTB.
Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, dikenal sebagai sentra pengembangan tambak garam rakyat terintegrasi di Nusa Tenggara Barat. Desa Cendimanik menjadi lokasi percontohan dengan luas lahan mencapai 15 hektare, sekaligus yang terbesar dan pertama di NTB.
Namun, perubahan iklim dan hujan ekstrem menguji kesiapan kebijakan perlindungan petani.
![]() |
| Produksi dan kualitas garam halus petani Sekotong turun drastis akibat hujan, Rabu, 14 Januari 2026. |
"Sekotong diproyeksikan menjadi ikon garam nasional, namun cuaca ekstrem justru menguji kesiapan kebijakan dan perlindungan petani garam rakyat."
Baca juga:
- Modus Kegiatan Fiktif, Pejabat Lampura Terjerat Kasus Korupsi
- Tambang Emas Ilegal Praya Barat Daya Ditutup Usai Galian Ambruk
- Krisis Kesehatan Muncul Seiring Banjir Berkepanjangan di Banjar
Gala Poin:
1. Sekotong menjadi sentra garam terintegrasi terbesar di NTB.
2. Garam Lombok memiliki kualitas tinggi hingga standar farmasi.
3. Cuaca ekstrem menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan petani.
Wilayah ini menghasilkan garam berkualitas tinggi dengan kandungan mineral yang memenuhi standar industri hingga farmasi. Bahkan, produk garam dari Sekotong disebut memiliki potensi ekspor dan diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap garam impor industri.
Pengembangan tersebut didukung Program Pengembangan Usaha Garam Rakyat (Pugar) melalui intensifikasi lahan secara terintegrasi. Pemerintah daerah menargetkan peningkatan produksi sekaligus kesejahteraan petani pesisir.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan tantangan serius. Perubahan iklim dan tingginya curah hujan berdampak langsung terhadap produktivitas petani garam tradisional, khususnya di Dusun Madaq Bleq.
Penurunan produksi tidak hanya mengancam pendapatan petani, tetapi juga berpotensi mengganggu rantai pasok garam lokal yang sedang diproyeksikan menjadi bagian dari sentra garam nasional pada 2026–2027.
Baca juga:
Dampak Banjir, Hampir Seribu Sekolah Terdampak di Kalsel
Garam Lombok, khususnya dari Lombok Barat, diketahui memiliki kandungan NaCl mencapai 99,2 persen. Selain untuk konsumsi rumah tangga, garam ini digunakan untuk kebutuhan industri, pertanian, hingga produk turunan seperti garam spa dan sea salt organik.
Memasuki awal 2026, harga garam di pasaran terpantau fluktuatif akibat faktor musim. Pemerintah daerah berupaya menjaga stok tetap aman di kisaran puluhan ton, sembari mendorong industrialisasi dan peningkatan teknologi pengolahan.
Kondisi ini menegaskan pentingnya kebijakan adaptif terhadap perubahan iklim. Tanpa perlindungan infrastruktur dan manajemen produksi yang memadai, potensi besar garam Sekotong berisiko tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan petani.
![]() |
| Frekuensi produksi menyusut dari enam kali menjadi dua kali per minggu, Januari 2026. |
Diketahui, tingginya curah hujan yang terjadi selama beberapa bulan terakhir berdampak langsung terhadap penurunan produksi dan omzet usaha garam halus petani di Dusun Madaq Bleq, Desa Cendimanik, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Mayoritas warga di dusun pesisir tersebut menggantungkan hidup sebagai petani garam tradisional. Garam halus diproduksi dari air laut yang diendapkan di tambak terbuka dan sangat bergantung pada cuaca panas serta intensitas sinar matahari.
Namun, cuaca yang tidak menentu membuat aktivitas produksi garam mengalami penurunan signifikan. Salah seorang petani garam, Zahid Idris, mengungkapkan hujan menghambat proses penguapan air laut yang menjadi kunci produksi.
“Biasanya kami bisa produksi hampir setiap hari, sampai enam kali dalam seminggu. Sekarang hanya mampu dua kali produksi,” ujar Zahid Idris, Rabu, 14 Januari 2026.
Baca juga:
Tangisan Bocah 10 Tahun Bongkar Dugaan Kekerasan Seksual di Talawi
"Sekotong menjadi sentra garam percontohan NTB dengan kualitas tinggi. Namun, perubahan iklim dan hujan ekstrem menguji kesiapan kebijakan perlindungan petani."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #GaramLombok #Swasembada #Garam
.jpeg)
.jpeg)