GalaPos ID, Tokyo.
Sepak bola amputasi merupakan cabang olahraga yang dimainkan tujuh lawan tujuh oleh atlet dengan amputasi anggota tubuh bagian atas atau bawah. Olahraga ini berawal dari gagasan Don Bennett, seorang penyandang amputasi asal Amerika Serikat pada 1980-an, dan berkembang sebagai bagian dari program rehabilitasi.
"Dari olahraga rehabilitasi hingga panggung dunia, sepak bola amputasi Indonesia terus menantang stigma dan keterbatasan."
Baca juga:
- Harga MINA Tertahan, Blockchain Ringan Belum Dilirik Pasar
- Ribuan Warga Serang dan Tangerang Terdampak Banjir Hujan Lebat
- WAXP di Persimpangan Event Gim dan Volatilitas Kripto
Gala Poin:
1. Sepak bola amputasi Indonesia berkembang pesat sejak 2018.
2. Indonesia pernah tampil di Piala Dunia Amputasi 2022.
3. ICC 2026 menjadi ajang uji daya saing internasional.
Di bawah pengawasan World Amputee Football Federation (WAFF), permainan ini menggunakan aturan ketat dengan durasi pertandingan 50 menit, terdiri dari dua babak masing-masing 25 menit. Para pemain menggunakan alat bantu Lofstrand yang juga digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Di Indonesia, Persatuan Sepak Bola Amputasi Indonesia (PSAI) dibentuk pada 3 Maret 2018 dan tergabung sebagai anggota WAFF serta Federasi Sepak Bola Amputasi Asia. Sejak itu, Indonesia perlahan mencatatkan prestasi di tingkat regional dan internasional.
Pada kualifikasi Piala Dunia zona Asia Timur 2022 di Dhaka, Bangladesh, Indonesia bersama Jepang merebut tiket ke Piala Dunia Sepak Bola Amputasi 2022 di Istanbul, Turki. Di turnamen tersebut, Indonesia finis di peringkat 22 dunia, bersaing di Grup C bersama Argentina, Amerika Serikat, dan Inggris.
Upaya regenerasi juga dilakukan melalui pembentukan Timnas U-23 pada 2023. Hasilnya, Indonesia menjuarai Artalive Challenge Cup di Shah Alam, Malaysia, serta meraih penghargaan Top Scorer dan Best Player.
Baca juga:
Ribuan Warga Pandeglang Mengungsi, BPBD Siaga Darurat
Kapten Timnas Sepak Bola Amputasi Indonesia, Aditya, menegaskan kesiapan tim menghadapi ICC 2026.
“Dalam kondisi apapun kami upayakan teman-teman senantiasa siap bertanding dengan taktik dan arahan pelatih. Sebuah pengalaman baru bagi kami dalam menghadapi Polandia dan Spanyol. Kami upayakan yang maksimal untuk Indonesia,” tegas Aditya, dalam keterangan yang diterima GalaPos ID, Rabu, 14 Januari 2026.
Dengan komposisi pemain yang berpengalaman dan semangat juang tinggi, ICC 2026 Tokyo menjadi ujian sekaligus peluang untuk membuktikan bahwa sepak bola amputasi Indonesia layak diperhitungkan di level dunia, bukan sekadar pelengkap dalam peta olahraga internasional.
Tim Nasional Sepak Bola Amputasi Indonesia tiba di Terminal 2 Bandara Haneda, Tokyo, Jepang, pada Rabu, 14 Januari 2026, petang waktu setempat. Skuad Merah Putih akan berlaga dalam kejuaraan International Challenge Cup (ICC) 2026 Tokyo yang digelar pada 16–18 Januari 2026.
Kehadiran Timnas disambut langsung oleh Koordinator Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Tokyo, Muhammad Al Aula. Ia mengapresiasi kesiapan para atlet yang akan membawa nama Indonesia di ajang internasional tersebut.
Ketua Umum Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Indonesia (PSAI), Yudi Yahya, memastikan kesiapan tim dalam kondisi optimal.
“Alhamdulillah kami telah tiba di Tokyo untuk mengikuti ICC 2026. Kami pastikan seluruh pemain dalam kondisi prima dan siap bertanding. Dengan Jepang kita sudah dua kali bertemu, untuk Polandia dan Spanyol baru kali pertama. Target kami minimal runner up bisa tercapai,” terangnya.
Baca juga:
Puluhan Ribu Warga Terdampak, Bendungan Riam Kiwa Kembali Didorong
"Timnas Sepak Bola Amputasi Indonesia terus menembus panggung internasional. ICC 2026 Tokyo menjadi ujian konsistensi dan prestasi global."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #SepakBolaAmputasi #DisabilitasBerprestasi #TimnasIndonesia
.jpeg)
.jpeg)