GalaPos ID - Iklan Banner

Novita Hardini Soroti Hilirisasi dan Persoalan Lahan di Tapanuli Utara

GalaPos ID, Tapanuli Utara.
Tapanuli Utara memiliki modal ekonomi yang tidak kecil: kopi, durian, dan jagung. Namun, melimpahnya komoditas belum otomatis membuat masyarakat menikmati nilai tambah yang besar.
Masalahnya sederhana tetapi mendasar: komoditas masih banyak berhenti di pasar, sementara industri pengolahan dan rantai usaha dari hulu hingga hilir belum berkembang optimal.

 

Kopi, Durian, Jagung Tapanuli Utara Jangan Dijual Mentah, Ini Dorongan Novita
Tapanuli Utara punya kopi, durian, dan jagung—tetapi jangan sampai semuanya hanya menjadi komoditas yang dipanen di hulu lalu “hilang” nilainya sebelum sampai ke hilir. Novita Hardini mendorong hilirisasi dan ekosistem UMKM, sementara persoalan klasik seperti lahan, investasi, dan akses pembiayaan kembali menjadi pekerjaan rumah. Sebab, kalau komoditas terus dijual mentah, siapa yang sebenarnya paling menikmati nilai tambahnya? Foto: istimewa

"Jagung, durian, dan kopi melimpah, tetapi ekonomi daerah tak cukup hanya mengandalkan hasil panen. Tantangannya justru lebih rumit: bagaimana komoditas lokal naik kelas menjadi industri, sementara persoalan lahan dan pembiayaan belum sepenuhnya beres?"

Baca juga:

Gala Poin:
1. Hilirisasi komoditas: Kopi, durian, dan jagung didorong tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah.
2. UMKM dan investasi: Pemerintah daerah didorong membangun ekosistem usaha yang menghubungkan petani, UMKM, industri, dan investasi dari hulu hingga hilir.
3. Pekerjaan rumah: Persoalan lahan serta penguatan akses pembiayaan KUR, termasuk untuk sektor kuliner, masih perlu mendapat perhatian.


Kondisi itulah yang menjadi perhatian Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, saat melakukan kunjungan kerja spesifik ke Kabupaten Tapanuli Utara, Kamis, 3 September 2026. Kunjungan tersebut dilakukan untuk menyerap aspirasi masyarakat sekaligus melihat perkembangan sektor UMKM, industri, pariwisata, serta akses pembiayaan usaha melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Bagi Novita, persoalannya bukan sekadar bagaimana meningkatkan produksi pertanian. Tantangan yang lebih penting adalah memastikan komoditas lokal dapat diolah, masuk ke rantai industri, serta menciptakan nilai tambah dan lapangan usaha bagi masyarakat setempat.

“Pertanyaannya adalah bagaimana jagung, durian, dan kopi ini bisa sampai ke hilir. Jangan hanya dibeli putus di pasar-pasar yang ada di Tapanuli Utara. Kita berharap ini menjadi sebuah ekosistem industri yang sifatnya hilirisasi sehingga dampak ekonominya jauh lebih besar,” ujar Novita, dalam keterangan yang diterima, Senin, 7 September 2026.


Hilirisasi Jangan Berhenti sebagai Slogan
Hilirisasi menjadi salah satu ruang ekonomi yang dinilai masih terbuka lebar di Tapanuli Utara. Pengembangan industri pengolahan di daerah bukan hanya soal mendatangkan modal, tetapi juga bagaimana UMKM lokal dapat ikut masuk ke dalam rantai pasok.

Baca juga:


Artinya, petani tidak berhenti sebagai pemasok bahan mentah. UMKM juga tidak semata menjadi pelaku usaha kecil yang berdiri sendiri. Keduanya perlu terhubung dengan industri pengolahan sehingga perputaran ekonomi tidak berhenti pada transaksi awal.

Novita mendorong Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara lebih agresif membangun komunikasi dan mediasi dengan pemerintah pusat serta berbagai pemangku kepentingan untuk membuka peluang investasi yang dapat memperkuat industri hilir.

“Ini masih menjadi ruang besar yang belum dilakukan di Tapanuli Utara. Saya mendorong pemerintah Tapanuli Utara untuk lebih agresif melakukan komunikasi, mediasi, dan koordinasi dengan stakeholder yang ada di pusat,” tegasnya.

Dorongan tersebut sekaligus menyisakan pertanyaan penting bagi pemerintah daerah: apakah potensi komoditas yang besar sudah diikuti kesiapan industri, infrastruktur, investasi, dan kebijakan yang mampu menahan nilai tambah tetap berputar di daerah?


Lahan Menjadi Batu Sandungan Investasi
Persoalan berikutnya adalah lahan. Novita melihat keterbatasan dan persoalan status lahan menjadi salah satu tantangan dalam menarik investasi industri sekaligus membangun fasilitas hilirisasi. Ia menyebut adanya kemungkinan sebagian lahan merupakan tanah masyarakat adat.

Kopi, Durian, Jagung Tapanuli Utara Jangan Dijual Mentah, Ini Dorongan Novita
Hilirisasi komoditas: Kopi, durian, dan jagung didorong tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah. UMKM dan investasi: Pemerintah daerah didorong membangun ekosistem usaha yang menghubungkan petani, UMKM, industri, dan investasi dari hulu hingga hilir. Foto: istimewa

 

Persoalan tersebut tidak bisa dipandang sekadar sebagai hambatan administratif. Kepastian lahan berkaitan langsung dengan kepastian investasi sekaligus kepentingan masyarakat yang memiliki hubungan dengan tanah tersebut.

Karena itu, pengembangan investasi perlu memastikan masyarakat tidak hanya menjadi pihak yang terdampak, tetapi turut masuk dalam ekosistem ekonomi yang dibangun.

“Pendorongan investasi yang sifatnya membangun industri, hilirisasi industri, dan mengawinkan antara UMKM yang ada di hulu hingga yang ada di hilir ini masih sangat sulit karena salah satu permasalahannya adalah lahan,” katanya.

Dengan kata lain, hilirisasi tidak cukup hanya dengan mendatangkan pabrik. Ada pekerjaan rumah untuk memastikan siapa yang memasok bahan baku, siapa yang mengolah, siapa yang menjual, serta siapa yang menikmati nilai tambah dari seluruh proses tersebut.


KUR dan Harapan UMKM Kuliner
Persoalan pembiayaan juga menjadi bagian dari aspirasi yang diserap dalam kunjungan tersebut. Novita mengapresiasi kinerja perbankan daerah dalam penyaluran KUR. Namun, masyarakat juga menyampaikan kebutuhan tambahan anggaran KUR untuk sektor kuliner.

Baca juga:
8 WNI Disebut Jadi Tentara Rusia, Kemlu RI Masih Verifikasi

Sektor tersebut dinilai memiliki ruang pertumbuhan yang cukup besar dan dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi lokal.
 
“Ada aspirasi dari masyarakat terkait tambahan anggaran KUR untuk bidang kuliner. Kuliner di sini punya potensi untuk bisa lebih ditumbuhkan lagi,” ujarnya.

Aspirasi tersebut selanjutnya akan menjadi bahan yang dibawa ke tingkat Komisi VII DPR RI, khususnya untuk melihat kebutuhan penguatan pembiayaan UMKM melalui bank-bank penyalur KUR.

Bagi pelaku UMKM, akses pembiayaan bukan sekadar soal tersedianya kredit. Kemampuan usaha membayar kembali pinjaman, kepastian pasar, ketersediaan bahan baku, serta pendampingan usaha juga menentukan apakah pembiayaan benar-benar mampu mendorong usaha naik kelas.


Investasi Lokal Jangan Hanya Jadi Statistik
Di tengah dorongan masuknya investasi, Novita justru melihat kekuatan penting yang sudah dimiliki Tapanuli Utara: masyarakat lokal.

Dalam diskusinya dengan Bupati Tapanuli Utara, ia melihat aktivitas ekonomi daerah masih banyak ditopang oleh masyarakat setempat. Kondisi tersebut dinilai sebagai modal yang perlu diperkuat.

“Mayoritas investasi yang ada di Tapanuli Utara kemungkinan besar masih dihasilkan dan disumbangkan oleh warga lokal. Ini tentu menjadi kekuatan, tetapi harus kita dorong agar potensi tersebut bisa berkembang lebih besar,” jelasnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa agenda pembangunan ekonomi tidak semestinya hanya diukur dari berapa banyak investasi yang masuk. Pertanyaan yang tak kalah penting adalah seberapa besar investasi tersebut menciptakan kesempatan bagi masyarakat lokal dan seberapa jauh UMKM masuk ke dalam rantai ekonominya.

Baca juga:


Kombinasi komoditas pertanian, UMKM, pembiayaan, investasi, pariwisata, dan industri dapat menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi baru Tapanuli Utara. Namun, potensi tersebut membutuhkan ekosistem yang saling terhubung, bukan program yang berjalan sendiri-sendiri.

Karena itu, Novita mendorong Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dan berbagai pemangku kepentingan untuk mengatasi hambatan investasi, termasuk persoalan lahan.

“Saya mendorong Pemerintah Tapanuli Utara lebih agresif lagi melakukan koordinasi dengan beberapa stakeholder yang ada di pusat. Kita ingin potensi yang besar ini tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi naik kelas menjadi kekuatan industri dan ekonomi masyarakat,” pungkas Novita.

Pada akhirnya, persoalan Tapanuli Utara bukan semata apakah kopi, durian, dan jagung cukup banyak diproduksi. Pertanyaan yang lebih menentukan bagi kepentingan publik adalah siapa yang menikmati nilai tambah setelah komoditas itu meninggalkan tangan petani.

Jika hilirisasi benar-benar berjalan, rantai ekonomi semestinya tidak putus di pasar. Nilai tambah harus kembali mengalir kepada petani, UMKM, pekerja, dan masyarakat lokal—bukan sekadar menjadi angka investasi yang terlihat bagus di atas kertas.

 

 

 

Baca juga:


Kopi dipanen di Tapanuli Utara, tetapi nilai tambahnya jangan sampai ikut “merantau”. Novita Hardini mendorong hilirisasi agar petani, UMKM, hingga industri lokal tidak sekadar menjadi penonton di tanah sendiri.

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #TapanuliUtara #NovitaHardini #Hilirisasi #UMKM #EkonomiDaerah

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال