GalaPos ID - Iklan Banner

Novita Hardini Bawa 15 Penari Trenggalek ke Yeosu World Island 2026

GalaPos ID, ‎Jakarta.
Trenggalek membawa identitas budayanya ke panggung internasional melalui Yeosu World Island Fair 2026 di Korea Selatan. Namun, kehadiran daerah di selatan Jawa Timur itu tidak semestinya berhenti pada pertunjukan seni dan seremoni budaya.

Trenggalek Tembus Yeosu World Island 2026, Novita Hardini Bawa Diplomasi Budaya
Trenggalek tak mau sekadar menjadi penonton di panggung pariwisata dunia. Lewat Yeosu World Island 2026 di Korea Selatan, Novita Hardini membawa 15 penari sekaligus menyodorkan pertanyaan yang lebih serius: kalau budaya ingin menghasilkan uang, apakah infrastruktur dan ekosistem digital Indonesia sudah benar-benar siap? Foto: istimewa



"Indonesia punya laut, budaya, kuliner, kerajinan, dan destinasi yang katanya kelas dunia. Masalahnya, jangan-jangan yang masih kelas lokal adalah infrastruktur, konektivitas, dan cara kita menjualnya kepada dunia."

Baca juga:
Gala Poin:
‎1. Diplomasi budaya: Trenggalek membawa kesenian dan identitas lokal ke Yeosu World Island 2026 sebagai pintu menuju jejaring internasional.
‎2. Budaya sebagai kekuatan ekonomi: Novita Hardini menekankan bahwa pelestarian budaya harus berjalan bersama pembangunan infrastruktur, teknologi, dan ekosistem pariwisata.
‎3. Tantangan digital dan infrastruktur: Potensi destinasi tidak cukup hanya mengandalkan keindahan; konektivitas, informasi digital, infrastruktur dasar, mitigasi bencana, dan teknologi menjadi pekerjaan rumah.
 
Di balik keberangkatan 15 penari terpilih, muncul agenda yang jauh lebih besar: bagaimana budaya lokal dapat menjadi pintu masuk bagi pariwisata, kerja sama internasional, investasi, teknologi, hingga penguatan ekonomi masyarakat.
 
‎Agenda tersebut dibawa Novita Hardini dalam momentum Yeosu World Island Fair 2026 yang berlangsung pada 5 September hingga 4 November 2026. Ajang bertema “Island, Connecting the Ocean and the Future” ini mempertemukan berbagai negara untuk membahas isu kepulauan, laut, masa depan, kebudayaan, serta kerja sama maritim internasional.
 
‎Sekitar 30 negara dan tiga organisasi internasional terlibat dalam agenda tersebut dengan target hingga tiga juta pengunjung.
 
‎Bagi Novita, panggung internasional semacam ini bukan sekadar tempat memperkenalkan kesenian daerah. Ia melihatnya sebagai kesempatan membuka pintu agar potensi Trenggalek dikenal bukan hanya sebagai objek wisata, tetapi juga sebagai ruang kerja sama dan ekonomi.
 
‎“Kalau hari ini mereka mengenal Turonggo Yakso, maka kita ingin mereka mengenal lebih potensi Trenggalek. Selain berharap mereka datang sebagai wisatawan, mereka akan datang sebagai mitra bisnis, sebagai kolaborator. Di mana sumber daya pariwisata kepulauan di Indonesia memiliki potensi luar biasa besar. Namun, kita masih memerlukan dukungan dan sentuhan infrastruktur teknologi yang advance untuk menjadikan daya tarik pariwisata kita tidak hanya murni indah, namun membangun pengalaman berwisata dengan bantuan teknologi. Itulah diplomasi kebudayaan yang menghasilkan nilai nyata," tegas Novita dalam keterangan yang diterima, Minggu, 6 September 2026.
 
 
‎Pernyataan tersebut sekaligus menempatkan persoalan infrastruktur sebagai salah satu pekerjaan rumah yang tidak bisa ditutupi oleh keberhasilan promosi budaya.
 
‎Novita menilai pembangunan fisik masih menjadi bagian penting dalam pengembangan daerah kepulauan. Jalan yang terkoneksi, jaringan listrik, ketersediaan air, hingga konektivitas digital menjadi fondasi agar potensi budaya dan pariwisata tidak berhenti sebagai slogan.
 
‎Lebih lanjut, Ia menilai ada satu pekerjaan besar yang sering terlewat ketika daerah berbicara mengenai kebudayaan adalah infrastruktur fisik. Selama ini pembangunan infrastruktur daerah kepulauan masih sering terpinggirkan., Jalan yang saling terkoneksi, jaringan listrik, air, konektivitas digital, semua itu penting.
 
‎"Saya mendorong bahwa budaya bukan hanya di nikmati sesaat, namun harus menjadi kekuatan ekonomi. Maka infrastrukturnya juga harus menjadi prioritas pembangunan," lanjutnya.
 
‎Gagasan tersebut memperluas makna diplomasi budaya. Panggung internasional bukan hanya tentang menampilkan kesenian tradisional, melainkan bagaimana kesenian tersebut mampu mengantarkan publik dunia mengenal produk, destinasi, kreativitas, dan potensi ekonomi masyarakat di belakangnya.

Trenggalek Unjuk Budaya di Korea Selatan, Novita Hardini Bicara Infrastruktur dan Ekonomi
Budaya sebagai kekuatan ekonomi: Novita Hardini menekankan bahwa pelestarian budaya harus berjalan bersama pembangunan infrastruktur, teknologi, dan ekosistem pariwisata. Foto: istimewa


‎Karena itu, ekosistem pendukung menjadi bagian yang tidak kalah penting. ‎Infrastruktur yang dimaksud mencakup pusat kebudayaan, ruang kreatif, sentra kerajinan, kawasan kuliner, galeri produk lokal, studio kreatif, ruang pertunjukan, pusat pelatihan, digitalisasi produk budaya, hingga konektivitas antardestinasi wisata.
 
‎Pada saat yang sama, kerja sama dengan jejaring internasional dinilai perlu dibuka lebih luas. Pengembangan kawasan juga tidak dapat dilepaskan dari perlindungan terhadap daerah kepulauan dari berbagai potensi bencana.
 
‎Teknologi dan isu perubahan iklim pun menjadi bagian dari tantangan tersebut. Sebab, ketika budaya hendak didorong menjadi kekuatan ekonomi jangka panjang, keberlanjutan ekosistem menjadi pertaruhan.
 
‎Masalahnya sederhana, tetapi sering luput: wisatawan boleh datang, tetapi apakah daerah sudah siap menerima mereka?
 
‎Novita mengingatkan bahwa pengalaman wisata modern semakin bergantung pada kemudahan memperoleh informasi dan akses digital.
 
‎"Jangan sampai wisatawannya datang, tetapi ekosistem pendukung tidak siap. Seperti satu data informasi, menggunakan teknologi yang memudahkan wisatawan, seperti informasi kuliner, spot destinasi wisata, spot kreatif daerah yang bisa di akses satu pintu. Di Korea Selatan, kita Mengenal NAVER Map. Indonesia masih jauh dikatakan layak menjadi destinasi dunia jika tidak mengupgrade ekosistem pariwisatanya berbasis digital,” ungkapnya.

‎Pernyataan itu menyentuh persoalan yang lebih besar dari sekadar promosi Trenggalek. Indonesia memiliki kekayaan budaya dan sumber daya alam yang beragam, tetapi daya saing destinasi tidak hanya ditentukan oleh seberapa indah sebuah tempat.
 
‎Kemudahan menemukan informasi, konektivitas, infrastruktur dasar, teknologi, kesiapan masyarakat, hingga kemampuan mengubah kunjungan menjadi aktivitas ekonomi ikut menentukan apakah sebuah destinasi benar-benar mampu bersaing di tingkat global.
 
‎Dalam konteks tersebut, Yeosu World Island 2026 menjadi ruang untuk menguji sejauh mana identitas lokal dapat diterjemahkan menjadi diplomasi dan peluang ekonomi.
 
‎Trenggalek memiliki modal budaya, sumber daya alam, kreativitas masyarakat, kuliner, kerajinan, serta komunitas seni. Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri.
 
‎Kehadiran Trenggalek di Korea Selatan karena itu dapat dibaca sebagai langkah awal. Pertunjukan budaya menjadi pintu masuk, sedangkan pekerjaan yang lebih berat justru berada setelahnya: membangun ekosistem yang membuat wisatawan tertarik datang, tinggal lebih lama, berbelanja, bekerja sama, dan kembali lagi.
 
 
‎Bagi Novita, perjalanan menuju Yeosu World Island 2026 bukan sekadar perjalanan sebuah kesenian dari Wilayah Selatan Jawa Timur ke Korea Selatan. Ini adalah perjalanan dari identitas budaya menuju diplomasi, dari diplomasi menuju konektivitas, dari konektivitas menuju ekonomi, dan dari ekonomi menuju pemerataan kesejahteraan.
 
‎"Karena budaya yang hidup bukan hanya budaya yang dilestarikan tetapi budaya yang mampu menghidupi generasi yang mewarisinya.” tutupnya.
 
‎Untuk diketahui, keikutsertaan Trenggalek ke Yeosu World Island Fair 2026 ini Novita Hardini memberangkatkan 15 penari terpilih.
 
‎Kini, panggung Korea Selatan bukan hanya menjadi tempat Trenggalek memperkenalkan budaya. Panggung tersebut juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi bagian dari percakapan global.
 
Namun, setelah lampu panggung padam dan para penari kembali ke tanah air, pertanyaan yang lebih penting tetap menunggu: apakah diplomasi budaya itu mampu diterjemahkan menjadi infrastruktur yang lebih baik, pariwisata yang lebih siap, dan manfaat ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat?
‎Di situlah keberhasilan sebuah promosi budaya semestinya diuji.



Baca juga:
Hujan Turun, Titik Panas Karhutla Sumatra Malah Naik 139

Kalau Turonggo Yakso sudah berhasil membuat Korea Selatan melirik Trenggalek, pertanyaan berikutnya bukan lagi soal siapa yang menari. Pertanyaannya: setelah wisatawan datang, mereka mau menemukan apa dan membeli apa

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Trenggalek #YeosuWorldIsland2026 #NovitaHardini #DiplomasiBudaya #PariwisataIndonesia #BudayaJawaTimur #EkonomiKreatif
Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال