GalaPos ID, Jakarta.
Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim dan kebutuhan energi yang terus bertambah, upaya memperkenalkan energi bersih kepada generasi muda mulai dilakukan dari ruang-ruang pendidikan.
Melalui kolaborasi sejumlah organisasi masyarakat sipil dan lembaga pendidikan, panel surya kini dipasang di pesantren dan sekolah sebagai sarana pembelajaran sekaligus praktik nyata transisi energi.
![]() |
| Proses pemasangan panel surya di Aisyiyah Boarding School Bandung, Rabu 10 Juni 2026. Foto: fajar/lentera hijau Indonesia. |
"Transisi energi sering terdengar seperti proyek miliaran rupiah. Di Bandung dan Sukabumi, perubahan justru dimulai dari tiga panel surya dan ruang kelas sederhana."
Baca juga:
- Megawati: Mahasiswa Warga Negara, Mengapa Harus Ditakuti?
- Kasus Guru P3K dan 3 Siswi SD di Palu, Alarm Darurat Perlindungan Anak
- Minuman Manis dan Ancaman Kesehatan Publik
Gala Poin:
1. Panel surya dipasang di Aisyiyah Boarding School Bandung dan SMP Aisyiyah Kota Sukabumi sebagai sarana energi bersih sekaligus media pendidikan lingkungan.
2. Program merupakan kolaborasi Lentera Hijau Indonesia, 1000 Cahaya Muhammadiyah, Kitabisa, Lazismu, PP Aisyiyah, dan UGM.
3. Tujuan utama bukan hanya menghasilkan listrik, tetapi membangun budaya hemat energi dan kesadaran iklim sejak usia sekolah.
Program tersebut dijalankan melalui kerja sama Lentera Hijau Indonesia, Program 1000 Cahaya Muhammadiyah, Kitabisa.com, Lazismu, PP Aisyiyah, serta dukungan teknis Universitas Gadjah Mada (UGM). Dua lembaga pendidikan yang menjadi lokasi awal pemasangan adalah Aisyiyah Boarding School (ABS) Bandung dan SMP Aisyiyah Kota Sukabumi.
Tidak hanya berfungsi sebagai sumber listrik alternatif, pemasangan panel surya juga diarahkan untuk membangun kesadaran tentang pentingnya energi terbarukan, efisiensi energi, serta tanggung jawab lingkungan di kalangan siswa, santri, dan tenaga pendidik.
Pemasangan pertama dilakukan di Aisyiyah Boarding School Bandung pada 10 Juni 2026. Sebanyak tiga panel surya berkapasitas masing-masing 650 watt peak dipasang untuk mendukung kebutuhan energi pesantren, terutama bagi sistem pompa air dan pengairan lahan pertanian produktif yang menjadi bagian dari kegiatan pendidikan.
Baca juga:
Dari Rekor MURI hingga HAKI Tapai Pulut Katuk, Inhil Perkuat Identitas Budaya
ABS Bandung dikenal sebagai pesantren yang mengusung konsep ramah lingkungan. Berdiri di atas lahan sekitar 18.000 meter persegi, pesantren tersebut mengembangkan berbagai program pertanian produktif dan pendidikan lingkungan yang melibatkan para santri secara langsung.
Sehari kemudian, tim melanjutkan pemasangan panel surya di SMP Aisyiyah Kota Sukabumi. Sekolah yang berdiri pada 2025 itu mengusung konsep Islamic Green School dan saat ini memiliki 11 siswa angkatan pertama yang seluruhnya memperoleh beasiswa penuh.
![]() |
| Tim teknis UGM sedang melakukan isntalasi panel surya di tengah terik matahari yang menyinari SMP Aisyiyah Sukabumi, Kamis 11 Juni 2026. Foto: Fajar/Lentera Hijau Indonesia |
Kepala SMP Aisyiyah Kota Sukabumi, Siti Sundus Awaliyah, menilai bantuan panel surya bukan hanya mendukung operasional sekolah, tetapi juga menjadi media edukasi yang relevan dengan tantangan masa depan.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada tim 1000 Cahaya Muhammadiyah, Lentera Hijau Indonesia, dan Kitabisa.org yang telah memberikan panel surya kepada SMP Aisyiyah Kota Sukabumi. Manfaatnya sangat besar, bukan hanya sebagai sumber energi alternatif untuk kegiatan belajar mengajar dan penerangan sekolah, tetapi juga menjadi media pembelajaran bagi siswa tentang energi ramah lingkungan,” kata Siti.
Menurutnya, keberadaan panel surya dapat membantu siswa memahami pentingnya energi berkelanjutan sejak usia dini.
“Harapan kami, panel surya ini bisa menginspirasi sekolah-sekolah lain untuk mulai memanfaatkan energi yang lebih ramah lingkungan. Anak-anak perlu memahami bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.
Baca juga:
Mobilitas Komuter Meningkat, KAI Sesuaikan Jadwal LRT Jabodebek
Direktur Program 1000 Cahaya Muhammadiyah sekaligus Ketua Perkumpulan Lentera Hijau Indonesia, Hening Parlan, menegaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran ekologis berbasis nilai keagamaan.
“Ini bukan sekadar proyek pemasangan panel surya. Ini adalah bagian dari ikhtiar Islam Berkemajuan. Kita ingin menunjukkan bahwa amanah sebagai khalifah di bumi diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk dalam cara kita mengelola energi,” kata Hening.
Ia menjelaskan, pesantren dan sekolah dipilih karena menjadi ruang strategis dalam membentuk karakter dan kebiasaan generasi muda.
“Ketika budaya hemat energi tumbuh di pesantren dan sekolah, pengaruhnya tidak berhenti di lingkungan lembaga pendidikan. Nilai itu akan dibawa pulang oleh siswa dan santri ke keluarga mereka, lalu menyebar menjadi gerakan sosial yang lebih luas,” ujarnya.
Baca juga:
Jasa Publikasi Siaran Pers, Solusi Efektif Komunikasi dengan Publik
Di tengah target besar Indonesia menuju transisi energi dan pengurangan emisi karbon, langkah-langkah kecil seperti ini menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari proyek berskala besar. Pendidikan dan perubahan perilaku sering kali menjadi fondasi yang menentukan keberhasilan transformasi jangka panjang.
Hening juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas komunitas dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
“Kami menyebut energi matahari sebagai energi surga. Energi ini bersih, tidak menimbulkan polusi, dan dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan banyak orang. Melalui energi bersih, kita belajar bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama seluruh umat manusia,” katanya.
Program pemasangan panel surya di pesantren dan sekolah ini diharapkan tidak berhenti pada penyediaan teknologi semata. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengetahuan, kesadaran, dan budaya hemat energi benar-benar tumbuh serta menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda Indonesia.
Baca juga:
Longsor Bungus Padang Timbun Mobil, Jalur Padang–Painan Lumpuh Total
"Ketika listrik matahari mulai masuk pesantren, mungkin yang perlu ikut "dicas" bukan hanya baterai, tetapi juga kesadaran kita soal krisis iklim."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #EnergiTerbarukan #PanelSurya #1000CahayaMuhammadiyah #PesantrenHijau #TransisiEnergiIndonesia
.jpg)
.jpg)