GalaPos ID, Jakarta.
Menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20 Mei 2026, pelaku pasar mulai bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan suku bunga acuan pertama dalam dua tahun terakhir.
![]() |
| Ketika rupiah makin lemah dan pasar makin gelisah, publik kembali menunggu ritual klasik: suku bunga naik, cicilan ikut menyesuaikan, sementara rakyat diminta tetap “optimistis”. |
“Rupiah terus terkapar, pasar menunggu BI: penyelamatan atau sekadar pidato stabilitas?”
Baca juga:
- Rupiah Melorot, Tempe Kulonprogo Terpukul: UMKM Kecil Terdampak
- Skandal Dugaan Pelecehan Seksual Mahasiswi UIN Solo, Rektor: Beri Peringatan
- Investor Asing ke IKN Tembus Rp72,39 T, Pemerintah Klaim Nusantara “Hidup”
Gala Poin:
1. Mayoritas pelaku pasar memprediksi BI akan menaikkan suku bunga menjadi 5 persen.
2. Pelemahan rupiah dan ketidakpastian global menjadi alasan utama dorongan pengetatan moneter.
3. Efek keluarnya enam saham Indonesia dari indeks MSCI diperkirakan masih menekan pasar modal domestik.
Di tengah pelemahan rupiah yang terus menembus level psikologis baru, tekanan global akibat konflik Timur Tengah, dan arus keluar modal asing, keputusan Bank Indonesia kini dipandang bukan sekadar kebijakan moneter, tetapi ujian kredibilitas menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Mayoritas lembaga keuangan mulai melihat kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen sebagai langkah yang sulit dihindari.
Dari 15 lembaga yang disurvei CNBC Indonesia, sembilan di antaranya memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuannya. Sisanya memprediksi BI tetap menahan suku bunga di level 4,75 persen.
Analis NH Korindo Sekuritas, Ezaridho Ibnutama, menilai pelemahan rupiah sudah berada di titik yang mengkhawatirkan.
“Naik 25 bps. Rupiah sudah lemah, membentuk all time high baru setiap hari,” ujar Ezaridho, Selasa, 19 Mei 2026.
Baca juga:
Diplomasi RI Diuji Usai Jurnalis Indonesia Ditahan Israel di Mediterania
Tekanan terhadap rupiah memang terus membesar. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026 pukul 13.18 WIB melemah 0,51 persen ke posisi Rp17.730 per dolar AS. Sepanjang Mei saja, rupiah telah terdepresiasi 2,46 persen, sedangkan secara tahun berjalan sudah melemah 6,36 persen.
Situasi ini membuat pasar mulai mempertanyakan efektivitas langkah intervensi Bank Indonesia selama ini.
Ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Situmorang, menyebut kenaikan suku bunga kini menjadi kebutuhan mendesak.
“Sejujurnya kami melihat ada urgensi bagi BI untuk menaikkan suku bunga bulan ini,” katanya.
Menurut Hosianna, tekanan terhadap rupiah belum mampu diredam meski BI telah memperketat instrumen moneter.
Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, juga memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.
“Kami memperkirakan Bank Indonesia akan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,00% pada Mei 2026. Hal ini disebabkan oleh tekanan yang masih berlanjut terhadap rupiah akibat ketidakpastian pasar keuangan global dan dampak meningkatnya tensi geopolitik,” ujar Juniman.
Selain konflik Iran-Israel-Amerika Serikat, tingginya harga minyak dunia dinilai memperburuk tekanan eksternal terhadap Indonesia.
Peneliti ekonomi Great Institute, Ani Asriyah, menilai langkah menaikkan suku bunga bukan lagi pilihan agresif, melainkan langkah korektif untuk menjaga kepercayaan pasar.
Baca juga:
Tingkatkan Branding Bisnis dengan Paket Publikasi GalaPos ID
“BI perlu menunjukkan sinyal yang tegas bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas. Dalam situasi seperti sekarang, kenaikan 25 basis poin merupakan langkah korektif yang prudent,” kata Ani, Selasa, 19 Mei 2026.
Ani memperingatkan pelemahan rupiah berkepanjangan dapat memicu imported inflation, memperbesar utang valas, dan memperburuk persepsi investor terhadap Indonesia.
Meski demikian, kenaikan suku bunga juga bukan tanpa risiko. Kebijakan itu berpotensi menahan konsumsi kredit dan investasi domestik di tengah pertumbuhan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Di sisi lain, pasar saham Indonesia juga dibayangi sentimen negatif dari hasil evaluasi MSCI Mei 2026. Enam saham Indonesia dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index tanpa ada tambahan saham baru.
Baca juga:
Perda Cagar Budaya Makassar: Menjaga Sejarah di Tengah Gempuran Beton
Saham yang didepak meliputi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Keluarnya saham-saham tersebut diperkirakan akan memperbesar tekanan arus modal keluar dari pasar domestik dalam jangka pendek.
Di tengah kombinasi sentimen negatif global dan domestik, keputusan BI pekan ini menjadi pertaruhan besar. Jika suku bunga dinaikkan, pasar berharap rupiah bisa sedikit bernapas. Namun jika ditahan, pertanyaan publik akan semakin keras: sampai kapan stabilitas rupiah hanya dijaga lewat intervensi dan optimisme?
Baca juga:
Dunia Malam dan Narkoba Seret Pelajar SMA di Batu Bara ke Jerat Hukum
"Ketika rupiah makin lemah dan pasar makin gelisah, publik kembali menunggu ritual klasik: suku bunga naik, cicilan ikut menyesuaikan, sementara rakyat diminta tetap “optimistis”."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #BankIndonesia #BIRate #Rupiah #IHSG #MSCI
.jpg)
.jpg)