Rupiah Melorot, Tempe Kulonprogo Terpukul: UMKM Kecil Terdampak

GalaPos ID, Kulon Progo.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menghantam pelaku usaha kecil di daerah.
Salah satu yang paling merasakan dampaknya adalah pengrajin tempe di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang kini harus berjibaku dengan lonjakan harga bahan baku impor.

Rupiah Lesu, Tempe Makin Tipis: UMKM Kecil Jadi Korban Pelemahan Ekonomi
Ketika dolar makin perkasa, tempe rakyat justru makin tipis. Di dapur para pengrajin kecil, pelemahan rupiah bukan sekadar angka ekonomi—tetapi ancaman nyata bagi isi piring masyarakat. Foto: JHadi

 

"Rupiah melemah, tempe ikut kurus. Yang tetap tebal cuma alasan ekonomi global."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Pelemahan rupiah membuat harga kedelai impor naik dari Rp8 ribu menjadi Rp11 ribu per kilogram.
2. Pengrajin tempe di Kulonprogo mengalami penurunan pendapatan hingga 40 persen akibat biaya produksi membengkak.
3. Untuk bertahan, pengrajin memperkecil ukuran tempe dan mempertimbangkan kenaikan harga jual.


Budi Susanto, pengrajin tempe asal Dusun Pepen Kulon, Giripeni, Wates, mengaku pemasukan usahanya turun drastis sejak harga kedelai impor terus merangkak naik akibat melemahnya rupiah.

Kondisi itu membuat biaya produksi membengkak, sementara daya beli masyarakat belum tentu ikut naik. Akibatnya, pengrajin kecil berada di posisi serba sulit: mempertahankan harga dengan keuntungan tipis atau menaikkan harga dengan risiko kehilangan pembeli.

Harga kedelai impor yang sebelumnya berada di kisaran Rp8 ribu per kilogram kini naik menjadi sekitar Rp11 ribu per kilogram. Kenaikan juga terjadi pada harga plastik kemasan yang melonjak dua kali lipat, dari Rp50 ribu menjadi Rp100 ribu per pak.

Baca juga:
WSKT Pertahankan Direksi Lama, Utang Turun Rp16 T Jadi Ujian Kepercayaan Publik

Tekanan biaya produksi tersebut membuat pendapatan para pengrajin tempe menurun hingga 30 sampai 40 persen. Untuk bertahan, Budi terpaksa memperkecil ukuran tempe yang dijualnya sambil menunggu keputusan pasar terkait kemungkinan kenaikan harga.
 
“Turunnya sekitar 30 sampai 40 persen. Untuk saat ini ukuran tempe dikurangi. Soalnya masih menunggu pedagang lain kalau mau menaikkan harga. Yang dulunya Rp2 ribu, kemungkinan kalau harga kedelai naik lagi akan naik Rp500 per bungkus,” ujar Budi, Senin, 18 Mei 2026.

Fenomena memperkecil ukuran produk demi menekan biaya produksi kembali terjadi di sektor pangan rakyat. Di tengah tekanan ekonomi, praktik ini menjadi pilihan realistis bagi pelaku UMKM agar usaha tetap berjalan tanpa langsung membebani konsumen dengan lonjakan harga tinggi.

Budi berharap kondisi nilai tukar rupiah segera membaik agar harga bahan baku kembali stabil dan usaha kecil seperti miliknya bisa bertahan.

“Semoga ke depannya harga bahan bisa turun supaya pedagang dan produsen bisa lebih stabil,” tambahnya.

Rupiah Melemah, Pengrajin Tempe Menjerit: Ukuran Diperkecil, Harga Terancam Naik
Dolar Amerika mungkin tak pernah makan tempe, tapi dampaknya kini terasa sampai ke bungkus tempe Rp2 ribuan di pasar tradisional. Foto: JHadi

 

Setiap hari, Budi membutuhkan sekitar 100 kilogram kedelai impor untuk memproduksi tempe yang dipasarkan ke sejumlah pasar tradisional di wilayah Kulonprogo dan sekitarnya. Tempe buatannya dijual mulai Rp2 ribu untuk ukuran kecil hingga Rp6 ribu untuk ukuran besar.

Bagi pengrajin kecil, pelemahan rupiah bukan sekadar isu ekonomi makro yang dibahas di ruang rapat atau layar bursa saham. Dampaknya nyata: ukuran tempe mengecil, keuntungan menipis, dan harapan hidup usaha rakyat ikut dipertaruhkan.

 

Baca juga:
Jejak Digital dan Press Release, Kunci Kepercayaan Publik

"Ketika dolar makin perkasa, tempe rakyat justru makin tipis. Di dapur para pengrajin kecil, pelemahan rupiah bukan sekadar angka ekonomi—tetapi ancaman nyata bagi isi piring masyarakat."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #RupiahMelemah #HargaKedelai #PengrajinTempe #UMKMIndonesia #EkonomiRakyat

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال