GalaPos ID, Jakarta.
Penahanan empat wartawan Indonesia oleh Angkatan Laut Israel dalam misi kemanusiaan menuju Gaza memicu kecaman luas dan mempertanyakan efektivitas diplomasi Indonesia di panggung internasional.
Insiden itu terjadi di perairan internasional Mediterania Timur, saat armada sipil pembawa bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 menuju Jalur Gaza dicegat militer Israel, Senin, 18 Mei 2026.
![]() |
| Dunia sibuk bicara HAM, tetapi kapal pembawa obat dan kamera tetap diperlakukan seperti ancaman militer. |
"Di negeri tempat konferensi pers lebih aman daripada laut internasional, empat wartawan Indonesia justru ditangkap saat meliput bantuan kemanusiaan."
Baca juga:
- Puluhan Kapal Aktivis Gaza Dihentikan Israel, Diplomasi Global Memanas
- Agung Budhy Hambaka Renovasi Masjid dan Bantu APAR untuk SMAN 112 Jakarta
- WSKT Pertahankan Direksi Lama, Utang Turun Rp16 T Ujian Kepercayaan Publik
Gala Poin:
1. Empat jurnalis Indonesia ditahan militer Israel saat meliput misi kemanusiaan menuju Gaza.
2. Dewan Pers dan DPR mendesak pemerintah memakai jalur diplomatik internasional.
3. Penangkapan di laut internasional dinilai melanggar hukum humaniter dan kebebasan pers.
Empat jurnalis Indonesia yang dilaporkan ditahan ialah Bambang Noroyono dan Thoudy Badai Rifan Billah dari Republika, Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo TV, serta Rahendro Herubowo dari iNews. Selain mereka, satu relawan kemanusiaan asal Indonesia, Andi Angga Prasadewa dari Rumah Zakat, juga ikut ditahan.
Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, mengecam keras tindakan militer Israel yang mencegat kapal sipil dan menangkap para jurnalis Indonesia di laut internasional.
"Dewan Pers mengecam tindakan militer Israel yang melakukan pencegatan dan penangkapan terhadap jurnalis Indonesia bersama awak sipil lainnya di perairan internasional saat dalam perjalanan menuju Gaza, Palestina," ujar Komaruddin Hidayat, Selasa, 19 Mei 2026.
Baca juga:
Senat AS Blokir Dana Keamanan Ballroom Trump, Perang Anggaran Panas
"Meminta pemerintah Indonesia menggunakan jalur diplomatiknya untuk membebaskan wartawan dan warga sipil Indonesia lainnya yang ditangkap militer Israel. Termasuk membantu pemulangannya ke Indonesia," katanya.
Di tengah meningkatnya tekanan publik, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri RI turut menyampaikan kecaman keras atas intersepsi armada bantuan tersebut. Juru Bicara I Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang, menyebut sedikitnya 10 kapal dalam konvoi kemanusiaan telah dicegat.
“Kementerian Luar Negeri mengecam keras tindakan militer Israel yang telah mencegat sejumlah kapal yang tergabung dalam rombongan misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur,” ujar Yvonne Mewengkang, Selasa, 19 Mei 2026.
Namun kritik publik tidak berhenti pada kecaman diplomatik. Banyak pihak mempertanyakan sejauh mana pemerintah benar-benar mampu melindungi warga negaranya ketika berhadapan dengan konflik internasional yang sensitif secara geopolitik.
Anggota Komisi I DPR, TB Hasanuddin, menilai penahanan relawan dan jurnalis sipil di laut internasional merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
“Penangkapan terhadap relawan kemanusiaan dan jurnalis sipil di perairan internasional tidak dapat dibenarkan. Ini bukan hanya menyangkut keselamatan WNI, tetapi juga menyangkut penghormatan terhadap hukum internasional dan perlindungan terhadap misi kemanusiaan,” kata TB Hasanuddin kepada wartawan, Selasa, 19 Mei 2026.
Ia mendesak pemerintah memanfaatkan seluruh instrumen diplomasi internasional, termasuk Dewan Keamanan PBB dan Komite Internasional Palang Merah (ICRC), untuk memastikan keselamatan para WNI.
Baca juga:
Usai Konflik Wamena, Ribka Haluk: Negara Hadir Kawal Pemulihan Konflik
Di sisi lain, insiden ini memperlihatkan ironi besar dunia internasional: kapal yang membawa bantuan makanan, obat-obatan, dan jurnalis justru diperlakukan seperti ancaman keamanan. Sementara negara-negara terus berbicara soal demokrasi dan kebebasan pers, wartawan di lapangan masih menjadi sasaran intersepsi bersenjata.
Hingga Selasa malam, kondisi terbaru para jurnalis Indonesia yang ditahan masih terus dipantau pemerintah dan organisasi kemanusiaan internasional.
Baca juga:
Drama Razia Penginapan, Seorang Wanita Sembunyi di Atap Genteng
"Ketika wartawan membawa kamera dan bantuan kemanusiaan, yang datang justru kapal perang. Diplomasi Indonesia kini diuji: cukup sebatas kutukan, atau benar-benar menyelamatkan warga negara sendiri?"
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #GlobalSumudFlotilla #SaveJurnalisIndonesia #FreeHumanitarianMission #GazaUnderBlockade #DiplomasiRI

.jpg)