GalaPos ID, Solo.
Dugaan pelecehan seksual oleh seorang dosen berinisial F di UIN Raden Mas Said Solo berkembang menjadi gelombang pengakuan dari para mahasiswi.
Tidak hanya berupa pesan pribadi bernada genit, sejumlah korban juga mengaku mengalami kontak fisik yang membuat mereka trauma.
“Ketika ruang sidang berubah jadi ruang ketakutan, siapa sebenarnya yang sedang diuji?”
Baca juga:
- Skandal Dugaan Pelecehan Seksual Mahasiswi UIN Solo, Rektor: Beri Peringatan
- Investor Asing ke IKN Tembus Rp72,39 T, Pemerintah Klaim Nusantara “Hidup”
- Diplomasi RI Diuji Usai Jurnalis Indonesia Ditahan Israel di Mediterania
Gala Poin:
1. Sejumlah mahasiswi mengaku mengalami pesan bernada personal dan perlakuan tidak pantas dari dosen F.
2. Korban mengaku trauma hingga takut mengikuti bimbingan dan aktivitas kampus.
3. Penanganan kampus dinilai belum memberikan rasa aman maupun keadilan bagi korban.
Kasus ini menjadi sorotan publik setelah unggahan di media sosial memperlihatkan percakapan diduga dilakukan oleh dosen tersebut kepada mahasiswi. Dari sana, satu per satu korban mulai berani bersuara.
Salah satu korban berinisial R mengaku mengalami dugaan pelecehan saat menjalani magang di minimarket laboratorium FEBI pada September 2025.
Awalnya, ia mengira komunikasi dari dosen tersebut hanya berkaitan dengan urusan pekerjaan magang. Namun, arah percakapan berubah menjadi personal.
“Saya pikir awalnya ada masalah pelayanan atau hal biasa. Tapi lama-lama pertanyaannya mulai aneh. Nanya kos, identitas pribadi, sampai hal-hal yang bikin saya takut. Dia bilang mau dipelet,” ujar R, dikutip dari Radar Solo, Selasa, 19 Mei 2026.
Baca juga:
Tingkatkan Branding Bisnis dengan Paket Publikasi GalaPos ID
Meski tidak lagi dihubungi, trauma disebut masih membekas hingga sekarang.
“Kalau ketemu dia, melihatnya masih aneh banget. Nggak sewajarnya. Saya jadi takut interaksi sama orang lain juga,” ungkapnya.
Korban lain, P, alumni UIN Solo, mengaku pola yang dialaminya hampir sama. Hubungan profesional antara mahasiswa dan dosen perlahan berubah menjadi komunikasi personal yang membuatnya tidak nyaman.
“Beliau sering balas status, manggil pakai panggilan sayang. Pernah ngajak ketemu, sampai bilang mau nyariin kerja buat saya supaya tetap di Solo dan gampang ketemu,” bebernya, Selasa, 19 Mei 2026.
![]() |
| Mahasiswa diajarkan etika akademik, tapi publik kini menunggu etika institusi. Foto: |
P juga mengaku pernah mengalami kontak fisik saat sidang skripsi berlangsung.
“Pas sidang beliau pegang dan elus pergelangan tangan saya. Saya takut dan bingung harus gimana, karena situasinya sidang,” ujarnya.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana relasi kuasa di lingkungan akademik dapat membuat korban memilih diam. Beberapa mahasiswi disebut takut bicara karena khawatir berdampak pada proses akademik mereka.
Salah satu korban lain, Bunga, menyebut bahkan ada mahasiswa bimbingan yang menghentikan proses konsultasi selama berbulan-bulan karena takut bertemu dosen tersebut.
“Bahkan ada lo anak bimbingannya yang tiga bulan ini tidak melakukan bimbingan karena takut,” kata Bunga.
Baca juga:
Perda Cagar Budaya Makassar: Menjaga Sejarah di Tengah Gempuran Beton
Di tengah derasnya kritik publik, pihak kampus memastikan Satgas PPKS telah melakukan pemeriksaan awal.
Rektor UIN Raden Mas Said Solo, Prof. Toto Suharto, mengatakan laporan masuk melalui aplikasi SILADA dan sedang diproses lebih lanjut.
“Ketua satgas memberikan peringatan dengan keras dan tegas. Meminta pelaku agar meminta maaf pada korban secara langsung, dan berjanji tidak akan mengulangi lagi pada siapa pun,” tegas Toto, Selasa, 19 Mei 2026.
Namun, pernyataan itu justru menuai kritik dari korban. Mereka menilai pendekatan kampus terlalu administratif dan belum menyentuh pemulihan psikologis korban.
“Saya rasa kalau hanya minta maaf, itu tidak adil,” ungkap P.
Baca juga:
Dunia Malam dan Narkoba Seret Pelajar SMA di Batu Bara ke Jerat Hukum
Kasus ini kembali membuka perdebatan lama soal keberanian kampus menghadapi dugaan kekerasan seksual di lingkungan akademik. Ketika korban harus viral lebih dulu agar didengar, publik bertanya: apakah sistem perlindungan mahasiswa benar-benar bekerja, atau hanya aktif saat nama institusi mulai dipertaruhkan?
Baca juga:
Puluhan Kapal Aktivis Gaza Dihentikan Israel, Diplomasi Global Memanas
"Di kampus yang seharusnya jadi ruang aman berpikir kritis, mahasiswi justru belajar satu hal baru: bagaimana bertahan dari relasi kuasa yang menyimpang."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #UINSolo #KekerasanSeksual #MahasiswiBeraniBersuara #Kampus #Solo

