GalaPos ID, Timur Tengah.
Ketegangan di Laut Mediterania kembali memanas setelah Angkatan Laut Israel mencegat puluhan kapal aktivis internasional yang membawa misi solidaritas kemanusiaan menuju Jalur Gaza.
Operasi militer yang berlangsung di perairan internasional dekat Siprus itu langsung memicu kecaman dari berbagai negara, termasuk Indonesia, yang menilai tindakan tersebut melanggar hukum internasional.
![]() |
| Di laut internasional, bantuan kemanusiaan kini tampaknya harus lolos izin geopolitik sebelum lolos ombak. Foto X: @aapayes |
"Ketika relawan membawa solidaritas, yang datang justru kapal perang. Dunia modern memang sering bingung membedakan bantuan dan ancaman."
Baca juga:
- Agung Budhy Hambaka Renovasi Masjid dan Bantu APAR untuk SMAN 112 Jakarta
- WSKT Pertahankan Direksi Lama, Utang Turun Rp16 T Ujian Kepercayaan Publik
- Senat AS Blokir Dana Keamanan Ballroom Trump, Perang Anggaran Panas
Gala Poin:
1. Israel mencegat puluhan kapal aktivis Global Sumud Flotilla di perairan internasional dekat Siprus.
2. Sepuluh negara, termasuk Indonesia dan Spanyol, mengecam operasi tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional.
3. Krisis kemanusiaan Gaza kembali menjadi sorotan global di tengah blokade berkepanjangan dan meningkatnya tekanan diplomatik terhadap Israel.
Armada bernama Global Sumud Flotilla itu membawa hampir 500 aktivis dari 45 negara. Lebih dari 50 kapal diketahui bertolak dari Marmaris, Turki, sejak pekan lalu untuk menantang blokade laut Gaza yang telah diberlakukan Israel sejak 2007.
Tayangan langsung para aktivis yang dirilis AP News pada Selasa, 19 Mei 2026, memperlihatkan suasana mencekam saat kapal perang Israel mendekat. Para relawan tampak mengenakan jaket pelampung sambil mengangkat tangan sebelum siaran mendadak terputus ketika tentara Israel naik ke kapal.
Berdasarkan pelacak digital milik penyelenggara, sedikitnya 31 kapal telah dicegat hingga Senin malam. Pencegatan dilaporkan terjadi sekitar 167 kilometer dari pesisir Siprus atau sekitar 250 mil laut dari Gaza.
Menariknya, Presiden Siprus Nikos Christodoulides mengaku tidak menerima pemberitahuan awal dari Israel terkait operasi tersebut. Pusat pencarian dan penyelamatan Siprus juga menyatakan tidak menerima sinyal darurat dari lokasi kejadian.
Baca juga:
Usai Konflik Wamena, Ribka Haluk: Negara Hadir Kawal Pemulihan Konflik
Diplomasi Global Bergerak, Indonesia Ikut Mendesak
Kementerian Luar Negeri RI juga memastikan terdapat dua warga negara Indonesia di dalam armada tersebut, termasuk seorang jurnalis.
Di Madrid, Menteri Luar Negeri Spanyol José Manuel Albares memanggil kuasa usaha Israel sebagai bentuk protes diplomatik.
"Ini merupakan pelanggaran baru terhadap hukum internasional yang terjadi hanya dalam waktu 15 hari setelah pencegatan sebelumnya," ujar Albares.
Italia juga menyatakan telah meminta jaminan keselamatan bagi warga negaranya yang ikut dalam misi tersebut.
![]() |
| Ketika kapal bantuan kemanusiaan dianggap ancaman, dunia kembali menyaksikan bagaimana laut internasional bisa berubah menjadi “pos pemeriksaan politik” paling mahal di abad ini. |
Israel Sebut Flotila Sebagai Provokasi
Pemerintah Israel bersikeras bahwa operasi tersebut diperlukan untuk menjaga blokade terhadap Hamas di Gaza. Kementerian Luar Negeri Israel bahkan menyebut misi itu sekadar “provokasi politik”.
"Sekali lagi, sebuah provokasi demi provokasi: apa yang disebut sebagai 'flotila bantuan kemanusiaan' tanpa adanya bantuan kemanusiaan di dalamnya," tulis Kementerian Luar Negeri Israel melalui platform X.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga memuji operasi tersebut.
"Anda melakukan pekerjaan yang luar biasa... dan secara efektif menggagalkan rencana yang bertujuan untuk memecah isolasi yang kita terapkan pada teroris Hamas di Gaza," ujar Netanyahu kepada pasukan Angkatan Laut Israel.
Di sisi lain, Hamas menyebut tindakan Israel sebagai “aksi bajak laut” dan meminta tekanan internasional untuk mengakhiri blokade Gaza.
Baca juga:
Drama Razia Penginapan, Seorang Wanita Sembunyi di Atap Genteng
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan turut mengecam operasi tersebut dan menegaskan Ankara akan terus berdiri bersama rakyat Gaza.
Pencegatan armada bantuan ini kembali membuka perdebatan lama soal legalitas blokade Gaza di perairan internasional. Israel berdalih kebijakan tersebut bertujuan mencegah Hamas mempersenjatai diri. Namun, kelompok hak asasi manusia dan sejumlah negara menilai blokade itu telah berubah menjadi hukuman kolektif bagi warga sipil Palestina.
Insiden ini juga membangkitkan memori tragedi Mavi Marmara pada 2010, ketika serangan pasukan Israel terhadap kapal bantuan Turki menewaskan sepuluh orang.
Sementara dunia kembali sibuk mengutuk dan menggelar konferensi diplomatik, kondisi kemanusiaan di Gaza terus memburuk. Menurut otoritas kesehatan Gaza, lebih dari 72.700 orang tewas sejak konflik meletus pasca-serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Baca juga:
Marc Klok Bakar Mental Persib, Maung Bandung Tinggal Selangkah Ukir Sejarah
Di tengah klaim Israel bahwa sekitar 600 truk bantuan kini masuk setiap hari, lembaga kemanusiaan internasional menyebut hampir dua juta warga Gaza masih menghadapi krisis pangan, tempat tinggal, dan obat-obatan akut.
Ironisnya, di abad ketika satelit mampu memantau seluruh lautan dunia secara real time, bantuan kemanusiaan tetap bisa berhenti bukan karena badai, melainkan karena veto politik dan laras senjata.
Baca juga:
Jejak Digital dan Press Release, Kunci Kepercayaan Publik
"Ketika kapal bantuan kemanusiaan dianggap ancaman, dunia kembali menyaksikan bagaimana laut internasional bisa berubah menjadi “pos pemeriksaan politik” paling mahal di abad ini. Israel menghentikan armada aktivis Gaza, sementara negara-negara dunia sibuk mengutuk—lagi-lagi setelah semuanya terjadi."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Gaza #IsraelPalestina #GlobalSumudFlotilla #BlokadeGaza #PolitikInternasional
.jpg)
.jpeg)