GalaPos ID, Jakarta.
Perut kembung merupakan keluhan kesehatan yang umum dialami masyarakat. Kondisi ini ditandai dengan perut terasa penuh, mual, serta dorongan untuk mengeluarkan gas, baik melalui sendawa maupun kentut.
Meski kerap dianggap ringan, perut kembung sejatinya berkaitan erat dengan gangguan sistem pencernaan dan tidak selalu disebabkan oleh makanan semata.
![]() |
| Perut kembung adalah kondisi yang identik dengan gangguan pada sistem pencernaan. Namun, apa penyebab perut kembung tersebut sebenarnya? Foto: RSU Ananda Blitar |
"Perut terasa penuh, sering sendawa, hingga ingin kentut terus-menerus kerap dianggap sepele. Namun, di balik perut kembung, bisa tersembunyi gangguan pencernaan serius yang luput dari perhatian publik."
Baca juga:
- Lima Kampus, Satu Lapangan: Liga Golf Alumni 2026 Dimulai
- Ratusan Rumah Terendam, Banjir Pantura Subang Meninggi
- Hujan Deras Berhari-hari, BPBD Catat Puluhan RT Masih Banjir
Gala Poin :
1. Perrerut kembung bisa menjadi gejala gangguan pencernaan serius, bukan sekadar akibat makanan.
2. aktor medis, kebiasaan makan, dan stres berperan besar dalam memicu perut kembung.
3. Penanganan dini dan perubahan gaya hidup penting untuk mencegah komplikasi kesehatan.
Secara medis, perut kembung terjadi ketika saluran pencernaan dipenuhi gas atau udara dalam jumlah melebihi batas normal. Gas berlebih ini dapat berasal dari proses pencernaan, kebiasaan makan, hingga indikasi penyakit tertentu.
Salah satu penyebab utama perut kembung adalah gastroesophageal reflux disease (GERD) atau refluks asam lambung. Kondisi ini dipicu oleh produksi asam lambung berlebih serta melemahnya fungsi katup kerongkongan bagian bawah, sehingga asam lambung naik ke kerongkongan.
Selain perut kembung, GERD juga ditandai dengan nyeri ulu hati, heartburn, rasa pahit di mulut, tenggorokan sakit, dan cegukan.
Faktor makanan juga memegang peran penting. Beberapa jenis makanan diketahui meningkatkan produksi gas di dalam tubuh, seperti apel, plum, kacang polong, kubis, brokoli, makanan tinggi fruktosa, serta makanan yang mengandung gula alkohol seperti sorbitol.
Konsumsi berlebihan tanpa memperhatikan respons tubuh dapat memicu perut sering kembung. Selain itu, intoleransi laktosa menjadi penyebab yang cukup umum.
Baca juga:
Paparan Gadget Berlebih, Kesehatan dan Mental Anak Terancam
Kondisi ini terjadi akibat ketidakmampuan tubuh memproduksi enzim laktase untuk mencerna laktosa. Akibatnya, konsumsi susu dan produk olahannya dapat memicu perut kembung, terutama setelah makan.
Gangguan buang air besar atau sembelit juga tak kalah berperan. Kurangnya asupan serat, pola makan tidak teratur, hingga stres dapat menyebabkan konstipasi, dengan perut kembung sebagai salah satu gejala yang paling sering dirasakan.
Penyebab lain yang perlu diwaspadai adalah irritable bowel syndrome (IBS), yakni kondisi iritasi pada usus besar yang mengganggu fungsi pencernaan. Selain perut kembung, IBS ditandai dengan perut kram, nyeri, mual, kentut berlebihan, dan tubuh terasa lemas.
Perempuan dewasa diketahui memiliki risiko dua kali lebih besar mengalami IBS dibandingkan laki-laki. Dalam kasus yang lebih serius, perut kembung juga dapat menjadi gejala penyakit celiac, yakni gangguan autoimun yang menghambat penyerapan nutrisi.
Gejala lain yang menyertai antara lain diare, ruam, gatal, penurunan berat badan, hingga perubahan warna feses. Tak hanya penyakit, kebiasaan sehari-hari juga berkontribusi. Makan terlalu cepat, makan berlebihan, makan sambil berbicara, serta minum di sela-sela makan dapat meningkatkan udara yang masuk ke saluran pencernaan.
Kondisi ini diperparah oleh aerofagia atau yang dikenal masyarakat sebagai masuk angin. Faktor psikologis pun tidak bisa diabaikan.
Stres, cemas, dan gelisah terbukti dapat meningkatkan produksi asam lambung, sehingga memicu perut kembung. Meski tidak selalu berbahaya, stres berkepanjangan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan yang lebih serius.
Dari sisi penanganan, perut kembung umumnya dapat diatasi dengan cara sederhana, seperti memperbanyak minum air putih, mengonsumsi probiotik, berolahraga, serta mengenakan pakaian longgar. Penggunaan obat penurun gas diperbolehkan, namun tetap disarankan berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.
Perut kembung memang sering dianggap remeh. Namun, bila terjadi berulang atau disertai gejala lain, kondisi ini patut dicurigai sebagai sinyal gangguan kesehatan yang memerlukan perhatian lebih.
Suka tulisan ini?!
Baca juga:
Inovasi Selai Nanas, Strategi Mahasiswa KKN-T Unhas Dorong Ekonomi Lokal
"Perut kembung tidak selalu disebabkan makanan. Mulai dari GERD, IBS, hingga stres, berikut penjelasan medis lengkap penyebab perut kembung yang perlu diwaspadai masyarakat."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Kesehatan #Pencernaan #PerutKembung


