Padi Membusuk di Ciasem, Sampah Liar Pantura Subang Kian Menggunung

GalaPos ID, Subang.
Ratusan hektare tanaman padi berusia 45 hari di wilayah Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat, mati membusuk setelah terendam banjir. Genangan air yang merendam lahan persawahan membuat tanaman padi tidak bisa diselamatkan.
Di wilayah lain, tumpukan sampah liar terlihat menumpuk di bahu Jalan Pantura Ciasem, tepatnya di jalur menuju arah Blanakan maupun ruas Pantura Ciasem.

Gagal Panen dan Sampah Menumpuk, Dua Masalah Lingkungan di Subang
Ratusan hektare tanaman padi berusia 45 hari di wilayah Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat, mati membusuk setelah terendam banjir. Foto: HR

"Banjir merendam ratusan hektare sawah di Ciasem, ratusan petani terancam gagal panen, sementara tumpukan sampah liar di Pantura kian menggunung. Dua persoalan lingkungan di Kabupaten Subang ini menuntut jawaban konkret dari pemerintah daerah."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Ratusan hektare padi usia 45 hari di Ciasem gagal panen akibat banjir, dengan kerugian Rp10–15 juta per hektare.
2. Petani berharap bantuan benih dan solusi banjir tahunan, bukan sekadar penanganan sementara.
3. Tumpukan sampah liar di Pantura Ciasem memperburuk kondisi lingkungan dan dikeluhkan warga karena bau menyengat serta tak kunjung diangkut.


Padahal, usia tanaman sudah memasuki masa pembentukan bulir dan tinggal menunggu beberapa minggu menuju panen. Akibatnya, para petani dipastikan gagal panen. Kerugian yang ditaksir mencapai Rp10 juta hingga Rp15 juta per hektare.

Selain kehilangan hasil panen, petani juga harus kembali mengeluarkan biaya untuk penanaman ulang. Sunawi, salah seorang petani setempat, mengaku pasrah dengan kondisi yang dialaminya.

“Saya tanam sudah 45 hari, tinggal tunggu beberapa minggu lagi untuk masa pembentukan bulir. Tapi keburu terendam banjir. Semua padi membusuk dan tidak bisa diselamatkan. Kami rugi besar, bisa sampai belasan juta per hektare. Sekarang mau tidak mau harus tanam ulang dan berharap ada bantuan benih dari pemerintah,” ujar Sunawi, dikutip Jumat, 20 Februari 2026.

Banjir yang berulang setiap tahun di wilayah tersebut memunculkan pertanyaan serius soal sistem drainase, pengelolaan daerah aliran sungai, hingga mitigasi bencana berbasis pertanian.

Baca juga:
Board of Peace: Inisiatif Perdamaian atau Pergeseran Multilateralisme? 


Tanpa langkah konkret, siklus gagal panen dikhawatirkan terus berulang dan memperburuk kesejahteraan petani. Para petani berharap pemerintah daerah segera memberikan perhatian serius, terutama bantuan benih dan solusi penanganan banjir yang kerap terjadi setiap tahun di wilayah tersebut.

Sampah Liar Menggunung di Pantura Ciasem, Warga Keluhkan Bau Busuk
Di tengah persoalan banjir yang memukul sektor pertanian, masalah lingkungan lain juga mencuat di Kabupaten Subang. Tumpukan sampah liar terlihat menumpuk di bahu Jalan Pantura Ciasem, tepatnya di jalur menuju arah Blanakan maupun ruas Pantura Ciasem.

Kondisi ini bukan hanya merusak pemandangan, tetapi juga menimbulkan aroma bau tak sedap yang mengganggu aktivitas warga dan pengendara yang melintas. Sampah yang menumpuk terdiri dari berbagai jenis, mulai dari plastik, barang-barang bekas, hingga sisa makanan dan sayuran.

Warga menyebut sampah tersebut sudah lama tidak diangkut, sehingga dikhawatirkan akan semakin meluber ke badan jalan. Padahal, jalur tersebut merupakan akses vital yang kerap dilalui, termasuk menuju kantor pemerintahan di Subang maupun ke ibu kota Kecamatan Blanakan.

Padi Membusuk di Ciasem, Sampah Liar Pantura Subang Kian Menggunung
Para petani di Kecamatan Ciasem berharap pemerintah daerah segera memberikan perhatian serius, terutama bantuan benih dan solusi penanganan banjir yang kerap terjadi setiap tahun di wilayah tersebut. Foto: HR

 

Wartiman, salah satu warga setempat, mengeluhkan kondisi ini.

"Kami sebagai warga berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat segera turun tangan menangani tumpukan sampah tersebut. Langkah nyata dan kerja sama dari berbagai unsur dinilai penting demi menciptakan lingkungan yang bersih dan mensukseskan program Indonesia Asri yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto," harapnya.

Dua Masalah Lingkungan, Satu Tuntutan: Solusi Nyata
Banjir yang mematikan ratusan hektare sawah dan pengelolaan sampah yang belum optimal memperlihatkan persoalan lingkungan yang saling terkait. Drainase yang buruk dan saluran tersumbat sampah berpotensi memperparah genangan saat musim hujan.

Baca juga:
Tragedi Penerbangan di Perbatasan RI–Malaysia, Investigasi Pesawat Pelita Air 


Dalam konteks kepentingan publik, pemerintah daerah dituntut tidak sekadar merespons saat krisis terjadi, tetapi menghadirkan solusi sistemik—mulai dari normalisasi saluran air, pengawasan pembuangan sampah liar, hingga dukungan konkret bagi petani terdampak.

Jika tidak, petani akan terus merugi dan warga tetap harus hidup berdampingan dengan bau busuk dan ancaman banjir setiap tahun.

 

Baca juga:
USS Gerald Ford Siaga, Iran Perkuat Bunker: Akhir Pekan Penentuan?

"Ratusan hektare padi berusia 45 hari di Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, mati membusuk akibat banjir dengan kerugian hingga Rp15 juta per hektare. Di sisi lain, tumpukan sampah liar di Pantura Ciasem dikeluhkan warga karena bau menyengat dan tak kunjung diangkut."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Subang #Banjir #Petani #Sampah

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال