USS Gerald Ford Siaga, Iran Perkuat Bunker: Akhir Pekan Penentuan?

GalaPos ID, Teheran/Washington.
Militer Amerika Serikat dikabarkan telah mencapai kesiapan penuh untuk melancarkan serangan terhadap Iran paling cepat pada Sabtu, 21 Februari 2026. Namun di balik hiruk-pikuk mobilisasi militer terbesar dalam setahun terakhir, Gedung Putih belum mengeluarkan perintah final.
Presiden Donald Trump, menurut sejumlah sumber internal, masih menimbang-nimbang opsi terakhirnya.

Trump Masih Timbang Opsi Serangan ke Iran, Kongres Belum Restui
AS dikabarkan siap menyerang Iran akhir pekan ini. Benarkah keputusan perang sudah diambil, atau sekadar strategi tekanan?

"Di tengah heningnya malam di Teluk Persia, dua armada kapal induk raksasa Amerika Serikat kini berlayar bersiap. Satu sudah di posisi, satu lagi dalam perjalanan. Jet tempur bergeser lebih dekat, personel militer ditarik untuk selamat, dan citra satelit menunjukkan Iran tergesa-gesa membangun perisai beton di atas fasilitas sensitifnya. Dunia menahan napas: akankah akhir pekan ini menjadi awal perang baru di Timur Tengah? Ataukah ini semua hanya permainan saraf politik menjelang babak baru diplomasi?"

Baca juga:

Gala Poin:
1. Belum Ada Keputusan Final – Meski militer AS dalam kesiapan tinggi, Presiden Trump belum menyetujui serangan dan Kongres belum memberikan otorisasi resmi.
2. Mobilisasi sebagai Strategi Tekanan – Penempatan kapal induk dan reposisi jet tempur lebih merupakan sinyal pencegahan (deterrence) daripada persiapan perang pasti.
3. Legitimasi Politik Dipertanyakan – Tanpa resolusi Kongres, serangan besar berpotensi memicu krisis konstitusional dan pertentangan politik domestik AS.


Mengutip laporan CBS News yang dikonfirmasi CNN International, kesiapan teknis pasukan AS kini berada pada level maksimal. Jet tempur dan pesawat tanker telah direposisi dari pangkalan di Inggris ke wilayah lebih dekat Iran.

Kapal induk USS Gerald R. Ford dijadwalkan tiba di Timur Tengah akhir pekan ini, bergabung dengan USS Abraham Lincoln yang sudah lebih dulu berpatroli di perairan strategis.

Namun para analis militer mengingatkan: kesiapan tempur tidak sama dengan keputusan politik.


Gedung Putih: Opsi Terbuka, Tenggat Tidak Ada
Di tengah spekulasi yang memanas, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa pintu diplomasi masih terbuka lebar. Ia merespons pertanyaan wartawan dengan pernyataan hati-hati yang menjadi ciri khas komunikasi krisis pemerintahan Trump.

"Saya tidak akan menetapkan tenggat waktu atas nama Presiden Amerika Serikat," ujar Leavitt dalam konferensi pers, Jumat, 20 Februari 2026.

Baca juga:
Operasi Pekat di Cibinong-Sukaraja, Solusi atau Seremoni Tahunan?

"Ada banyak alasan dan argumen yang bisa dibuat oleh seseorang untuk melakukan serangan terhadap Iran," tambahnya, mengisyaratkan bahwa opsi militer tetap berada di atas meja meski belum diambil.

Para pakar strategi membaca pernyataan ini sebagai bentuk deterrence signaling—sinyal pencegahan yang kerap digunakan AS untuk menekan lawan tanpa harus menembakkan peluru pertama. Mobilisasi besar, dalam logika ini, adalah instrumen diplomasi itu sendiri.

Diplomasi Buntu, Tapi Perang Bukan Otomatis
Sementara itu, negosiasi tidak langsung antara AS dan Iran di Jenewa baru saja berlangsung selama tiga setengah jam.

Hasilnya: tak ada resolusi jelas. Kebuntuan ini mengingatkan pada dinamika pasca-2018, ketika AS secara sepihak keluar dari kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Sejak saat itu, Iran secara bertahap meningkatkan pengayaan uranium melampaui batas yang disepakati. Namun dalam sejarah panjang hubungan kedua negara yang diwarnai ketegangan, kebuntuan diplomatis belum tentu berujung pada konflik terbuka.

"Kebuntuan seperti ini sudah terjadi puluhan kali. Yang berbeda kali ini adalah skala mobilisasi militernya," ujar seorang pengamat kebijakan luar negeri yang enggan disebut namanya.

USS Gerald Ford ke Timur Tengah, Apakah AS Akan Perang dengan Iran?
Citra satelit menunjukkan bahwa Iran baru-baru ini membangun perisai beton di atas fasilitas baru di situs militer yang sensitif dan menutupinya dengan tanah. Foto: AP

 

Trump Masih Menimbang, Kushner dan Witkoff Beri Laporan
Sumber internal Gedung Putih menyebutkan bahwa Presiden Trump menghabiskan waktu lebih banyak dari biasanya untuk memikirkan opsi Iran. Ia secara rutin menerima laporan dari utusan khusus Timur Tengah Steve Witkoff dan penasihat senior Jared Kushner.

"Dia menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan hal ini," ungkap seorang sumber yang mengetahui dinamika internal.

Namun sumber yang sama menegaskan: "Trump belum menyetujui apa pun." Yang ada saat ini baru sebatar pengarahan teknis bahwa militer siap jika suatu saat perintah dikeluarkan.

Tanpa resolusi Kongres dan tanpa pengumuman formal dari Departemen Pertahanan, serangan besar berpotensi memicu krisis konstitusional di dalam negeri AS. Apalagi, sejumlah anggota Kongres dari kedua partai mulai menyuarakan kewenangan perang yang harus melalui persetujuan legislatif.

Baca juga:
Efektifkah Publikasi di Media Mainstream untuk Kredibilitas Usaha? 


Persiapan Perang atau Perlindungan Pra-Aksi?

Menariknya, di tengah mobilisasi ofensif, Pentagon justru menarik sejumlah personel AS dari Timur Tengah. Sebagian dipindahkan ke Eropa, sebagian kembali ke Amerika. Pejabat pertahanan menyebut ini sebagai protokol standar pra-aksi—mengurangi risiko sebelum potensi operasi atau kemungkinan pembalasan Iran.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Marco Rubio dijadwalkan mengunjungi Israel dalam waktu dua minggu untuk bertemu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Israel sendiri selama ini menjadi pendukung utama garis keras terhadap Iran.

Pertemuan Desember lalu di Mar-a-Lago, Trump dikabarkan memberi sinyal pada Netanyahu bahwa ia akan mendukung serangan Israel terhadap program rudal balistik Iran jika negosiasi AS–Iran gagal mencapai kesepakatan.

Baca juga:
Bolehkah Niat Puasa Ramadhan Tidak Diulang Setiap Hari?


Iran Tidak Diam: Bunker Beton dan Ancaman Balasan

Di Teheran, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei mengeluarkan peringatan keras. "Mengirim kapal induk adalah demonstrasi kekuatan. Tetapi menenggelamkannya akan menjadi demonstrasi kemampuan," ujarnya dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah.

Citra satelit terbaru yang dianalisis para pakar menunjukkan Iran mempercepat pembangunan perisai beton di atas sejumlah fasilitas militer sensitif. Beberapa pintu masuk terowongan di lokasi nuklir yang pernah dibom AS dalam perang 12 hari dengan Israel pada Juni lalu, kini dikubur dan ditutupi tanah.

Kompleks Militer Parchin, sekitar 30 km tenggara Teheran, menjadi sorotan. Intelijen Barat selama bertahun-tahun mencurigai lokasi ini sebagai tempat uji coba terkait peledakan bom nuklir lebih dari dua dekade lalu—sesuatu yang selalu dibantah Iran.

Citra satelit dari Oktober 2025 menunjukkan pembangunan struktur baru di Parchin. November 2025, atap logam mulai menutupi sebagian fasilitas. Desember 2025, bangunan itu tertutup sebagian. Dan pada 16 Februari 2026, fasilitas tersebut sama sekali tidak terlihat dari langit—ditutupi struktur beton yang menurut para pakar dirancang tahan serangan rudal.

 

Baca juga:
Panduan Lengkap Niat Puasa Ramadhan, Qadha, Nazar, dan Sunnah

"Militer AS mencapai kesiapan penuh serang Iran akhir pekan ini, namun Presiden Trump belum ambil keputusan final. Mobilisasi kapal induk dan jet tempur ke Timur Tengah diiringi persiapan defensif Iran yang membangun bunker beton. Analisis lengkap apakah ini sinyal perang atau sekadar strategi tekanan diplomatik menjelang babak baru negosiasi nuklir. Simak fakta di balik ketegangan AS–Iran terkini."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #GeopolitikTimurTengah #KrisisASIran #DiplomasiAtauPerang #KeamananGlobal #AnalisisMiliter

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال