GalaPos ID, Israel.
Mayoritas warga Israel menyatakan dukungan terhadap kemungkinan negaranya bergabung dalam serangan militer Amerika Serikat ke Iran. Hasil itu terungkap dalam jajak pendapat Channel 12 yang dirilis Kamis, 19 Februari 2026.
![]() |
| Risiko meletusnya perang antara Amerika Serikat dan Iran dinilai masih tinggi. Meski perundingan nuklir berlangsung, gestur kedua pihak tetap menjadikan opsi militer sebagai ancaman terbuka. |
"Ketika Presiden AS mengancam Teheran, mayoritas warga Israel justru menyatakan siap mendukung aksi militer. Apa maknanya bagi stabilitas Timur Tengah?"
Baca juga:
- Ribuan Warga Terdampak, Banjarbaru Tetap Waspada Cuaca Ekstrem
- Masjid Raya Singkawang, Cermin Kerukunan Multi Etnis di Kota Amoy
- Bali Tunda Penutupan TPA Suwung, Ini Alasan dan Dampaknya
Gala Poin:
1. 59% warga Israel mendukung kemungkinan bergabung dalam serangan AS ke Iran.
2. Ketegangan meningkat di tengah negosiasi nuklir yang belum membuahkan hasil.
3. Keterlibatan Israel berisiko memperluas konflik regional.
Survei tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang Teheran jika gagal mencapai kesepakatan nuklir baru.
Sebanyak 59 persen responden mendukung Israel bergabung dalam aksi militer AS terhadap Republik Islam Iran. Sementara 29 persen menyatakan penolakan dan 12 persen lainnya belum menentukan sikap.
Dukungan mayoritas ini mencerminkan tingginya persepsi ancaman terhadap Iran di kalangan publik Israel. Namun survei juga menunjukkan hampir sepertiga responden menolak keterlibatan militer—angka yang tidak kecil dalam isu perang terbuka.
Situasi ini berkembang ketika pertemuan kedua AS dan Iran di Jenewa pada Selasa, 17 Februari 2026, belum menghasilkan kesepakatan substantif. Di saat diplomasi berjalan lambat, retorika militer justru meningkat.
Baca juga:
Board of Peace: Inisiatif Perdamaian atau Pergeseran Multilateralisme?
Trump mengisyaratkan kemungkinan penggunaan pesawat pengebom B-2 Spirit dan pangkalan Diego Garcia di Samudera Hindia untuk menyerang Iran jika diperlukan. Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menyatakan negaranya tidak gentar dan siap membalas.
Keterlibatan Israel dalam serangan ke Iran berpotensi memperluas konflik di kawasan. Iran selama ini memandang Israel sebagai musuh utama dan sekutu strategis AS di Timur Tengah.
Jika eskalasi benar terjadi, potensi serangan balasan terhadap sekutu AS—termasuk Israel—menjadi salah satu risiko yang disorot para analis keamanan.
Survei Channel 12 ini menunjukkan satu hal: opini publik Israel tampak lebih siap terhadap opsi militer dibandingkan kompromi diplomatik. Namun sejarah kawasan menunjukkan bahwa keputusan perang jarang berakhir sesuai ekspektasi awal.
![]() |
| Opsi militer masih terbuka meski negosiasi AS–Iran berlangsung. |
Presiden AS Donald Trump disebut telah menyiapkan berbagai aset militer di Timur Tengah. Media AS melaporkan militer siap melancarkan serangan paling cepat akhir pekan ini, meskipun keputusan akhir belum diumumkan.
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menyebut ada dua kemungkinan.
"Sampai detik ini menurut saya masih ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, serangan ditunda karena kalau disebutkan Sabtu akan diserang itu sebagai gertakan Trump agar Iran segera menyepakati apa yang dinegosiasi antara AS dengan Iran," kata Hikmahanto kepada wartawan, Jumat, 20 Februari 2026.
Baca juga:
Tragedi Penerbangan di Perbatasan RI–Malaysia, Investigasi Pesawat Pelita Air
"Survei Channel 12 menunjukkan 59 persen warga Israel mendukung kemungkinan negaranya ikut serta dalam serangan Amerika Serikat ke Iran di tengah ancaman Presiden Donald Trump terhadap Teheran."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Israel #Iran #DonaldTrump #AS #Geopolitik #KeamananGlobal

.jpg)