Masjid Raya Singkawang, Cermin Kerukunan Multi Etnis di Kota Amoy

GalaPos ID, Singkawang.
Masjid Raya Singkawang bukan sekadar rumah ibadah. Bangunan yang kini berstatus cagar budaya itu menyimpan rekam jejak lebih dari satu abad perjalanan komunitas Muslim di Singkawang.
Berdiri megah dengan balutan warna hijau dan putih, Masjid Raya Singkawang menjadi salah satu ikon religius sekaligus destinasi wisata spiritual di Kota Singkawang, Kalimantan Barat.

Masjid Raya Singkawang, Warisan Abad ke-19 yang Terus Bertahan
Latar Gunung Poteng—yang juga dikenal sebagai Gunung Jempol—membuat lanskap masjid ini semakin memesona. Saat malam tiba, cahaya lampu yang menerangi setiap sudut bangunan dan taman menghadirkan suasana hangat dan menenangkan. Foto: KTS
 

"Berdiri sejak 1870-an, Masjid Raya Singkawang bukan sekadar bangunan ibadah. Ia menyimpan jejak saudagar India, tragedi kebakaran, dan perjuangan masyarakat mempertahankan identitas sejarahnya."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Didirikan 1870-an oleh saudagar India untuk komunitas Muslim setempat.
2. Mengalami kebakaran besar era 1930-an namun selalu dibangun kembali.
3. Empat tiang kayu ulin asli dan menara 1933 menjadi penanda historis yang dipertahankan.


Didirikan sekitar 1870-an, masjid ini awalnya hanya berupa bangunan kayu sederhana yang diperuntukkan bagi komunitas Muslim keturunan India di kawasan tersebut.

"Jadi pertama kali masjid ini kecil saja, masjid yang tidak permanen, dari kayu di sebelah belakang sana. Kecil dan untuk konsumsi masyarakat sekitar sini saja. Masyarakat sekitar sini kebetulan pada saat itu kebanyakan keturunan dari India yang Muslim," kata Pendiri masjid raya Singkawang generasi ke-4, Akhmad Kismed, dikutip Jumat, 20 Februari 2026.

Masjid Raya Singkawang didirikan dua saudagar asal India, Bawasahib Marican dan putranya, Haji B. Achmad Marican. Keduanya berasal dari Distrik Karikal, Kalkuta, India, dan tiba di Hindia Belanda sekitar tahun 1870.

"Kemudian mereka membangun masjid di sini dan itu Alhamdulillah dibangun oleh seorang pedagang dari India yang bernama Bawasahib Maricar, yang datang dari India langsung. Itu membangun di sini untuk konsumsi masyarakat sekelompok," lanjutnya.

Baca juga:
USS Gerald Ford Siaga, Iran Perkuat Bunker: Akhir Pekan Penentuan?

Bertahan dari Kebakaran Besar
Dalam lintasan sejarahnya, masjid ini tidak luput dari bencana. Pada era 1930-an, kebakaran besar nyaris meluluhlantakkan bangunan lama. Namun masyarakat kembali membangunnya.

Fakta kebakaran berulang menjadi catatan penting. Ketahanan bangunan kayu di masa lalu tentu menjadi pertanyaan, terutama terkait standar keselamatan konstruksi saat itu. Namun, justru dari situ terlihat kuatnya solidaritas komunitas yang berulang kali menghidupkan kembali rumah ibadah ini.

Renovasi Besar dan Empat Tiang Asli
Renovasi besar terakhir dilakukan pada 2007 dan rampung pada 2012. Wajah masjid berubah signifikan, lebih modern dan luas, mengikuti pertumbuhan jumlah jamaah. Namun, empat tiang kayu ulin asli tetap dipertahankan.

"Empat tiang itu masih dari bangunan lama. Itu yang menjadi nilai sejarah masjid ini," ujar Ketua Pengurus Masjid Raya Singkawang, Muhammad Jamharis.

Selain itu, menara kecil setinggi sekitar 15 meter yang dibangun pada 1933 juga masih berdiri. Elemen-elemen inilah yang menjadi jangkar historis di tengah modernisasi fisik bangunan.

Sejarah Masjid Raya Singkawang: Dari Kayu Sederhana hingga Cagar Budaya
Menariknya, pada waktu yang hampir bersamaan, seorang kapiten Tionghoa membangun tempat ibadah yang letaknya berdekatan dengan masjid. Kedua rumah ibadah itu berdiri berdampingan, menjadi simbol nyata keharmonisan antar etnis dan agama yang telah terjalin lama di Singkawang. Foto: KTS

 

Status Cagar Budaya dan Tanggung Jawab Publik
Kini, Masjid Raya Singkawang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh dinas terkait. Status tersebut mempertegas tanggung jawab pengelola dan pemerintah daerah untuk menjaga keaslian serta nilai historisnya.

Pertanyaannya, sejauh mana pengawasan dan perawatan dilakukan secara berkelanjutan? Status cagar budaya tidak boleh berhenti pada seremoni administratif, melainkan harus diikuti dengan transparansi anggaran, perawatan rutin, dan dokumentasi sejarah yang terbuka untuk publik.

Di luar aspek sejarah, masjid ini tetap hidup sebagai pusat kegiatan keagamaan. Ratusan jamaah hadir setiap hari, dan jumlahnya melonjak saat Ramadan hingga Idulfitri.

Masjid Raya Singkawang berdiri bukan hanya sebagai simbol religius, tetapi juga sebagai saksi ketahanan komunitas—dari bangunan kayu kecil hingga ikon kota yang berusia lebih dari satu abad.

 

Baca juga:
Skandal Korupsi Dana BTT 2022 Batu Bara, Kadis Kesehatan dan PPK Ditahan

"Masjid Raya Singkawang di Kalimantan Barat berdiri sejak abad ke-19. Dibangun oleh saudagar India, masjid ini beberapa kali terbakar dan kini berstatus cagar budaya dengan empat tiang kayu asli yang masih dipertahankan."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #MasjidRayaSingkawang #SejarahSingkawang #CagarBudayaIndonesia #JejakSaudagarIndia #WisataReligiKalbar

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال