GalaPos ID, Denpasar.
Rencana penutupan TPA Suwung yang semula dijadwalkan pada 1 Maret 2026 dipastikan belum dapat direalisasikan.
Pemerintah Provinsi Bali menilai kondisi di lapangan belum memungkinkan untuk menghentikan operasional tempat pembuangan akhir terbesar di Bali tersebut dalam waktu dekat.
![]() |
| Pemprov Bali menunda penutupan TPA Suwung hingga pertengahan November 2026 |
"Rencana penutupan TPA Suwung pada 1 Maret 2026 resmi ditunda. Gubernur Bali Wayan Koster menyebut sistem pengolahan sampah belum siap. Apa dampaknya bagi Denpasar, Badung, dan pariwisata Bali?"
Baca juga:
- Misteri dan Kronologi Jatuhnya Air Tractor AT-802 di Nunukan
- Waktu Puasa 2026! Ini Waktu Imsak, Subuh dan Magrib Ramadan 2026
- Operasi Pekat di Cibinong-Sukaraja, Solusi atau Seremoni Tahunan?
Gala Poin:
1. Penutupan TPA Suwung ditunda hingga pertengahan November 2026 karena infrastruktur belum siap.
2. Pemprov Bali menyiapkan peningkatan TPS3R, TPST, teba modern, komposter rumah tangga, dan mesin pengolah sampah.
3. Pelaku pariwisata meminta penutupan tidak dilakukan tanpa sistem pengganti yang matang demi menjaga citra Bali.
Gubernur Bali, Wayan Koster, menyampaikan bahwa berdasarkan evaluasi terkini, penghentian total volume sampah ke TPA Suwung baru dapat dilakukan secara bertahap dan ditargetkan rampung pada pertengahan November 2026.
“Segala prosesnya ini harus bertahap, tidak bisa langsung atau instan, dan memerlukan waktu. Tidak bisa diburu-burukan juga. Jadi persoalan ini baru bisa diselesaikan kira-kira pertengahan November 2026 ini," ujar Gubernur Koster, dikutip Kamis, 19 Februari 2026.
Infrastruktur Pengganti Belum Optimal
Menurut Koster, kesiapan infrastruktur pengolahan sampah di daerah penyangga masih memerlukan waktu untuk ditingkatkan. Pemprov Bali telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Denpasar dan Pemerintah Kabupaten Badung guna mempercepat peningkatan kapasitas TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle) dan TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu).
Baca juga:
Mengatur Berita Favorit di Google Search, Mudah dengan Preferred Source
Langkah lain yang ditempuh meliputi penambahan teba modern di desa adat serta distribusi tabung komposter di tingkat rumah tangga. Selain itu, pengadaan mesin pengolah sampah modern juga tengah dipersiapkan.
Namun, proses tersebut membutuhkan tahapan perencanaan, penganggaran, hingga instalasi alat. Pemerintah mengakui seluruh sistem tidak dapat dibangun secara instan.
Jika seluruh skema berjalan optimal, volume sampah yang selama ini dikirim ke TPA Suwung ditargetkan dapat dinolkan secara bertahap.
Sorotan Overkapasitas dan Tekanan Pariwisata
Selama ini, TPA Suwung menampung sebagian besar sampah dari Denpasar dan Badung—dua wilayah dengan aktivitas ekonomi dan pariwisata tertinggi di Bali. Setiap hari, ribuan ton sampah rumah tangga, hotel, restoran, dan pusat usaha masuk ke kawasan tersebut.
![]() |
| Gubernur Wayan Koster menyatakan infrastruktur TPS3R, TPST, dan pengolahan sampah modern belum siap |
Masalah overkapasitas, bau menyengat, hingga potensi pencemaran lingkungan telah lama menjadi sorotan masyarakat dan pelaku industri pariwisata. Penutupan TPA Suwung bahkan disebut sebagai langkah krusial untuk menjaga citra Bali sebagai destinasi internasional.
Namun, transisi tanpa sistem pengganti yang siap dinilai berisiko.
Saat kunjungan kerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Bali, sejumlah pelaku pariwisata menyampaikan aspirasi agar penutupan tidak dilakukan tanpa kesiapan sistem alternatif. Mereka khawatir penutupan mendadak justru memicu penumpukan sampah di kawasan wisata.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Gangguan pengelolaan sampah di wilayah pariwisata dapat berdampak langsung terhadap kualitas lingkungan dan reputasi Bali di mata wisatawan global.
Baca juga:
Panduan Lengkap Niat Puasa Ramadhan, Qadha, Nazar, dan Sunnah
Menuju Reformasi Sistem atau Sekadar Penundaan?
Aspirasi para pelaku usaha akan dibahas lebih lanjut bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Pembahasan mencakup rencana pengolahan sampah menjadi energi serta dukungan kebijakan dari pemerintah pusat.
Penjadwalan ulang hingga November 2026 disebut sebagai langkah realistis. Namun, publik tentu berharap penundaan ini bukan sekadar pergeseran waktu, melainkan momentum reformasi menyeluruh sistem pengelolaan sampah Bali.
Transisi menuju pola pengelolaan berbasis sumber, terdesentralisasi, dan berkelanjutan akan menjadi ujian serius bagi komitmen pemerintah daerah. Tanpa eksekusi yang disiplin dan transparan, risiko overkapasitas dapat kembali terulang.
Baca juga:
Efektifkah Publikasi di Media Mainstream untuk Kredibilitas Usaha?
"Pemprov Bali menunda penutupan TPA Suwung hingga pertengahan November 2026. Gubernur Wayan Koster menyatakan infrastruktur TPS3R, TPST, dan pengolahan sampah modern belum siap. Transisi pengelolaan sampah Bali dilakukan bertahap."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #TPASuwung #Bali #PengelolaanSampah #ReformasiLingkungan #PariwisataBali
.jpg)
.jpg)
.jpg)