Fatigue Perang AS Jadi Hambatan Serangan ke Iran

GalaPos ID, Washington.
Gelombang penolakan terhadap potensi perang dengan Iran mencuat di Kongres Amerika Serikat. Menariknya, suara keberatan datang dari dua partai besar, Demokrat dan Republik, menandai resistensi bipartisan terhadap opsi militer.

Penolakan Bipartisan di Kongres AS
Rudal hipersonik Fattah semakin menjadi sorotan setelah laporan Mashregh News mengaitkannya dengan strategi pertahanan yang ditegaskan Ali Khamenei. Sebagai evolusi proyek Fateh, Fattah diposisikan sebagai senjata strategis yang memperkuat daya tangkal Iran terhadap ancaman maritim dan regional. Foto: parstoday

 

"Penolakan terhadap perang Iran menggema dari Demokrat hingga Republik. Di tengah tekanan internasional dan ancaman balasan Teheran, apakah Presiden Donald Trump menghadapi tembok politik domestik?"

Baca juga:

Gala Poin:
1. Penolakan perang muncul lintas partai di Kongres AS, mencerminkan fatigue publik terhadap konflik panjang.
2. Trump belum memiliki otorisasi resmi Kongres untuk melancarkan perang besar terhadap Iran.
3. Resistensi domestik dan risiko konstitusional menjadi hambatan serius terhadap eskalasi militer.


Anggota Kongres Greg Casar menyatakan, "Rakyat Amerika tidak ingin berperang dengan Iran."

Sementara itu, Thomas Massie menuntut pemungutan suara di Kongres sebelum aksi militer dilakukan. Pramila Jayapal juga menolak aksi militer tanpa izin legislatif.

Sikap ini mencerminkan kelelahan publik Amerika setelah dua dekade keterlibatan militer di Irak dan Afghanistan. Trauma politik dan biaya ekonomi perang panjang menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan dalam kalkulasi domestik.

Di bawah Konstitusi AS, deklarasi perang merupakan kewenangan Kongres. Tanpa otorisasi resmi, langkah militer besar berisiko dipersoalkan secara hukum dan memicu krisis politik internal.

Baca juga:
Board of Peace: Inisiatif Perdamaian atau Pergeseran Multilateralisme?

Iran: Tidak Ingin Perang, Tapi Siap Membalas
Dari Teheran, sinyal yang dikirim juga bernada tegas. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan negaranya tidak menginginkan perang.

"Apakah Amerika benar-benar peduli dengan demokrasi di Iran? Apakah mereka peduli dengan Venezuela?"

Ia menegaskan Iran tidak akan menerima penghinaan dan pemaksaan.

Sikap serupa ditegaskan Duta Besar dan Perwakilan Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeed Iravani. Dalam surat kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Dewan Keamanan, ia menekankan bahwa Iran bukan pihak yang memulai perang, tetapi akan merespons tegas setiap agresi berdasarkan hak membela diri sesuai Pasal 51 Piagam PBB.

Menurutnya, ancaman tersebut “dianggap sebagai pelanggaran berat terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum internasional, serta menimbulkan risiko terjerumusnya kawasan ke dalam siklus baru krisis dan ketidakstabilan.”

Politik Dalam Negeri AS Bisa Gagalkan Perang Iran
Serangan Amerika Serikat ke Iran berpotensi memicu instabilitas kawasan, lonjakan harga minyak global melalui Selat Hormuz, serta menguntungkan industri pertahanan dan eksportir energi tertentu.

 

Risiko Konstitusional dan Tekanan Politik bagi Trump
Bagi Presiden Donald Trump, dinamika ini menciptakan dilema strategis. Tanpa dukungan legislatif yang jelas, keputusan serangan besar terhadap Iran berpotensi menjadi preseden konstitusional yang dipersoalkan.

Selain itu, data jajak pendapat menunjukkan penurunan dukungan generasi muda terhadap Trump pada periode keduanya. Resistensi domestik ini mempersempit ruang manuver Gedung Putih.

Dalam konteks tersebut, mobilisasi militer bisa dibaca sebagai instrumen tekanan negosiasi, bukan keputusan final menuju perang terbuka. Namun, dalam politik internasional, sinyal kekuatan yang ambigu juga berisiko salah tafsir.

Jika Kongres tetap menahan otorisasi, dan opini publik terus menunjukkan kelelahan terhadap perang, maka hambatan terbesar bagi eskalasi militer justru berasal dari dalam negeri Amerika sendiri.

 

 

Baca juga:
Tragedi Penerbangan di Perbatasan RI–Malaysia, Investigasi Pesawat Pelita Air

"Sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat dari dua partai menolak rencana serangan ke Iran dan menuntut otorisasi resmi legislatif. Resistensi domestik dan risiko konstitusional menjadi faktor kunci yang dapat menghambat eskalasi militer."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #KongresAS #PolitikAS #Iran #PerangTimurTengah #Trump

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال