GalaPos ID, Singkawang.
Di tengah julukan kota paling toleran yang disematkan pada Singkawang, Masjid Raya Singkawang berdiri sebagai salah satu simbol penting kerukunan multi etnis. Masjid Raya Singkawang terletak sekitar 200 meter dari Vihara Tri Dharma Bumi Raya, vihara tertua di kota tersebut.
Keberadaan dua rumah ibadah berbeda agama dalam jarak yang begitu dekat menjadi gambaran harmonis kehidupan masyarakat Singkawang.
"Di kota yang dijuluki paling toleran, Masjid Raya Singkawang berdiri berdampingan dengan simbol-simbol keberagaman. Seberapa kuat harmoni itu terjaga?"
Baca juga:
- Masjid Raya Singkawang, Cermin Kerukunan Multi Etnis di Kota Amoy
- Bali Tunda Penutupan TPA Suwung, Ini Alasan dan Dampaknya
- Board of Peace: Inisiatif Perdamaian atau Pergeseran Multilateralisme?
Gala Poin:
1. Masjid Raya Singkawang menjadi simbol toleransi di Kota Amoy.
2. Latar Gunung Poteng memperkuat identitas visual dan wisata religi.
3. Harmoni lintas etnis perlu dijaga lewat kebijakan dan praktik nyata, bukan simbol semata.
Secara fisik, masjid ini tampil megah dengan paduan warna hijau dan putih. Latar Gunung Poteng—yang juga dikenal sebagai Gunung Jempol—menambah lanskap yang khas. Pada malam hari, cahaya lampu menerangi sudut bangunan dan taman, menciptakan suasana hangat.
Untuk memasuki halaman, pengunjung melewati 15 anak tangga dari sisi kanan, kiri, dan belakang. Interiornya ditopang tiang kayu ulin kokoh, dengan ventilasi dan jendela besar yang menjaga sirkulasi udara tetap sejuk.
Jejak Komunitas India dan Dinamika Kota Dagang
Sejarah masjid ini tidak bisa dilepaskan dari arus perdagangan abad ke-19. Komunitas Muslim keturunan India menjadi kelompok awal yang memprakarsai pendiriannya.
Keberadaan mereka memperkaya struktur sosial Singkawang, kota yang lama dikenal sebagai “Kota Amoy” karena dominasi etnis Tionghoa dalam sejarah perdagangan dan pertambangan.
Baca juga:
Tragedi Penerbangan di Perbatasan RI–Malaysia, Investigasi Pesawat Pelita Air
Interaksi antaretnis inilah yang membentuk wajah Singkawang hari ini. Namun, harmoni sosial bukanlah kondisi yang statis. Ia memerlukan ruang dialog, kebijakan inklusif, serta perlindungan kebebasan beragama yang konsisten.
Toleransi: Narasi atau Realitas?
Masjid Raya Singkawang kerap menjadi representasi visual toleransi. Apalagi dalam momentum Ramadan dan perayaan budaya seperti Imlek, ruang-ruang publik kota memperlihatkan interaksi lintas komunitas.
Namun, penting bagi publik untuk melihat lebih dalam: apakah toleransi hanya berhenti pada simbol dan seremoni, atau telah terinternalisasi dalam kebijakan, pendidikan, dan pelayanan publik?
Sebagai bangunan cagar budaya sekaligus pusat kegiatan keagamaan, masjid ini memikul dua fungsi sekaligus: menjaga sejarah dan merawat masa depan.
Setiap hari, ratusan jamaah memadati masjid untuk salat berjamaah. Saat Ramadan hingga Idulfitri, jumlahnya meningkat signifikan. Aktivitas ini menunjukkan bahwa masjid bukan sekadar artefak sejarah, melainkan ruang sosial yang hidup.
Dengan latar Gunung Poteng dan denyut kota dagang yang dinamis, Masjid Raya Singkawang berdiri sebagai pengingat: keberagaman hanya akan bermakna jika terus dirawat, bukan sekadar dirayakan.
Berdampingan dengan Vihara Tertua
Masjid Raya Singkawang terletak sekitar 200 meter dari Vihara Tri Dharma Bumi Raya, vihara tertua di kota tersebut. Keberadaan dua rumah ibadah berbeda agama dalam jarak yang begitu dekat menjadi gambaran harmonis kehidupan masyarakat Singkawang.
Di tengah kawasan yang mayoritas dihuni masyarakat Tionghoa, masjid ini berdiri sebagai simbol kerukunan yang telah terbangun sejak abad ke-19. Tak heran, banyak wisatawan yang berkunjung ke Singkawang menyempatkan diri untuk beribadah sekaligus mengabadikan momen di masjid berpagar putih dengan dominasi warna hijau ini.
Baca juga:
Skandal Korupsi Dana BTT 2022 Batu Bara, Kadis Kesehatan dan PPK Ditahan
Akses menuju masjid pun mudah karena letaknya berada di pusat kota. Pengunjung dapat mencapainya melalui Jalan Raya Diponegoro maupun Jalan Budi Utomo.
"Jadi pertama kali masjid ini kecil saja, masjid yang tidak permanen, dari kayu di sebelah belakang sana. Kecil dan untuk konsumsi masyarakat sekitar sini saja. Masyarakat sekitar sini kebetulan pada saat itu kebanyakan keturunan dari India yang Muslim," kata Pendiri masjid raya Singkawang generasi ke-4, Akhmad Kismed, dikutip Jumat, 20 Februari 2026.
Masjid Raya Singkawang bukan sekadar tempat ibadah, melainkan juga saksi sejarah panjang perjumpaan budaya, perdagangan, dan toleransi antar etnis di Kalimantan Barat. Di sinilah keberagaman tak hanya hidup berdampingan, tetapi tumbuh dalam harmoni.
Baca juga:
USS Gerald Ford Siaga, Iran Perkuat Bunker: Akhir Pekan Penentuan?
"Masjid Raya Singkawang menjadi simbol kerukunan multi etnis di Kota Amoy. Berdiri megah dengan latar Gunung Poteng, masjid ini merefleksikan sejarah panjang toleransi di Singkawang."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #KotaToleran #Singkawang #MasjidRaya #HarmoniIndonesia #WisataReligi
.jpeg)
.jpeg)