GalaPos ID, NTB.
Seorang ibu rumah tangga asal Lombok Tengah, NTB, Yusima Barokah, sukses mengembangkan usaha jamu kunyit asam skala rumahan yang kini diminati pasar lokal. Dengan bahan alami seperti kunyit, asam jawa, jahe, dan temu lawak, Yusi mampu menjual 10 botol per hari dengan harga Rp12.000, sambil memanfaatkan pemasaran digital dan testimoni pelanggan.
Usahanya menjadi contoh UMKM herbal Indonesia yang mampu bersaing dengan minuman modern.
![]() |
| Yusima Barokah, pengusaha jamu herbal dari Lombok Tengah, menunjukkan bahwa produk jamu tradisional bisa menjadi bisnis yang menjanjikan. |
"Di tengah popularitas minuman kopi dan minuman instan, Yusima Barokah, seorang ibu rumah tangga di Lombok Tengah, membuktikan bahwa jamu herbal tradisional bisa bersaing, asalkan mendapat dukungan skala produksi dan promosi yang tepat."
Baca juga:
- Manfaatkan Pekarangan dan Galon Bekas, Mahasiswa UNHAS Dorong Aquaponik
- GP Ansor: Kedudukan Polri di Bawah Presiden Sesuai Konstitusi
- Harga Cabai Dua Kali Lipat, DPR: Jangan Jadi Beban Rutin Ramadan
Gala Poin:
1. Jamu kunyit asam UMKM Lombok Tengah memiliki permintaan stabil dan berpotensi dikembangkan
2. Keberhasilan usaha bergantung pada kesadaran masyarakat terhadap khasiat jamu herbal
3. Skala produksi terbatas, membutuhkan dukungan modal dan pelatihan manajemen
Seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Yusima Barokah, berhasil mengembangkan usaha jamu herbal skala rumahan yang mampu menembus pasar lokal dengan permintaan yang konsisten.
Jamu yang diproduksi Yusima terbuat dari bahan alami seperti kunyit, asam jawa, gula aren, sereh, temu lawak, dan jahe. Kombinasi kurkumin dalam kunyit dan mineral penting dalam asam jawa menjadikan minuman ini populer sebagai pilihan sehat oleh konsumen.
Dalam sehari, Yusima mengaku mampu menjual rata-rata 10 botol jamu kunyit asam ukuran 500 mililiter dengan harga Rp12.000 per botol. Stabilnya permintaan pasar membuat ia optimistis usahanya memiliki peluang besar untuk dikembangkan lebih luas.
“Usaha jamu kunyit asam tidak kalah saing dengan minuman kopi keliling, es teh, es jeruk peras, dan minuman lainnya,” ujar Yusi Barokah, Selasa, 27 Januari 2026.
Baca juga:
Cek Endra Soroti Lemahnya Pencegahan Lingkungan di Wilayah Rawan Bencana
Yusima menekankan bahwa keberhasilan produknya tidak hanya bergantung pada rasa, tetapi lebih kepada kesadaran masyarakat akan manfaat jamu herbal dalam menjaga kesehatan dan stamina tubuh. Pemasaran produk banyak ditempuh melalui testimoni pelanggan dan pesanan daring.
Meski demikian, Yusima mengakui skala produksi yang masih terbatas menjadi tantangan utama. Dukungan modal, alat produksi, dan pelatihan manajemen usaha yang profesional sangat dibutuhkan agar usaha jamu herbal dapat berkembang berkelanjutan.
“Harapan saya, ada perhatian dari pemerintah terhadap upaya peningkatan produksi jamu yang menjadi produk andalan saya,” tutupnya.
![]() |
| UMKM jamu herbal di Indonesia semakin berkembang, termasuk usaha rumahan jamu kunyit asam milik Yusima Barokah di Lombok Tengah, NTB |
UMKM jamu herbal di Indonesia memproduksi berbagai minuman tradisional berbahan alami seperti kunyit asam, beras kencur, dan temulawak, seringkali dalam bentuk serbuk instan atau jamu botolan.
Beberapa UMKM, seperti Makaaruien di Manado dan Liwut Sari di Manggarai Timur, mulai berkembang dengan inovasi pengemasan dan penggunaan alat kristalisasi untuk meningkatkan kualitas serta jangkauan pasar.
Baca juga:
Kembung hingga Sakit Kepala, Efek Garam yang Sering Diabaikan
"Yusima Barokah sukses memasarkan jamu kunyit asam skala rumahan di Lombok Tengah dengan permintaan stabil. Meski begitu, keterbatasan produksi dan modal menjadi tantangan utama pengembangan usaha jamu herbal ini."
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Jamu #UMKM #Lombok
.jpeg)
.jpeg)