Harga Cabai Dua Kali Lipat, DPR: Jangan Jadi Beban Rutin Ramadan

GalaPos ID, Jakarta.
Kenaikan harga bahan pokok (sembako) menjelang Ramadan kembali menjadi persoalan serius yang membebani masyarakat.
Lonjakan harga cabai, bawang, minyak goreng, dan daging tidak hanya menekan daya beli warga, tetapi juga menunjukkan lemahnya pengawasan distribusi pangan yang seharusnya dapat diantisipasi pemerintah jauh-jauh hari.

Lonjakan Cabai dan Minyak Goreng, DPR Soroti Distribusi Pangan

"Setiap Ramadan, lonjakan harga sembako selalu menjadi momok bagi masyarakat. Tahun ini, kenaikan cabai hingga dua kali lipat kembali menegaskan lemahnya pengendalian distribusi pangan nasional."

Baca juga:

Gala Poin:
1. Kenaikan harga sembako menjelang Ramadan menunjukkan masalah struktural dalam distribusi pangan nasional.
2. Pemerintah harus bersikap proaktif dengan operasi pasar, pengawasan harga, dan antisipasi stok jauh hari.
3. Sarifah Suraidah menekankan negara harus melindungi daya beli masyarakat agar momen keagamaan tetap tenang.


Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Sarifah Suraidah, menilai pola kenaikan harga sembako yang terjadi hampir setiap tahun mencerminkan masalah struktural dalam tata niaga dan distribusi pangan nasional.

Menurutnya, pemerintah seharusnya bisa mengambil langkah antisipatif lebih awal agar masyarakat tidak panik.

“Ramadan seharusnya menjadi bulan yang menenangkan bagi masyarakat, bukan justru menghadirkan kekhawatiran akibat harga kebutuhan pokok yang melonjak. Jika ini terus berulang setiap tahun, berarti ada yang belum beres dalam sistem pengendalian harga pangan kita,” papar Sarifah di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin, 27 Januari 2026.

Laporan dari berbagai daerah menunjukkan kenaikan signifikan di akhir Januari.

Baca juga:
Minuman Manis dan Ancaman Kesehatan Publik 


Harga cabai rawit melonjak hingga dua kali lipat, dari Rp50.000 menjadi Rp100.000 per kilogram, bawang merah naik dari Rp38.000 menjadi Rp44.000 per kilogram, dan minyak goreng meningkat dari Rp15.000 menjadi Rp17.000 per liter. Kondisi ini berdampak langsung pada rumah tangga berpenghasilan menengah ke bawah.

Sarifah menegaskan, kenaikan harga tersebut tidak bisa terus dibenarkan dengan alasan permintaan musiman.

Pemerintah, melalui Kementerian Perdagangan, Bulog, dan BUMN pangan, harus proaktif memastikan ketersediaan stok, kelancaran distribusi, serta pengawasan harga hingga ke pedagang.

“Setiap tahun kita tahu Ramadan akan datang. Maka seharusnya antisipasi stok dan distribusi dilakukan jauh hari, bukan bersikap reaktif ketika harga sudah terlanjur melonjak,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Bunda Harum –sapaan akrab Sarifah Suraidah– menekankan negara harus hadir melindungi daya beli masyarakat, khususnya di momen keagamaan yang seharusnya dijalani dengan tenang.

Ramadan Kembali Bebani Masyarakat, Sarifah Suraidah Minta Pemerintah Proaktif
Kodim 0203/Langkat mengerahkan puluhan prajuritnya untuk menyerbu ke Pasar Tavip, Kota Binjai, Sumatera Utara, Kamis, 29 Februari 2024

 

Ia meminta pemerintah dan pemangku kepentingan sektor perdagangan dan pangan memperkuat operasi pasar, memperbaiki rantai pasok, serta menindak praktik spekulasi harga.

“Kenaikan harga sembako yang terus berulang setiap Ramadan tidak boleh dianggap sebagai hal yang wajar. Ini harus menjadi prioritas bersama agar kesejahteraan rakyat benar-benar dirasakan,” pungkas Srikandi Politik Golkar Dapil Kalimantan Timur ini.

 

 

Baca juga:
Diet Lacto-Vegetarian: Antara Etika, Lingkungan, dan Kesehatan

"Sarifah Suraidah soroti kenaikan harga sembako jelang Ramadan. Ia mendesak pemerintah memperkuat pengawasan distribusi, operasi pasar, dan mencegah spekulasi harga agar masyarakat tidak terbebani."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Harga #Sembako #Ramadan2026

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال