Terra LUNA dan Stablecoin Algoritmik, Inovasi atau Bom Waktu?

GalaPos ID, Jakarta.
Terra lahir dengan ambisi besar: menciptakan sistem pembayaran digital global berbasis blockchain yang stabil, cepat, dan terdesentralisasi.
Didirikan pada 2018 oleh Do Kwon dan Daniel Shin, Terra mengandalkan stablecoin algoritmik seperti TerraUSD (UST) yang diklaim mampu mempertahankan nilai setara mata uang fiat tanpa jaminan aset nyata.

Pelajaran Terra LUNA: Risiko Besar di Balik Janji Stablecoin

"Terra pernah disebut “pabrik stablecoin” paling ambisius di dunia kripto. Kini, publik bertanya: apakah teknologi ini benar-benar solusi pembayaran digital atau justru pelajaran mahal tentang risiko algoritma?"

Baca juga:

Gala Poin:
1. Terra menggunakan stablecoin algoritmik tanpa jaminan aset riil.
2. Mekanisme LUNA–UST rentan terhadap death spiral saat krisis kepercayaan.
3. Terra 2.0 mencoba bangkit, tetapi reputasi dan kepercayaan belum sepenuhnya pulih.


Di balik ekosistem ini, LUNA berperan sebagai penyeimbang utama. Token ini digunakan dalam mekanisme mint-and-burn untuk menjaga kestabilan harga stablecoin Terra.

Ketika permintaan UST meningkat, LUNA dibakar; sebaliknya, saat tekanan jual muncul, LUNA dicetak kembali.

Secara teori, mekanisme tersebut menciptakan aset yang bersifat deflasioner. Namun dalam praktiknya, sistem ini sangat bergantung pada kepercayaan pasar.

Ketika kepercayaan runtuh, algoritma justru mempercepat kehancuran melalui death spiral—sebuah siklus di mana pencetakan LUNA secara masif menekan harga hingga tak terkendali.

Kondisi inilah yang terjadi pada 2022, saat pasar kripto memasuki fase bear market dan likuiditas mengering. Tanpa cadangan aset riil, stabilitas UST tidak mampu bertahan.

Baca juga:
GEMAH Pantau Sidang CMNP vs MNC Group

Terra 2.0 dan Realitas Baru
Pasca-krisis, Terra meluncurkan jaringan baru tanpa stablecoin algoritmik. LUNA kini berfungsi sebagai token utilitas dan tata kelola, digunakan untuk staking, voting proposal, dan pembayaran biaya transaksi.

Ekosistem DeFi Terra memang pernah mencatatkan kejayaan dengan total value locked miliaran dolar. Namun, dominasi tersebut memudar seiring runtuhnya kepercayaan investor dan meningkatnya pengawasan regulator global terhadap stablecoin.

Kasus Terra menjadi peringatan keras bahwa inovasi finansial tanpa mitigasi risiko yang memadai dapat berdampak sistemik. Regulasi, transparansi, dan pemahaman publik menjadi kunci agar krisis serupa tidak terulang.

Terra merupakan proyek blockchain yang didirikan pada 2018 dengan visi menciptakan sistem pembayaran digital terdesentralisasi melalui stablecoin algoritmik. Proyek ini dikembangkan oleh Terraform Labs yang dipimpin Do Kwon dan Daniel Shin.

Inti dari ekosistem Terra adalah stablecoin TerraUSD (UST) yang dijaga nilainya melalui mekanisme algoritmik dengan token LUNA sebagai penyeimbang. Sistem ini tidak didukung oleh aset riil, melainkan oleh kepercayaan pasar dan insentif ekonomi.

Masalah muncul ketika pasar kripto memasuki fase penurunan tajam pada 2022. Tekanan jual terhadap UST memicu pencetakan LUNA secara besar-besaran, menciptakan death spiral yang menghancurkan nilai kedua aset tersebut.

Baca juga:
Bantuan Bencana di Aceh Dipastikan Bergerak Sejak Hari Pertama 


Krisis ini tidak hanya merugikan investor ritel, tetapi juga mengguncang kepercayaan terhadap konsep stablecoin algoritmik secara global. Sejumlah regulator kemudian meningkatkan pengawasan terhadap aset kripto, terutama yang berkaitan dengan sistem pembayaran.

Sebagai langkah pemulihan, Terra meluncurkan Terra 2.0 tanpa stablecoin algoritmik. LUNA kini difokuskan sebagai token utilitas dan tata kelola. Namun, reputasi Terra masih menghadapi tantangan besar untuk pulih sepenuhnya.


Terra LUNA dan Stablecoin Algoritmik, Inovasi atau Bom Waktu?
Suka dengan artikel ini, traktir dengan QRIS

 

Kasus Terra menjadi pengingat bahwa inovasi keuangan digital membawa risiko sistemik jika tidak diimbangi dengan transparansi, manajemen risiko, dan literasi publik yang memadai.

 

Baca juga:
Volatilitas Ethereum Tinggi, Masa Depan ETH Bagaimana

"Terra adalah blockchain pembayaran digital berbasis stablecoin algoritmik. Artikel ini membahas cara kerja LUNA, penyebab keruntuhan 2022, serta pelajaran penting bagi industri kripto dan publik."

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Stablecoin #TerraLUNA #EdukasiKripto

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال