Buzzer Jelekkan Demi Duit, Megawati: Pendengung Tak Punya Empati Publik

GalaPos ID, Jakarta.
Buzzer di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, secara terbuka mengkritik keberadaan pendengung yang dinilainya hanya mencari keuntungan finansial tanpa mengedepankan kepentingan masyarakat.

Kisah Tsunami Aceh dan Kritik Megawati terhadap Buzzer
Di tengah sorotan publik, PDI Perjuangan tak hanya menegaskan sikap kritis Ketua Umum Megawati Soekarnoputri terhadap buzzer, tetapi juga menunjukkan aksi konkret melalui Seminar Mitigasi Bencana demi kepentingan masyarakat luas. Foto: Youtube PDI Perjuangan.

"Ketika ruang digital dipenuhi suara bayaran, Megawati Soekarnoputri mempertanyakan: di mana nurani kemanusiaan buzzer yang hanya mencela demi uang?"

Baca juga:

Gala Poin:
1. Megawati menilai buzzer mengabaikan nilai kemanusiaan demi uang
2. Pengalaman tsunami Aceh 2004 dijadikan contoh nyata empati
3. Kritik buzzer disampaikan dalam konteks mitigasi dan kepentingan publik


Pernyataan itu disampaikan Megawati dalam sambutannya pada Seminar Mitigasi Bencana dan Pertolongan Korban di Jakarta International Equestrian Park, Jakarta, Jumat, 19 Desember 2025.

Ia menyinggung pengalaman pribadinya yang kerap menjadi sasaran cercaan buzzer, termasuk saat dirinya turun langsung ke Aceh pascatsunami 2004.

“Peri kemanusiaan kamu itu ke mana? Hanya menjelek-jelekkan orang saja untuk mencari duit,” kata Megawati.

Megawati menceritakan pengalamannya ikut dalam rombongan pencarian korban tsunami Aceh empat hari setelah bencana. Dengan perahu karet, rombongan menemukan seorang korban tersangkut di pohon cemara dan diduga telah meninggal dunia.

“Tentunya kalau sudah menjadi jenazah itu kan mulai membusuk. Itu ternyata katanya sudah empat hari,” kata putri Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

Baca juga:
Bantuan Bencana di Aceh Dipastikan Bergerak Sejak Hari Pertama

Namun, dugaan tersebut keliru. Korban itu ternyata masih hidup setelah bertahan selama empat hari di atas pohon. Kejadian tersebut disebut Megawati sebagai pengalaman kemanusiaan yang membekas dan penuh rasa syukur.

Megawati menegaskan kisah itu merupakan peristiwa nyata yang ia alami sendiri. Ia menolak anggapan bahwa ceritanya direkayasa demi pencitraan.

“Ini enggak ngomong bohong karena sayanya ke situ. Nanti ada aja mungkin buzzer bilang, ‘ah ibu Mega itu sok-sok aja mau cari nama. Tidak,” ucap Megawati.

Ia bahkan mempertanyakan aktor di balik para buzzer yang kerap menyerangnya.

“Kalau ada buzzer yang ngomong gitu, kamu cari buzzer-nya siapa?” kata dia melanjutkan.

Dalam kesempatan itu, Megawati juga menyinggung peran PDIP dalam membangun organisasi sayap di bidang kebencanaan, yakni Badan Penanggulangan Bencana (Baguna).

Megawati: Buzzer Hanya Menjelekkan Orang Demi Duit
Seminar Mitigasi Bencana yang diselenggarakan DPP PDI Perjuangan dan Baguna di Jakarta menjadi langkah strategis memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, sejalan dengan peran aktif partai dalam isu kemanusiaan dan kebencanaan. Foto: bencana Sumatra.

 

Seminar tersebut dihadiri kader dan relawan PDIP sebagai respons atas rangkaian bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat penambahan 19 jiwa korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat hingga Sabtu, 20 Desember 2025. Penambahan kembali korban jiwa tersebut menjadikan total meninggal dunia mencapai 1.090 korban.

Pernyataan Megawati menambah daftar kritik keras terhadap buzzer yang dinilainya telah menggerus nilai kemanusiaan dan mempersempit ruang empati di tengah tragedi kemanusiaan.



Baca juga:
Misteri Penyegelan Kantor Bupati Bekasi oleh KPK Usai OTT

"Megawati Soekarnoputri mengkritik buzzer yang dinilai hanya mencari uang dan mengabaikan nilai kemanusiaan, dengan menyinggung pengalaman nyata saat tsunami Aceh 2004."
 

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Megawati #BuzzerIndonesia #KepentinganPublik

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال