GalaPos ID - Iklan Banner

Novita Hardini Soroti Beban Industri Sulsel: Pajak dan Solar Mencekik

GalaPos ID, Makassar.
Pajak yang dinilai membebani, pendapatan yang menurun, serta pasokan solar yang terbatas dan mahal menjadi tekanan berlapis bagi pelaku industri di Sulawesi Selatan (Sulsel).
Persoalan ini disoroti Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, dalam kunjungan kerja reses Komisi VII DPR RI di Makassar, Jumat, 9 Oktober 2026.

Solar Mahal, Pajak Membebani: Jeritan Industri Sulawesi Selatan
Pajak membebani, solar mahal, pendapatan menurun—pelaku industri di Sulawesi Selatan menghadapi tekanan berlapis. Novita Hardini menyoroti jeritan pengusaha yang kian sulit menaikkan harga di tengah daya beli masyarakat yang terbatas. Ketika biaya terus naik dan konsumen tak bisa dipaksa membayar lebih, siapa yang akan membenahi persoalan ini? Jangan sampai industri diminta tetap berlari, sementara ongkosnya terus mencekik. Foto: istimewa

"Biaya produksi naik, solar sulit, harga jual sulit bergerak. Pengusaha terjepit, konsumen tak bisa dipaksa, sementara solusi masih harus ditunggu. Novita Hardini menyoroti tekanan industri di Sulawesi Selatan. Pertanyaannya sederhana: berapa lama dunia usaha harus bertahan dengan ongkos yang terus membengkak?"

Baca juga:

Gala Poin:
1. Tekanan biaya industri: Beban pajak, penurunan pendapatan, serta keterbatasan dan mahalnya solar menjadi persoalan yang disoroti Novita Hardini dalam kunjungan kerja reses Komisi VII DPR RI di Sulawesi Selatan.
2. Dilema pengusaha dan konsumen: Kenaikan biaya operasional sulit diteruskan ke harga jual karena daya beli masyarakat terbatas, sehingga pelaku usaha menghadapi tekanan untuk mempertahankan keberlangsungan bisnis.
3. Tuntutan tindak lanjut: Komisi VII menyatakan akan membawa aspirasi tersebut ke agenda legislasi, pengawasan, dan penganggaran APBN. Namun, penyebab, skala dampak, serta langkah konkret penyelesaian masih perlu dijelaskan dan diverifikasi.


Dalam pertemuan bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan jajaran kementerian mitra, Novita mengkritisi kondisi dunia usaha yang dinilai semakin sulit bertahan di tengah meningkatnya biaya operasional. Menurut dia, kombinasi beban pajak, penurunan pendapatan, dan persoalan distribusi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar menambah tekanan terhadap keberlangsungan industri.

“Pelaku industri hari ini itu sudah dicekik dari semua sisi, dari pajak, dari pendapatan, cari duit itu katanya sekarang susah sekali,” ujar Novita, dalam keterangan yang diterima Minggu, 11 Oktober 2026.

Persoalan solar menjadi salah satu sorotan utama dalam pembahasan tersebut. Keterbatasan pasokan dan tingginya harga solar di lapangan dinilai menghambat aktivitas usaha, terutama sektor jasa logistik dan industri yang bergantung pada kelancaran rantai pasok manufaktur.

Novita menilai, kenaikan biaya bahan bakar tidak hanya berdampak pada perusahaan transportasi dan logistik, tetapi juga berpotensi menambah beban produksi pabrik yang membutuhkan distribusi bahan baku maupun pengiriman barang.

“Keterbatasan solar ini menjadi hambatan besar bagi pelaku industri karena mahalnya harga solar tentunya makin mencekik, tidak hanya pelaku industri yang melakukan jasa logistik saja tapi juga mereka yang berkaitan dengan pabrik pasok,” lanjutnya.

Baca juga:
AJI-IJTI dan KKJ Desak Kasus Kekerasan Jurnalis Baubau Diusut Tuntas 


Tekanan tersebut memunculkan persoalan yang lebih luas: ketika ongkos produksi dan distribusi meningkat, pelaku usaha tidak serta-merta dapat menaikkan harga jual untuk menutup selisih biaya.

Menurut Novita, kemampuan pelaku industri untuk meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen terbatas oleh daya beli masyarakat. Jika harga produk dinaikkan, permintaan berisiko semakin tertekan. Sebaliknya, apabila harga dipertahankan, margin usaha dapat semakin menyusut.

“(Mereka) tidak bisa menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat kita tidak bisa dipaksa,” tegas Novita.

Situasi ini menjadi perhatian karena tekanan terhadap industri tidak hanya berkaitan dengan kelangsungan perusahaan, tetapi juga berpotensi memengaruhi rantai pasok, kegiatan produksi, dan keberlanjutan aktivitas ekonomi. Namun, besaran dampak terhadap biaya produksi, harga barang, maupun tenaga kerja di Sulsel masih perlu ditopang data dan penjelasan lebih lanjut dari pelaku industri serta instansi terkait.

Biaya Produksi Naik, Harga Sulit Naik: Industri Sulsel Terjepit
Tekanan biaya industri: Beban pajak, penurunan pendapatan, serta keterbatasan dan mahalnya solar menjadi persoalan yang disoroti Novita Hardini dalam kunjungan kerja reses Komisi VII DPR RI di Sulawesi Selatan. Dilema pengusaha dan konsumen: Kenaikan biaya operasional sulit diteruskan ke harga jual karena daya beli masyarakat terbatas, sehingga pelaku usaha menghadapi tekanan untuk mempertahankan keberlangsungan bisnis. Foto: istimewa

Melalui kunjungan kerja reses tersebut, Komisi VII DPR RI menyatakan berkomitmen membawa aspirasi dan temuan lapangan ke dalam agenda legislasi, pengawasan, dan penganggaran APBN. Langkah itu diarahkan untuk mendorong iklim usaha yang adil, sehat, dan berdaya saing, khususnya di kawasan Indonesia Timur.

Meski demikian, persoalan yang disampaikan dalam pertemuan itu membutuhkan tindak lanjut yang terukur. Publik perlu mengetahui bagaimana pemerintah mengevaluasi beban pajak yang dikeluhkan pelaku usaha, apa penyebab keterbatasan pasokan dan mahalnya harga solar, serta langkah konkret yang akan ditempuh untuk mengatasi hambatan distribusi.

Komitmen politik baru akan terasa manfaatnya apabila diikuti kebijakan yang jelas, target penyelesaian yang terukur, dan hasil yang dapat dievaluasi. Bagi industri di Sulawesi Selatan, pertanyaan utamanya bukan sekadar seberapa berat tekanan yang mereka hadapi, melainkan kapan persoalan tersebut ditangani dan siapa yang memastikan solusinya benar-benar berjalan.

 

Baca juga:
Galon Air Minum Bisa Dipakai Berapa Tahun? DPR Desak Aturan Batas Usia

Pajak menekan, solar mahal, pendapatan seret. Industri di Sulawesi Selatan seperti diminta terus berlari sambil memikul beban yang makin berat. Masalahnya, harga jual tak bisa seenaknya dinaikkan karena daya beli masyarakat juga bukan mesin pencetak uang. Lantas, siapa yang akan turun tangan sebelum tekanan ini makin terasa?

#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #NovitaHardini #IndustriSulawesiSelatan #SolarMahal

Lebih baru Lebih lama

Nasional

نموذج الاتصال