GalaPos ID, Yogyakarta.
Perjalanan menuju panggung internasional ternyata tidak hanya membutuhkan bakat dan kreativitas. Bagi sejumlah musisi dari Kepulauan Kei, Maluku, biaya transportasi yang dapat mencapai Rp10 juta hingga Rp11 juta untuk perjalanan menuju Jakarta menjadi salah satu tantangan sebelum karya mereka diperkenalkan kepada dunia.
"Indonesia kaya budaya, tetapi jalan menuju panggung dunia tidak selalu murah. Dari Kepulauan Kei ke Korea Selatan, Eastern Indo Collective membawa musik Indonesia Timur menembus batas geografis. Pertanyaannya, setelah sorotan lampu panggung padam, apakah peluang ekonomi bagi para musisi daerah ikut menyala?"
Baca juga:
- Daun Jadi Motif Kain, Sindikasi Media Network Kenalkan Teknik Ecoprint
- ARTOTEL Wanasaba Resmi Dibuka, Harga Mulai Rp688 Ribu
- Kodaeral I Gandeng Tiga Kajati, Penegakan Hukum Laut Diuji
Gala Poin:
1. Mahal dan terbatasnya akses talenta daerah. Biaya perjalanan dari Kepulauan Kei menuju Jakarta disebut dapat mencapai Rp10 juta–Rp11 juta. Perjalanan laut sekitar lima hari memperlihatkan tantangan geografis dan ekonomi yang dihadapi musisi daerah.
2. EIC membawa musik Indonesia Timur ke panggung internasional. JFlow menggagas kolaborasi penyanyi, penari, dan pelaku budaya. Pertunjukan 25 menit di Incheon dijadwalkan berlangsung pada 7 November 2026.
3. Dukungan swasta penting, tetapi keberlanjutan tetap menjadi ujian. ARTOTEL Group membantu fasilitas latihan dan akomodasi. Tantangan berikutnya adalah memastikan promosi budaya berkembang menjadi peluang kerja, perlindungan hak cipta, dan manfaat ekonomi jangka panjang.
Kondisi tersebut menjadi bagian dari perjalanan From Kei to Korea, sebuah inisiatif Eastern Indo Collective (EIC) yang digagas Joshua Matulessy atau JFlow. Kolektif musik ini dijadwalkan tampil dalam festival musik internasional di Incheon, Korea Selatan, pada 7 November 2026, dengan membawa perpaduan musik modern, tarian, dan identitas budaya Indonesia Timur.
Di balik peluang tampil di panggung internasional, perjalanan EIC memperlihatkan persoalan yang lebih luas: bagaimana talenta dari wilayah kepulauan memperoleh akses, pembiayaan, dan dukungan yang memadai agar tidak tertinggal dari pelaku industri kreatif di pusat-pusat ekonomi nasional.
Anggota EIC dari Kepulauan Kei harus menempuh perjalanan laut sekitar lima hari sebelum melanjutkan perjalanan darat menuju Yogyakarta. Rombongan singgah di sejumlah wilayah, termasuk Banda Neira, Ambon, dan Makassar, sebelum melanjutkan perjalanan ke Surabaya dan Yogyakarta.
Keterbatasan pilihan transportasi membuat mereka harus berangkat lebih awal untuk mengikuti persiapan pertunjukan dan keberangkatan ke Korea Selatan.
Menurut JFlow, biaya perjalanan dari Kepulauan Kei menuju Jakarta dapat mencapai sekitar Rp10 juta hingga Rp11 juta. Angka tersebut menunjukkan bahwa akses menuju industri musik internasional bukan semata-mata persoalan kemampuan artistik, melainkan juga persoalan biaya dan ketersediaan infrastruktur transportasi.
Baca juga:
19 Orang Terseret Kasus Amunisi Ilegal Jayapura, Siapa Berikutnya?
Bagi sebagian anggota, perjalanan ini bahkan menjadi pengalaman pertama naik pesawat, berkunjung ke Jakarta, dan bepergian ke luar negeri.
Situasi itu menempatkan EIC dalam gambaran yang lebih besar mengenai ekonomi kreatif Indonesia. Potensi talenta daerah tidak otomatis berubah menjadi peluang ekonomi ketika akses terhadap fasilitas, jaringan industri, dan pembiayaan masih menjadi tantangan.
Pertanyaan yang patut diajukan bukan hanya seberapa besar bakat musisi Indonesia Timur, tetapi juga sejauh mana ekosistem industri kreatif mampu menyediakan kesempatan yang lebih merata bagi mereka.
JFlow Usung Kolektif Musik Indonesia Timur ke Korea Selatan
EIC dibentuk setelah JFlow mendapat tanggung jawab sebagai anggota ASEAN Korean Music Committee (AKMC), sebuah komite yang menginisiasi pertukaran musik antara negara-negara ASEAN dan Korea Selatan melalui rangkaian festival internasional.
Indonesia sebelumnya menjadi tuan rumah festival tersebut pada 2023 di Ancol, Jakarta. Indonesia juga pernah mengirimkan penyanyi Pamungkas untuk tampil di Manila, Filipina.
Berangkat dari pengalaman tersebut, JFlow mengusulkan pendekatan berbeda untuk penampilan Indonesia di Korea Selatan. Alih-alih hanya mengirimkan satu penyanyi, ia mengajukan konsep kolektif yang mempertemukan sejumlah musisi dan pelaku budaya dari Indonesia Timur.
Konsep tersebut sempat menghadapi tantangan karena penyelenggara pada awalnya mengalokasikan satu slot penampil untuk setiap negara. JFlow kemudian mengusulkan pertunjukan yang melibatkan lebih banyak talenta untuk memperlihatkan keragaman seni dan budaya Indonesia Timur.
Bagi industri ekonomi kreatif, pendekatan kolektif berpotensi memperluas ruang promosi. Musisi, penari, kreator lagu, dan pelaku budaya dapat tampil sebagai bagian dari satu ekosistem, bukan sekadar individu yang berdiri sendiri.
Namun, keberhasilan promosi budaya di panggung internasional tidak cukup diukur dari penampilan selama beberapa menit. Keberlanjutan kesempatan kerja, perluasan jaringan industri, perlindungan hak cipta, dan potensi pendapatan setelah pertunjukan juga menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan.
Salah satu daya tarik EIC adalah rencana mempertemukan empat penyanyi yang dikenal melalui lagu Tabola Bale, yakni Silat Open Up, Juwab Reza, Jackson Seran, dan Diva Awel.
Berdasarkan keterangan dalam wawancara yang menjadi bahan pemberitaan, lagu tersebut telah mencapai sekitar 580 juta penayangan di YouTube. Angka itu merupakan keterangan dalam bahan wawancara dan bukan hasil verifikasi independen dalam penyuntingan ini.
Meski dikenal melalui lagu yang sama, keempat penyanyi tersebut disebut belum pernah tampil bersama dalam satu panggung untuk membawakan Tabola Bale.
Baca juga:
Tito Soroti Anggaran Pemulihan Bencana Sumatera di Bawah 10 Persen
JFlow menjelaskan bahwa upaya mempertemukan mereka sebelumnya belum berhasil menghadirkan seluruh penyanyi secara bersamaan. Penampilan di Incheon dirancang menjadi kesempatan untuk mewujudkan kolaborasi tersebut.
EIC juga berencana melibatkan kreator lagu dan anggota tim dari Kepulauan Kei, Maluku, untuk memperkuat representasi musik dan budaya Indonesia Timur.
Dari sudut pandang ekonomi kreatif, popularitas sebuah lagu dapat menjadi modal promosi untuk memperluas pengenalan terhadap musisi dan budaya asalnya. Akan tetapi, jumlah penayangan digital tidak dengan sendirinya menunjukkan besarnya pendapatan yang diterima pencipta lagu maupun penyanyi.
Transparansi pembagian royalti, pengelolaan hak cipta, serta keberlanjutan peluang kerja menjadi bagian penting agar popularitas musik dapat memberikan manfaat ekonomi kepada para pelakunya.
ARTOTEL Group Mendukung Latihan dan Akomodasi
Persiapan EIC di Yogyakarta mendapat dukungan fasilitas latihan dan akomodasi dari ARTOTEL Group. Chief Operating Officer (COO) ARTOTEL Group, Eduard Rudolf Pangkarego, menilai Indonesia memiliki kekayaan budaya dan potensi sumber daya manusia yang perlu dikembangkan untuk memperkuat diplomasi budaya di tingkat internasional.
Ia juga menilai masyarakat membutuhkan lebih banyak kabar positif dan memandang dukungan terhadap talenta lokal sebagai salah satu cara memperkenalkan kemampuan anak bangsa melalui seni dan budaya.
JFlow menjelaskan, dukungan ARTOTEL Group bermula dari pertemuannya dengan pihak hotel melalui bagian pemasaran. Setelah berdiskusi, komitmen dukungan disepakati dalam waktu relatif singkat, bahkan kurang dari satu minggu.
Awalnya, penggunaan ruang latihan direncanakan hanya untuk waktu terbatas. Namun, setelah melihat keseriusan para anggota yang berlatih hampir sepanjang hari, pihak hotel memberikan keleluasaan penggunaan ruangan selama masa persiapan.
Dukungan tersebut membantu menyatukan para penyanyi dan anggota kolektif yang sebelumnya menghadapi kendala jarak geografis dan kesibukan.
Dari sisi ekonomi, dukungan fasilitas seperti ini dapat mengurangi sebagian beban operasional kelompok seni. Karena itu, kontribusi ARTOTEL Group dapat dicatat sebagai dukungan terhadap persiapan EIC, tetapi belum cukup untuk menggambarkan keseluruhan kebutuhan pendanaan kelompok tersebut.
Baca juga:
Magang Jurnalistik di TVRI Yogyakarta, Hatri: Belajar dari Yogyawarta
EIC merancang pertunjukan selama 25 menit tanpa jeda. Penampilan akan dibuka dengan suara perkusi dan unsur tradisional Indonesia Timur, kemudian berkembang menuju aransemen musik modern yang melibatkan DJ, tarian, dan lagu-lagu populer.
Setiap elemen dirancang saling terhubung agar pertunjukan berlangsung berkesinambungan dari awal hingga akhir.
Menurut JFlow, EIC memperoleh jadwal tampil pada jam utama atau prime time, satu slot sebelum penampilan terakhir dalam festival di Incheon.
Kesempatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan musik Indonesia Timur kepada audiens internasional. Meski demikian, dampak terhadap popularitas, peluang kolaborasi, maupun pendapatan para musisi baru dapat dinilai setelah penampilan berlangsung dan hasilnya diketahui.
Baca juga:
Viral! Operator SPBU Bali Protes ke Wayan Koster saat Diminta Buka 24 Jam
Perjalanan EIC menunjukkan bahwa promosi budaya dan pengembangan ekonomi kreatif membutuhkan lebih dari sekadar panggung. Akses transportasi, fasilitas latihan, pembiayaan, jaringan industri, dan perlindungan hak cipta merupakan bagian dari ekosistem yang menentukan apakah talenta daerah dapat berkembang secara berkelanjutan.
Dukungan perusahaan swasta, seperti fasilitas yang diberikan ARTOTEL Group, dapat membantu menjembatani sebagian kebutuhan tersebut. Namun, kesempatan yang bergantung pada dukungan sesaat belum tentu cukup untuk menjamin keberlanjutan karier para musisi.
Bagi talenta dari wilayah kepulauan seperti Kei, tantangannya bukan hanya berangkat ke Korea Selatan, melainkan juga memperoleh kesempatan berikutnya setelah pertunjukan berakhir.
EIC dijadwalkan tampil pada 7 November 2026 di Incheon, Korea Selatan, bersama perwakilan negara-negara ASEAN lainnya dan Korea Selatan sebagai tuan rumah.
Melalui From Kei to Korea, JFlow dan EIC berupaya menunjukkan bahwa Indonesia Timur memiliki kekayaan budaya dan talenta yang layak memperoleh ruang di panggung dunia. Kini, pekerjaan yang lebih besar adalah memastikan kesempatan tersebut tidak berhenti sebagai cerita inspiratif, tetapi berkembang menjadi akses industri, perlindungan karya, dan peluang ekonomi yang lebih berkelanjutan bagi para pelakunya.
Baca juga:
Hilirisasi Pala Jadi Sorotan Mendes Yandri di TEI 2026
Mau mendunia saja ongkosnya bisa Rp11 juta. Bagi musisi dari Kepulauan Kei, menuju panggung internasional bukan sekadar soal nada yang tepat, tetapi juga soal ongkos perjalanan yang tidak sedikit. JFlow mencoba membuka jalan melalui Eastern Indo Collective, tetapi persoalan akses talenta daerah masih layak mendapat perhatian lebih besar.
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #EkonomiKreatif #MusikIndonesiaTimur #JFlow #EasternIndoCollective #FromKeiToKorea
.jpg)
.jpg)
.jpg)