GalaPos ID, Yogyakarta.
Teknik sederhana memanfaatkan daun dan bunga ternyata dapat menghasilkan motif unik pada kain tanpa menggunakan pewarna sintetis dalam proses pencetakan. Inovasi berbasis alam ini diperkenalkan dalam workshop ecoprint di Wyndham Garden Yogyakarta yang diikuti Sindikasi Media Network (SMN).
"Bukan sulap, bukan sablon: daun dan bunga bisa meninggalkan jejak artistik di atas kain hanya dengan palu kayu. Workshop ecoprint di Yogyakarta membuka peluang ekonomi kreatif, tetapi ada satu hal yang tak boleh luput: motif cantik saja belum cukup untuk membuktikan sebuah produk benar-benar berkelanjutan."
Baca juga:
- 19 Orang Terseret Kasus Amunisi Ilegal Jayapura, Siapa Berikutnya?
- Tito Soroti Anggaran Pemulihan Bencana Sumatera di Bawah 10 Persen
- Magang Jurnalistik di TVRI Yogyakarta, Hatri: Belajar dari Yogyawarta
Gala Poin:
1. Pengenalan teknik ecoprint: Sindikasi Media Network mengikuti workshop di Wyndham Garden Yogyakarta untuk mempelajari teknik pounding yang memindahkan bentuk dan pigmen tumbuhan ke kain.
2. Potensi ekonomi kreatif: Ecoprint dapat diterapkan pada tas, pakaian, aksesori, kain dekoratif, dan cendera mata serta berpotensi dikembangkan sebagai aktivitas wisata berbasis pengalaman.
3. Kualitas dan keberlanjutan perlu diperhatikan: Ketahanan warna, pemilihan bahan, proses produksi, dan pengelolaan limbah tetap penting agar klaim ramah lingkungan tidak berhenti pada penggunaan bahan alami.
Kegiatan tersebut memberikan pengalaman langsung kepada peserta untuk mengenal teknik ecoprint pounding, yakni metode memindahkan bentuk dan pigmen warna tumbuhan ke permukaan kain melalui proses pemukulan menggunakan palu kayu.
Di tengah berkembangnya industri kreatif dan pariwisata berbasis pengalaman, ecoprint menjadi salah satu alternatif kegiatan yang memadukan keterampilan, kreativitas, dan pemanfaatan bahan alam. Namun, hasil yang menarik secara visual tetap membutuhkan ketepatan dalam memilih tumbuhan, menyiapkan kain, serta mengolah dan menjaga ketahanan warna.
Mengenal Teknik Ecoprint Pounding, dari Daun hingga Menjadi Motif Kain
Dalam workshop tersebut, peserta diperkenalkan dengan sejumlah alat dan bahan untuk membuat ecoprint, antara lain kain katun atau kanvas, daun, bunga, palu kayu, plastik pelapis, air, dan tawas.
Pemilihan tumbuhan menjadi salah satu tahapan penting. Daun yang digunakan dianjurkan memiliki kandungan klorofil atau air yang cukup tinggi serta tidak mengandung terlalu banyak getah agar proses pemindahan warna dapat berlangsung dengan baik.
Baca juga:
Viral! Operator SPBU Bali Protes ke Wayan Koster saat Diminta Buka 24 Jam
Proses pembuatan dimulai dengan menyiapkan kain sebagai media cetak. Daun atau bunga kemudian disusun di atas permukaan kain dengan posisi tulang daun menempel langsung pada kain.
Setelah susunan motif selesai, permukaan daun ditutup menggunakan plastik. Peserta kemudian memukul bagian tersebut secara merata menggunakan palu kayu hingga pigmen warna dan bentuk tumbuhan berpindah ke permukaan kain.
Kain selanjutnya didiamkan sekitar 15 menit sebelum memasuki proses pembilasan. Dalam materi workshop, pembilasan dilakukan menggunakan air tawas untuk membantu proses penanganan warna dan membersihkan sisa tumbuhan yang menempel.
Tahap terakhir adalah menjemur kain hingga kering sehingga motif alami yang terbentuk dapat terlihat.
Ecoprint Bisa Menjadi Produk Kreatif, tetapi Ketahanan Warna Tetap Penting
Teknik ecoprint dapat diaplikasikan pada berbagai produk, mulai dari kain dekoratif, tas, aksesori, pakaian, hingga cendera mata. Keunikan teknik ini terletak pada karakter motif yang dihasilkan. Bentuk, tulang daun, dan pigmen setiap tumbuhan dapat menciptakan pola yang berbeda pada kain.
Meski demikian, motif yang menarik belum tentu menjamin kualitas produk dalam jangka panjang. Hasil ecoprint dipengaruhi oleh jenis tumbuhan, karakter kain, teknik pemukulan, serta proses pengolahan dan penguncian warna.
Karena itu, pengembangan ecoprint sebagai produk ekonomi kreatif memerlukan pemahaman teknis yang memadai. Ketahanan warna, konsistensi hasil, dan kualitas bahan menjadi aspek penting apabila produk hendak dipasarkan secara lebih luas.
Aspek tersebut juga penting untuk diperhatikan ketika ecoprint diperkenalkan sebagai produk kerajinan yang mengedepankan pemanfaatan bahan alam. Penggunaan tumbuhan sebagai sumber motif tidak serta-merta menjadi bukti bahwa seluruh proses produksi sudah ramah lingkungan. Penilaian tersebut tetap perlu mempertimbangkan penggunaan bahan tambahan, pengolahan limbah, dan keseluruhan proses produksi.
Baca juga:
Hilirisasi Pala Jadi Sorotan Mendes Yandri di TEI 2026
Workshop Ecoprint Buka Peluang Kolaborasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Partisipasi Sindikasi Media Network dalam workshop ecoprint di Wyndham Garden Yogyakarta menjadi bagian dari pengenalan langsung terhadap aktivitas kreatif yang dapat dikembangkan dalam ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif.
Kegiatan berbasis pengalaman seperti workshop ecoprint berpotensi menjadi alternatif aktivitas bagi wisatawan maupun tamu hotel yang ingin mengenal proses pembuatan kerajinan tekstil secara langsung.
Kolaborasi antara sektor perhotelan, komunitas kreatif, dan pelaku media juga berpotensi memperluas pengenalan produk kerajinan lokal kepada masyarakat. Namun, dampak ekonomi dari kolaborasi semacam ini tetap bergantung pada keberlanjutan program, keterlibatan perajin, kualitas produk, serta akses terhadap pasar.
Melalui kegiatan tersebut, ecoprint diperkenalkan bukan sekadar sebagai teknik menghias kain, melainkan sebagai bentuk kreativitas yang memanfaatkan kekayaan tumbuhan untuk menghasilkan produk tekstil dengan karakter artistik.
Bagi industri kreatif, tantangan berikutnya bukan hanya menghasilkan motif yang indah, tetapi juga memastikan kualitas produk, nilai tambah ekonomi, dan praktik produksi yang bertanggung jawab dapat berjalan beriringan.
Baca juga:
Mendagri Dorong Diskominfo Lebih Profesional dan Responsif
Daun yang biasanya disapu dan dibuang ternyata bisa berubah menjadi motif kain bernilai jual. Sindikasi Media Network menjajal teknik ecoprint di Wyndham Garden Yogyakarta. Namun, benarkah semua yang berbahan alami otomatis ramah lingkungan?
#GalaPosID #MediaPublikasiIndonesia #Ecoprint #EkonomiKreatif #WyndhamGardenYogyakarta #KerajinanLokal #PariwisataYogyakarta
.jpg)
.jpg)
.jpg)